Penyebab Depresi Pada Remaja dan Bagaimana Cara Mendeteksinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 01/07/2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Masa remaja memang terlihat menyenangkan, karena di masa itu tidak perlu memikirkan tagihan, pekerjaan, dan sebagainya. Di masa remaja, mungkin lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekolah dan bermain dengan teman. Namun, tahukah Anda jika remaja justru rentan mengalami depresi? Simak apa saja penyebab, gejala, serta cara mendeteksi depresi pada remaja di bawah ini!

Mengapa remaja mengalami depresi?

Sebagai periode transisi dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa, masa remaja tidak jarang menjadi waktu yang sulit. Dilihat dari sisi psikologi remaja yang belum matang, mereka cenderung memberontak pada apa yang mereka tidak sukai atau setujui –sehingga tidak jarang mengalami gejolak emosi.

Kehidupan sosial, seperti hubungan keluarga, pertemanan, percintaan atau persoalan akademis di sekolah tidak jarang membuat remaja merasa tertekan. Bahkan, hal tersebut dapat menjadi sumber stres ringan remaja –yang jika dibiarkan dapat berlangsung lama dan menyebabkan terjadinya depresi.

Dikutip dari Mayo Clinic, depresi pada remaja dapat terjadi karena berbagai penyebab, biasanya karena adanya pengaruh media sosial, kekhawatiran dengan postur tubuh yang tidak ideal, menjadi korban bullying, atau karena masalah akademis yang menurun.

Beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab depresi pada remaja di antaranya adalah:

  • Faktor genetik
  • Perubahan hormon
  • Faktor biologis, depresi karena faktor biologis terjadi jika neurotransmitter yang merupakan bahan kimia otak alami terganggu
  • Trauma yang terjadi saat masa kanak-kanak, seperti pelecehan fisik atau emosional, kehilangan orangtua
  • Kebiasaan berpikir negatif

Depresi pada remaja laki-laki dan perempuan memengaruhi bagian otak yang berbeda

Depresi memberikan pengaruh yang berbeda pada remaja laki-laki dan permepuan. Salah satu penyebabnya adalah karena perempuan lebih rentan depresi daripada laki-laki.

Penelitian menemukan bahwa remaja perempuan usia 15 tahun lebih cenderung terkena depresi daripada pria karena faktor genetik, fluktuasi hormonal, atau karena keinginan mendapatkan bentuk tubuh yang ideal.

Perbedaan jenis kelamin bukan hanya memberikan pengaruh depresi yang berbeda, tetapi juga pada tingkatan depresi dan dampaknya.

Sebuah studi menemukan bahwa depresi memengaruhi otak remaja laki-laki dan perempuan di bagian yang berbeda.

Hal ini ditunjukkan pada penelitian yang melibatkan 82 remaja perempuan dan 24 remaja laki-laki yang mengalami depresi. Dibandingkan dengan 24 remaja perempuan dan 10 remaja laki-laki kondisi normal yang secara keseluruhan berusia 11 sampai 18 tahun.

Para periset mencoba menggali bagaimana situasi depresi merespon kata-kata bahagia dan sedih yang diberikan, kemudian respon tersebut diukur dengan menggunakan MRI. Lantas, apa yang terjadi pada otak?

Ternyata, remaja laki-laki yang depresi mengalami penurunan aktivitas pada otak kecil, sedangkan hal ini tidak terjadi pada perempuan. Selain itu, terdapat dua bagian otak yang merespon secara berbeda pada remaja yang terkena depresi

Perbedaan aktivitas otak ini terjadi pada gyrus supramarginal dan posterior cingulate. Gyrus supramarginal adalah bagian pada otak yang terlibat dalam persepsi dan pemrosesan bahasa.

Sedangkan posterior cingulate adalah daerah otak yang sensitif dengan rasa sakit dan pengambilan memori episodik. Sayangnya, belum diketahui secara pasti bagaimana dua daerah otak ini berperan dalam terjadinya depresi.

Apa saja ciri remaja mengalami depresi?

Ketika remaja mengalami depresi, ia akan kehilangan motivasi dan semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan terhadap apa yang ia sukai. Mereka juga akan menyendiri, mengurung diri di kamar selama beberapa waktu untuk menenangkan pikiran dan perasaan.

Depresi yang dialami pada remaja juga akan menyebabkan kehilangan nafsu makan, kesulitan tidur, kesulitan konsentrasi, kesulitan mengingat, apatis, merasa sedih, cemas, putus asa, cenderung melakukan hal negatif, bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

1. Membedakan depresi pada remaja dan perasaan sedih biasa

Perasaan sedih, kecewa, atau putus asa adalah hal yang wajar dialami dalam fase perkembangan remaja. Walaupun gejalanya mirip, merasakan hal ini bukan berarti sudah pasti menggalami depresi pada remaja.

Maka dari itu Anda perlu tahu bagaimana cara membedakan antara perasaan sedih dan depresi. Sebagai teman atau orangtua setidaknya harus mengajak mereka berbicara, untuk mengetahui apakah mereka mampu atau tidak mampu dalam mengelola perasaan mereka.

Namun, jika perasaan sedih tersebut berlangsung lama atau mulai mengganggu kehidupan remaja, maka pergi ke dokter merupakan hal yang sangat disarankan. Tentunya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dan penanganan seperti depresi pada remaja yang tepat.

2. Kurang tidur rentan mengalami kecemasan dan depresi

Dampak kurang tidur atau gangguan tidur kronis bisa meningkatkan risiko anak remaja mengalami depresi. Pasalnya, masa-masa remaja pada dasarnya adalah periode rentan bagi anak untuk mengalami isu-isu kesehatan mental jangka panjang.

Apalagi jika ditambah dengan pemenuhan dorongan kebutuhan untuk selalu online di medsos yang sudah lama terkait dengan penurunan tingkat kepercayaan diri, serta peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Tidak hanya itu saja, penggunaan media sosial di kalangan anak-anak dan remaja juga telah dikaitkan oleh banyak penelitian dengan peningkatan tingkat stres psikologis. Semua faktor ini bisa saling berkaitan memicu atau memperparah depresi pada remaja.

Menurut Heather Cleland Woods, kepala penelitian dari University of Glasgow di Skotlandia, meski penggunaan media sosial secara umum berdampak pada kualitas tidur, anak-anak remaja yang suka online larut malam lebih rentan terpengaruh oleh semua risiko kesehatan ini.

Hal ini terutama lebih mungkin berlaku bagi individu yang sangat berdedikasi tinggi mencurahkan dirinya untuk terlibat di dunia maya secara emosional.

Satu studi yang diterbitkan tahun 2015 di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa frekuensi penggunaan media sosial yang terlampau sering pada remaja terkait dengan peningkatan risiko kesehatan mental yang buruk.

Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan American Psychological Association di tahun 2011 menemukan kaitan antara remaja pengguna aktif media sosial dan sifat yang terkait dengan skizofrenia dan depresi.

Tingkat penggunaan media sosial yang lebih tinggi juga meningkatkan risiko remaja untuk menjadi korban cyber-bullying. Keduanya terkait dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi pada anak remaja.

Cara mencegah depresi pada remaja

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah depresi pada remaja adalah sebagai berikut:

  • Jaga hubungan pertemanan. Hubungan pertemanan yang positif dapat membuat remaja percaya diri dan membantunya tetap terhubung dengan lingkungannya.
  • Tetap aktif. Kegiatan sekolah atau pekerjaan atau berolahraga dapat membuat Anda fokus pada hal-hal positif –sehingga menghindari Anda fokus pada hal-hal yang negatif.
  • Berpikir positif. Dengan berfikir positif, remaja akan terhindar dari pikiran negatif yang akan membuatnya sedih atau kecewa. Salah satunya adalah ketika mengalami krisis kepercayaan diri.

Tidak hanya anak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua sebagai tindak pencegahan depresi pada remaja, seperti:

  • Pelajari tentang depresi pada remaja. Langkah pertama adalah dengan mempelajari depresi pada remaja. Hal ini untuk membantu Anda mengetahui tentang tanda atau gejala, pengobatan, dan perawatan anak yang mengalami depresi.
  • Perhatikan tanda atau peringatan. Setelah mengetahui tentang gejala depresi, Anda harus lebih peka terhadap apa yang anak Anda tunjukkan kepada Anda –baik perasaan dan perilakunya. Mengetahui tanda depresi lebih awal dapat mengurangi risiko terjadinya depresi yang lebih buruk.
  • Komunikasi dengan anak. Ketika melihat anak Anda memiliki tanda-tanda depresi, cobalah ajak berkomunikasi untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan dan pikirkan. Hal tersebut membuat anak Anda merasa tidak sendirian dalam mengalami masa-masa sulit.
  • Bantu anak Anda melewati masa-masa sulit. Ketika mengalami depresi, anak Anda akan mengalami beberapa gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, Anda harus membantu melewati masa-masa sulit. Salah satunya dengan membantu anak berperilaku hidup sehat –yang dapat mengurangi depresi.

Ikuti pengobatan dan perawatan dengan teratur. Anda juga harus memastikan anak mengikuti pengobatan dan perawatan dari dokter –termasuk memastikan anak minum obat yang dianjurkan oleh dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Menekuni usaha yang sesuai passion adalah impian sejumlah orang. Namun, jangan sampai lupa waktu. Simak cara menjaga kesehatan untuk pebisnis sekarang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Asuransi, Hidup Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Camilan yang gurih memang menggoda. Namun, sebaiknya mulai ganti camilan Anda dengan kacang almond, terutama untuk penderita hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hipertensi, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit