Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Hal yang Perlu Ortu Lakukan Jika Anak Di-Bully di Sekolah

5 Hal yang Perlu Ortu Lakukan Jika Anak Di-Bully di Sekolah

Tidak ada orangtua yang membayangkan jika suatu hari putra dan putrinya akan menjadi seorang korban bully. Bullying, juga dikenal dengan istilah perisakan, memang masih menjadi PR besar bagi pihak sekolah, orangtua, dan terutama anak-anak itu sendiri. Lalu apa yang bisa orangtua lakukan bila anak ternyata menjadi korban bully? Berikut tips-tipsnya.

Cara membantu anak yang jadi korban bully di sekolah

1. Buat anak merasa aman dan nyaman di rumah

Yang pertama kali harus Anda lakukan adalah membuat anak merasa aman dan nyaman bersama Anda di rumah. Pasalnya, di sekolah atau lingkungan pergaulannya, anak sudah merasa terancam dan ketakutan.

Karena itu, pastikan bahwa kondisi di rumah cukup tenang, mendukung, dan aman buat anak. Ketika anak bercerita soal pengalamannya jadi korban bully, dengarkan dengan tenang dan sabar. Jangan memburu-buru atau memotong ceritanya supaya ia merasa cukup aman untuk memberi tahu Anda.

Anda juga harus meyakinkan si kecil bahwa Anda akan selalu ada untuk mendukungnya menghadapi masalah ini. Sampaikan juga padanya bahwa Anda tidak marah atau kecewa padanya, bahwa anak tidak salah. Yang salah hanyalah si bully alias pelaku.

2. Beri tahu pihak sekolah

Besar kemungkinan bullying terjadi di sekolah. Jika memang demikian, segera bicarakan masalah ini dengan pihak sekolah seperti guru atau konselor. Sering kali, kasus bullying tidak diketahui oleh pihak sekolah karena anak-anak baru akan bertindak saat tidak ada guru di sekitarnya.

3. Bantu anak cari solusi bersama-sama

Anak korban bully biasanya merasa tidak berdaya, putus asa, dan ketakutan. Karena itu, penting bagi Anda untuk memberdayakan anak untuk mencari jalan keluarnya masalahnya sendiri. Kemampuan pemecahan masalah akan sangat berguna, bahkan sampai anak dewasa nanti. Masalahnya, kasus bullying biasanya terjadi ketika anak hanya sendirian, tanpa orangtua atau guru.

Misalnya anak bercerita bahwa setiap hari bekalnya selalu diambil oleh pelaku perisakan. Pancing anak dengan bertanya, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan supaya dia berhenti mengambil makananmu?”. Nah, di sini jawaban anak bisa bermacam-macam dan mungkin mengagetkan Anda. Tetaplah tenang dan arahkan anak untuk mencari solusi.

Contohnya dengan berkata, “Memangnya kalau kamu mendorong dia sampai jatuh, apakah menurutmu besoknya dia bakal berhenti mengganggu dan mengambil bekalmu?”. Dengan begitu, anak pun akan terlatih untuk memikirkan konsekuensi dari setiap tindakan dan perkataannya secara matang.

Pastikan bahwa anak merasa solusi tersebut datang dari dirinya sendiri, bukan didikte oleh kedua orangtuanya.

4. Melatih reaksi anak

Menghadapi tukang bully memang tidak gampang. Anak tidak boleh bereaksi berlebihan sehingga semakin menyulut emosi pelaku, tetapi diam saja juga tidak akan mengubah keadaan.

Lalu apa yang harus dilakukan anak? Balas pelaku dengan kata-kata yang singkat, tegas, dan jelas. Misalnya, “Berhenti mengejek aku,”, “Diam,” atau, “Nggak lucu,” kemudian langsung tinggalkan pelaku. Kalau kebetulan anak tidak bisa pergi ke mana-mana, cukup jauhi pelaku dan jangan menggubrisnya lagi.

Ingatkan anak untuk tidak bereaksi dengan kekerasan atau kata-kata kasar karena situasinya bisa berbalik 180 derajat. Jika anak sudah tidak bisa menghadapinya lagi, cari bantuan orang dewasa.

Anda harus terus mengingatkan anak pentingnya bereaksi dengan tepat ketika menghadapi bully.

5. Lapor ke pihak berwajib kalau kasusnya sudah parah

Dalam kasus tertentu, anak mungkin menjadi korban bully yang cukup parah. Sebagai contoh, pelaku menggunakan ancaman kekerasan, pelecehan seksual, atau bahkan sudah melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Ini sudah bukan ranahnya pihak sekolah atau antarorangtua, melainkan harus ditindak lewat jalur hukum.

Akan tetapi, alangkah baiknya bila Anda memberi tahu pihak sekolah dulu sebelum melaporkan pelaku. Pihak sekolah mungkin menawarkan untuk melakukan mediasi, tetapi dalam kasus yang sudah disebutkan di atas, Anda tetap harus lapor ke kepolisian demi melindungi anak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Helping Kids Deal with Bullies. http://kidshealth.org/en/parents/bullies.html#kha_31. Diakses 12 Oktober 2017.

My Child is Being Bullied – What Should I Do? https://www.empoweringparents.com/article/my-child-is-being-bullied-what-should-i-do/. Diakses 12 Oktober 2017.

Child and Teen Bullying: How to Help When Your Kid is Being Bullied. https://www.empoweringparents.com/article/child-and-teen-bullying-how-to-help-when-your-kid-is-bullied/. Diakses 12 Oktober 2017.  


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 16/08/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team
x