Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Memanggil "Gendut", Ternyata Bikin Berat Badan Anak Makin Naik

Memanggil "Gendut", Ternyata Bikin Berat Badan Anak Makin Naik

Kebanyakan anak memiliki panggilan unik di rumah. Entah dari orangtua ataupun orang di sekitarnya. Misalnya, memanggil “si gendut” atau “si tembem” pada anak memiliki tubuh gemuk dengan pipi yang tembam. Meskipun terkesan lucu, tahukah Anda jika menyebut anak “si gendut” bisa membuat berat badannya makin naik? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Simak penjelasannya berikut ini.

Menyebut anak “si gendut”, membuat berat badannya terus naik

“Eh si gendut, mau kemana?” Anda mungkin sering mendengar tetangga atau anggota keluarga yang menyebut si kecil dengan panggilan itu. Kelihatan sepele memang, tapi studi terbaru menemukan bahwa hal tersebut berdampak pada kesehatan anak.

Sebuah studi yang dilakukan pada Mei 2019 melaporkan bahwa anak yang memiliki panggilan gendut, gemuk, dan sebagainya cenderung naik berat badannya dengan cepat beberapa tahun ke depan.

Kenapa menyebut anak “gendut” bisa membuat berat badannya tambah naik?

Studi ini mengamati 110 anak-anak dan remaja yang memiliki berat badan berlebihan dan berisiko obesitas.

Kemudian, para peneliti meminta anak tersebut untuk mengisi kuesioner seberapa sering mereka dipanggil gendut atau sebutan lainnya yang berkaitan dengan berat badan.

Hasilnya menunjukkan anak yang kerap dipanggil dengan sebutan gemuk, gendut, atau ungkapan lain terkait berat badan mengalami 33% kenaikan berat badan ketimbang mereka yang tak memiliki sebutan terkait berat badan.

Mereka juga diketahui memiliki kenaikan massa lemak sebesar 91% per tahun.

Peneliti menyimpulkan bahwa meledek atau menyebut anak “gendut”, membuatnya stres.

Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada fisiologi tubuh dan membuat anak melampiaskan perasaan kesal dan marah dengan makan makanan yang tidak sehat.

berat badan anak obesitas

Apa yang harus dilakukan orangtua?

Menyebut dan mengejek anak gendut, gemuk, atau yang berkaitan dengan berat badan lainnya terbukti membawa dampak buruk pada anak.

Bukan hanya berat badannya yang terus naik, panggilan itu juga bisa mematikan kepercayaan diri anak.

Dikutip dari laman Healthy Children, panggilan yang buruk bisa membuat anak merasa terisolasi, malu, dan sedih. Akibatnya, ia akan menarik diri dari kegiatan sekolah maupun lingkungan yang rentan menyebut mereka dengan panggilan yang tidak disukainya.

Untuk mengatasi hal ini, peran orangtua sangat dibutuhkan. Berikut beberapa tips untuk menghadapi anak yang mendapat panggilan gendut.

1. Bertanya pada anak

“Sangat penting untuk bertanya pada anak, apakah ia mengalami ejekan apa pun, termasuk terkait berat badan di sekolah maupun lingkungan,” ujar Natasha Schvey, PhD, seorang dosen psikologi di Uniformed Services University di Washington.

Tekankan pada anak bahwa mereka tidak pantas diolok-olok atau menerima panggilan yang buruk. Entah itu berat badan, warna kulit, atau kekurangan lainnya.

Mengetahui anak Anda mengalami ejekan semacam ini atau tidak bisa membuat Anda lebih paham untuk mencari cara membantu anak Anda lepas dari masalah ini.

2. Ajari anak untuk menghadapi orang yang menyebut “gendut”

Orangtua tidak selalu bisa menghindari anak dari ejekan tersebut 24 jam. Jadi, mengajari anak untuk menghadapinya adalah cara terbaik.

Ketika anak dipanggil dengan sebutan yang tidak baik itu, minta anak untuk tetap tenang dan tidak perlu memedulikannya.

Beri pemahaman bahwa jika anak menunjukkan reaksi marah, cemas, atau menangis, orang-orang akan semakin mengejeknya. Bahkan, ejekan bisa jadi lebih buruk dari sebelumnya.

Yakinkan bahwa ejekan dari orang-orang itu tidak akan berarti apa-apa karena anak Anda tetap bisa melakukan hal-hal yang baik.

3. Bicarakan langsung dengan orang yang menyebut anak gendut

Jika Anda mendapati kejadian tersebut di depan mata, Anda perlu mengambil tindakan. Bicarakan pada orang yang menyebut anak Anda gendut atau ejekan lainnya bahwa sikapnya itu tak baik dan berdampak buruk pada emosional anak.

Cobalah untuk membicarakan dengan tenang dan pilih kata-kata tepat supaya bisa diterima dengan baik.

4. Pastikan anak menerapkan pola hidup yang sehat

Selain mengatasi anak dari panggilan “gendut”, Anda juga perlu membuat anak menjalani pola hidup yang lebih sehat. Selain terhindar dari orang-orang yang akan menyebut anak Anda gendut, menjaga pola hidup sehat juga akan menjauhkan anak dari berbagai risiko penyakit, seperti obesitas.

Perhatikan pilihan dan porsi makanan yang dikonsumsi anak. Kemudian, terapkan kebiasaan makan yang baik, seperti makan sesuai waktunya, tidak langsung tidur setelah makan, dan makan dengan tenang. Selain itu, tingkatkan aktivitas fisik anak dengan mengajaknya olahraga.

Bila Anda mengalami kesulitan untuk menurunkan berat badan anak, jangan sungkan untuk konsultasi pada dokter atau ahli gizi anak.

Sumber foto: Sunlight Phamacy.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Health Line. Children Who Are Teased About Their Weight Are Likely To Gain More.  Accessed on July 24th, 2019.

Healthy Children. Weight-based Teasing and Bullying in Children: How Parents Can Help. Accessed on July 24th, 2019.

Schvey, N., Marwitz, S., Mi, S., Galescu, O., Broadney, M., Young‐Hyman, D., Brady, S., Reynolds, J., Tanofsky‐Kraff, M., Yanovski, S. and Yanovski, J. (2019). Weight‐based teasing is associated with gain in BMI and fat mass among children and adolescents at‐risk for obesity: A longitudinal studyPediatric Obesity, p.e12538.

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 29/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus