×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:

Perkembangan Setiap Minggu

Kepala Bayi Jenong, Normal Atau Tidak dan Apa Penyebabnya?

Oleh Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Anda mungkin sering melihat bayi yang dahinya jenong. Lama-kelamaan jenong itu menghilang atau juga bisa menetap sampai bayi tumbuh dewasa. Banyak juga orang yang bilang bahwa bayi jenong merupakan tanda bayi pintar. Apakah ini benar? Sebenarnya apa yang menyebabkan bayi jenong?

Apakah bayi jenong menandakan bayi pintar?

Banyak orang beranggapan bayi jenong memiliki IQ tinggi dan akan menjadi orang pintar. Tak heran, banyak orangtua yang senang jika anaknya memiliki dahi yang jenong. Mereka beranggapan, semakin besar dahi maka semakin besar ukuran otaknya sehingga akan semakin pintar. Namun, apakah benar ukuran dahi berhubungan dengan kepintaran anak?

Sebenarnya, ukuran dahi tidak ada hubungannya dengan tingkat kepintaran bayi. Kepintaran bayi lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan otak bayi dan bagaimana otak bayi diasah. Pertumbuhan otak, terutama di satu tahun pertama kehidupan bayi bisa menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kepintaran.

Pertumbuhan otak bayi ini bisa digambarkan melalui ukuran kepala bayi. Ukuran kepala bayi yang besar cenderung memiliki otak yang besar, yang kemudian akan memengaruhi kepintaran bayi. Hal ini pun telah dibuktikan oleh penelitian dalam jurnal Pediatrics, yang menunjukkan bahwa anak usia 4 dan 8 tahun dengan ukuran kepala lebih besar dari anak lainnya cenderung memiliki nilai IQ yang lebih tinggi, dikutip dari WebMD.

Namun, tentu tak hanya ukuran otak atau ukuran kepala bayi yang besar yang bisa menentukan seberapa pintar bayi Anda. Ingat, masih banyak faktor lain yang memengaruhi kepintaran bayi Anda. Salah satunya yaitu faktor hubungan antara anak dan orangtua.

Normalkah bila kepala bayi jenong?

Sebenarnya bentuk kepala bayi masih bisa berubah-ubah sampai terbentuk tulang tengkorak yang kokoh. Saat masih bayi, tulang tengkorak masih akan terus bertumbuh. Inilah mengapa Anda akan merasa dahi si kecil sangat maju pada saat ia bayi, namun lama-kelamaan jenongnya menjadi kurang tampak.

Jadi, belum tentu dahi jenong adalah hal yang tidak normal dan belum tentu ini merupakan tanda dari kecacatan fisik bayi. Dahi jenong bisa jadi karena turunan dari ibu atau ayahnya yang mempunyai ukuran dahi yang lebih lebar.

Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, dahi jenong bisa dikaitkan dengan masalah serius yang terjadi dalam tengkorak bayi. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengikuti perkembangan lingkar kepala bayi. Apakah lingkar kepala bayi Anda tumbuh sesuai dengan garis pertumbuhan yang normal setiap bulan sejak lahir? Jika memang ada masalah dengan perkembangannya, segera konsultasikan dengan dokter. 

lingkar kepala bayi

Penyebab dahi jenong yang tidak normal

Jika pertumbuhan lingkar kepala bayi terjadi sangat cepat, bisa jadi ini mungkin disebabkan oleh adanya masalah terkait otak. Namun, sekali lagi hal ini sangat  jarang terjadi. Berikut ini adalah beberapa masalah terkait otak bayi yang membuat ukuran dahi tidak normal.

  • Akromegali, penyakit kronis yang disebabkan oleh terlalu banyak hormon pertumbuhan yang diproduksi, sehingga menyebabkan tulang di wajah, tangan, kaki, dan tengkorak lebih besar.
  • Sifilis kongenital, disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang menginfeksi ibu saat hamil.
  • Disostosis kleidokranial, yaitu kelainan yang menyebabkan perkembangan tulang tengkorak dan klavikula menjadi tidak normal.
  • Hurler syndrome, yaitu penyakit metabolisme yang membuat seseorang tidak bisa memecah glikosaminoglikan (molekul gula rantai panjang).
  • Pfeiffer syndrome, merupakan kelainan genetik yang ditandai dengan penggabungan dini tulang tengkorak tertentu, sehingga mencegah tengkorak tumbuh normal dan memengaruhi bentuk kepala dan wajah.
  • Rubinstein-Taybi syndrome, merupakan penyakit genetik yang membuat seseorang berperawakan pendek, mempunyai ciri wajah yang khas, dan mengalami cacat intelektual. 

Baca Juga:

Sumber
×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We’re excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca