Bagaimana Mengatasi Trauma pada Anak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Trauma pada anak bukan sesuatu yang mudah untuk diatasi. Anak yang pernah mengalami trauma harus diperhatikan secara khusus agar trauma yang ia rasakan tidak terjadi secara berkelanjutan. Hal ini bisa saja terjadi karena trauma pada anak dapat mengganggu perkembangannya, yang kemudian bisa terbawa sampai ia dewasa.

Trauma pada anak bisa didapatkan dalam bentuk trauma fisik dan psikologis, di mana trauma psikologis menyangkut pengalaman emosional yang menyakitkan, mengejutkan, menegangkan, bahkan terkadang mengancam jiwa si anak. Pengalaman ini bisa terjadi pada saat bencana alam, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan terorisme.

Apa akibat trauma pada anak?

Anak yang pernah mengalami trauma harus mendapat perhatian lebih karena trauma yang terjadi pada usia anak dapat mempengaruhi perkembangannya. Hal ini bisa terjadi karena anak mengalami banyak perkembangan, terutama perkembangan otaknya. Dan trauma yang terjadi pada masa ini – bisa didapatkan dari pengabaian orangtua, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan emosional – dapat mempengaruhi perkembangan normal otak anak, termasuk pada ukuran bagian otak anak yang membantu mengontrol reaksi anak terhadap bahaya.

Pada masa usia anak sekolah, trauma dapat menunda kemampuan anak untuk bereaksi terhadap bahaya, seperti refleks kejut. Perubahan biologis yang terjadi dalam tubuh akibat trauma dapat mempengaruhi cara anak dan remaja menanggapi bahaya dan tekanan masa depan dalam hidup mereka, dan juga dapat berpengaruh pada kesehatan jangka panjang.

Tidak hanya berdampak secara biologis, trauma juga dapat berdampak pada emosional anak karena pada masa ini pula emosional anak sedang dalam tahap perkembangan. Masa anak adalah masa di mana anak sedang belajar mengenali emosi dan menangani emosi mereka dengan bantuan orangtua maupun pengasuh. Dan ketika trauma terjadi pada masa ini, maka anak akan sulit mengenali emosi mereka. Ini dapat membuat anak menunjukkan emosinya secara berlebihan. Anak juga lebih cenderung untuk menyembunyikan perasaan mereka.

Bagaimana cara mengatasi trauma pada anak?

Reaksi anak terhadap trauma dapat ditunjukkan secara langsung maupun nanti, dan tingkat keparahan dari trauma ini pun bisa berbeda antar anak. Anak-anak yang sudah mempunyai masalah kesehatan mental, pernah mengalami trauma di masa lalu, mempunyai dukungan yang sedikit dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat menunjukkan reaksi yang lebih terhadap trauma.

Tanda trauma yang ditunjukkan anak pun bisa berbeda-beda tergantung dari usia anak. Anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami trauma akan menunjukkan tanda seperti ketakutan, terus “menempel” pada orangtua, menangis atau berteriak, merengek atau gemetar, diam saja, dan menjadi takut akan gelap.

Sedangkan, anak usia 6-11 tahun akan menunjukkan tanda seperti mengisolasi diri, menjadi sangat pendiam, mengalami mimpi buruk atau masalah tidur, tidak ingin tidur, mudah marah dan bisa berlebihan, tidak mampu berkonsentrasi di sekolah, mengajak teman berkelahi, dan kehilangan minatnya untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Untuk mengatasi trauma pada anak ini, Anda sebagai orangtua dapat melakukan sesuatu, sebagai berikut:

  • Melakukan hal-hal rutin keluarga bersama

    Seperti makan bersama, nonton tv bersama, dan pergi tidur. Lakukan kegiatan sehari-hari ini seperti biasa. Hal ini memungkinkan anak merasa lebih aman dan terkontrol. Biarkan anak tinggal dengan orang yang akrab atau dekat dengannya, seperti orangtua dan keluarga.

  • Anak butuh perhatian khusus dari orangtua

    Sesudah mengalami trauma, anak cenderung lebih tergantung pada orangtua, terutama ibu, sehingga Anda sebagai ibu harus menyediakan waktu Anda untuk anak. Beri anak pelukan agar ia merasa lebih aman dan nyaman. Jika mereka takut tidur, Anda dapat menyalakan lampu kamar anak atau biarkan anak tidur dengan Anda. Wajar bila anak ingin selalu dekat dengan Anda sepanjang waktunya.

  • Menjauhkan hal-hal yang berhubungan dengan penyebab trauma anak

    Seperti tidak menonton tayangan bencana, jika anak mengalami trauma karena bencana. Hal ini hanya akan membuat trauma anak lebih buruk, anak dapat mengingat kembali apa yang terjadi, membuat anak takut dan stres.

  • Pahami reaksi anak terhadap trauma

    Reaksi anak terhadap trauma berbeda-beda, bagaimana Anda memahami dan menerima reaksi anak ini dapat membantu anak pulih dari trauma. Anak mungkin dapat bereaksi dengan cara sangat sedih dan marah, tidak dapat berbicara, dan mungkin ada yang berperilaku seolah-olah tidak pernah terjadi hal menyakitkan terhadap dirinya. Beri anak pengertian bahwa perasaan sedih dan kecewa merupakan perasaan yang wajar mereka rasakan saat ini.

  • Berbicara pada anak

    Dengarkan cerita anak dan pahami perasaan mereka, beri jawaban yang jujur dan mudah dimengerti anak jika ia bertanya. Jika anak terus bertanya pertanyaan yang sama, artinya ia sedang kebingungan dan sedang mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Gunakan kata-kata yang membuat anak nyaman, bukan menggunakan kata-kata yang dapat membuat anak takut. Bantu anak dalam mengutarakan apa yang mereka rasakan dengan baik.

  • Dukung anak dan beri ia rasa nyaman

    Anak sangat membutuhkan Anda pada saat ini, temani ia setiap saat ia membutuhkan Anda. Beri keyakinan pada anak bahwa ia bisa melewati hal ini dan juga katakan bahwa Anda sangat menyayanginya.

BACA JUGA

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    5 Mitos Keliru Tentang Orang Introvert

    Semua orang introvert adalah pemalu — dan semua orang pemalu adalah introvert. Benarkah?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

    Ini 4 Gaya Pengasuhan Orangtua pada Anak yang Perlu Diketahui

    Gaya pengasuhan orangtua bisa menentukan karakter anak saat ia dewasa kelak. Agar tak salah pilih, berikut penjelasan tiap gaya parenting.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 7 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

    Penting! Ini 5 Manfaat Baca Buku untuk Tumbuh Kembang Anak

    Membaca merupakan kegiatan posistif bagi siapa pun, termasuk anak-anak. Apa saja manfaat baca buku untuk anak? Cari tahu jawabannya berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

    5 Cara Jitu Menghilangkan Trauma yang Bisa Anda Coba

    Anda tentu tidak mau terjebak pada trauma akibat kejadian di masa lampau. Oleh sebab itu, cari tahu cara menghilangkan trauma berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 1 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    anak cengeng

    7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
    Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

    Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
    mata kelilipan

    Tidak Boleh Sembarangan, Ini Cara Mengatasi Mata Kelilipan yang Benar

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit