Berapa Berat Badan Ideal untuk Bayi Usia 0-12 Bulan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Berat badan bayi menjadi salah satu faktor penting bagi tumbuh kembangnyaJika berat bayi kurang atau malah berlebih, ini bisa menandakan adanya masalah. Lantas, apa saja faktor yang memengaruhi berat badan bayi, dan berapa berat badan ideal bagi bayi pada tahun pertama kelahirannya?

Pentingnya mengetahui berat badan bayi

Sumber: Mumsnet

Mengetahui berat badan bayi bukan hanya menunjukkan seberapa sehat si kecil. Ini juga akan membantu memberi gambaran pada dokter mengenai kondisi kesehatan buah hati Anda.

Berat badan yang rendah pada bayi dapat menandakan adanya masalah kesehatan, seperti kurang gizi dan lainnya. Kurangnya berat badan dapat memengaruhi tumbuh kembang si kecil, hingga berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuhnya.

Sedangkan berat badan yang berlebih pada bayi, mengharuskannya untuk mendapatkan perhatian medis guna memantau agar kadar gula darah tetap dalam kisaran normal.

Itulah salah satu alasan mengapa Anda dianjurkan untuk menjaga berat badan tetap normal selama masa kehamilan. Sebab bukan hanya untuk kesehatan Anda, tapi juga bagi si kecil nantinya.

Berat badan ideal bagi bayi 0-12 bulan

bayi memahami kata

Ketika berat badan bayi normal, tentu tidak ada yang perlu Anda khawatirkan. Sebaliknya, saat berat badannya cenderung kurang atau berlebih, dapat menjadi pertandanya kemungkinan ada masalah pada tumbuh kembangnya.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui apakah berat badan buah hati Anda saat ini sudah merasa di “jalur” yang benar. Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, berikut patokan berat badan yang ideal untuk bayi sampai usia 12 bulan atau 1 tahun:

Bayi baru lahir

Bayi yang baru lahir akan langsung diukur berat serta tinggi badannya. Hal ini bertujuan guna mengetahui apakah kondisi berat dan tinggi badan bayi berada di kisaran normal, kurang, atau berlebih.

Berat bayi laki-laki tergolong normal saat berada di rentang 2.500 gram (gr) atau 2,5 kilogram (kg) sampai 4.400 gr atau 4,4 kg. Sementara untuk bayi perempuan, berat badan baru lahir yang normal seharusnya 2,4-4,2 kg.

Bayi baru lahir dikatakan besar apabila berat badannya berada di atas 4.000 gr atau 4 kg, dan kecil saat berat badannya di bawah 2.500 gr atau 2,5 kg.

Berat badan yang tergolong kecil tersebut menandakan bahwa bayi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR). Namun, hasil pengukuran ini hanya berlaku untuk bayi yang lahir di usia kehamilan normal atau di usia kehamilan 37-40 minggu.

Sedangkan untuk bayi yang lahir prematur atau kurang dari usia kehamilan normal, berat badannya memang akan cenderung rendah atau di bawah 2,5 kg.

Bayi usia 1-3 bulan

Di beberapa bulan pertama usianya, kenaikan berat badan bayi biasanya tampak cukup pesat. Sekitar usia 4 minggu atau 1 bulan pertama, berat badan bayi laki-laki berkisar antara 3,4-5,8 kg, dan bayi perempuan 3,2-5,5 kg.

Memasuki bulan kedua atau 8 minggu, berat badan si kecil yang berjenis kelamin laki-laki sekitar 4,3 kg-7,1 kg dan perempuan yakni 3,9-6,6 kg. Hingga di bulan ketiga alias 12 minggu, berat badan bayi laki-laki normalnya berada di rentang 5,0-8,0 kg dan 4,5-7,5 kg untuk perempuan.

Bayi usia 4-6 bulan

Tiba di bulan keempat atau 16 minggu, buah hati laki-laki Anda seharusnya memiliki berat badan di kisaran 5,6-8,7 kg, dan perempuan 5,0-8,2. Begitu pula berat badan di bulan kelima dan keenam yang masih akan terus bertambah.

Pada bulan kelima atau 20 minggu, berat badan bayi laki-laki yakni 6,0-9,3 dan perempuan 5,4-8,8 kg. Sedangkan memasuki sekitar bulan keenam atau 24 minggu, bayi laki-laki Anda normalnya memiliki bobot 6,4-9,8 kg dan 5,7-9,3 kg untuk perempuan.

Bayi usia 7-9 bulan

Sekarang, usia si kecil sudah memasuki 7 bulan atau 28 minggu. Idealnya, berat badannya seharusnya sudah berada di angka 6,7-10,3 kg untuk laki-laki dan 6,0-9,8 untuk perempuan.

Selanjutnya di usia bulan kedelapan atau 32 minggu, berat badan bayi laki-laki normalnya sekitar 6,9-10,7 kg dan bayi perempuan 6,3-10,2 kg. Hingga tiba di usia bulan kesembilan atau 36 minggu, bayi laki-laki Anda seharusnya berbobot 7,1-11,0 kg dan bayi perempuan 6,5-10,5 kg.

Bayi usia 10-12 bulan

Genap di usia 10 bulan atau 40 minggu, berat badan bayi laki-laki idealnya berkisar 7,4-11,4 kg dan perempuan 6,7-10,9 kg. Selanjutnya di usia 11 bulan atau 44 minggu, bobot bayi laki-laki seharusnya ada di kisaran 7,6-11,7 kg dan 6,9-11,2 kg untuk bayi perempuan.

Sampai tiba di usia 12 bulan atau 48 minggu, buah hati laki-laki Anda normalnya memiliki berat badan di rentang 7,7-12,0 kg dan bayi perempuan 7,0-11,5 kg.

Faktor yang berpengaruh pada berat badan bayi

bayi asi eksklusif

Sebelum mengetahui berapa berat badan bayi ideal, ada baiknya untuk mengetahui faktor apa saja yang bisa memengaruhinya. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi berat badan bayi dan perkembangannya, yakni:

1. Usia kandungan

Bayi prematur yang lahir terlalu dini sebelum usia kehamilan 37 minggu umumnya memiliki berat badan yang kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir tepat pada waktunya. Sebab normalnya, bayi akan lahir pada rentang usia kehamilan 38-40 minggu. 

Karena lahir lebih awal dari perkiraan tanggal kelahiran, berat badan bayi prematur cenderung di bawah berat badan bayi normal pada umumnya. Artinya, kurang dari 2,5 kilogram (kg) atau 2500 gram (gr).

2. Jenis kelamin bayi

Bayi laki-laki pada umumnya memiliki berat badan yang lebih besar daripada perempuan. Bayi laki-laki juga melalui perkembangan yang lebih pesat dari bayi perempuan.

3. Kondisi kesehatan ibu saat hamil

Jika ibu sering sakit ketika mengandung, berat badan bayi bisa saja lebih rendah. Bahkan, berat badan bayi bisa berada di bawah batas normal, dibandingkan ibu mengandung yang kondisinya sehat.

Selain itu, kondisi kesehatan tertentu yang dialami ibu selama hamil juga dapat memengaruhi berat badan bayi. Misalnya diabetes gestasional, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga obesitas.

4. Kecukupan gizi ibu saat hamil

Asupan makanan selama hamil dapat turut menjadi faktor pendukung berat badan yang ideal bagi bayi. Ibu yang asupan zat gizinya terpenuhi dengan baik selama kehamilan, cenderung memiliki bayi dengan berat badan yang lebih ideal.

Sementara ibu yang asupan zat gizinya kurang tercukupi, bisa membuat berat badan si kecil lebih rendah ketimbang bayi pada umumnya.

5. Kondisi kesehatan bayi saat lahir

Misalnya, bayi yang mengalami sakit bawaan, seperti penyakit jantung bawaan saat lahir, akan memengaruhi berat lahirnya. Bukan itu saja, memiliki cacat lahir dan mengalami infeksi selama kehamilan juga dapat membuat berat badan bayi rendah.

6. Jumlah bayi di dalam kandungan

Jumlah bayi yang berada di kandungan ibu akan memengaruhi berat badannya kelak. Biasanya, semakin banyak jumlah bayi kembar, akan semakin banyak pula nutrisi makanan yang harus ibu bagi rata ke semua bayinya.

Ini akan memengaruhi berat lahir anak kembarnyaItu sebabnya, ibu yang sedang hamil kembar umumnya disarankan untuk makan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan ibu yang hanya mengandung satu bayi.

7. Gaya hidup selama hamil

Kebiasaan merokok, minum alkohol, serta konsumsi obat-obatan tertentu dapat memengaruhi berat si kecil nantinya.

Cara menghitung berat badan bayi yang ideal

Sumber: Parents

Selama kanak-kanak, termasuk di awal kehidupannya, tumbuh kembang buah hati Anda sedang berlangsung sangat pesat. Jika biasanya pada orang dewasa digunakan pengukuran indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui apakah berat dan tinggi badannya sudah sesuai, berbeda dengan anak-anak.

Pengukuran tersebut, yang juga melibatkan tinggi badan, nantinya akan membantu menentukan seberapa baik status gizi si kecil. Ini karena anak-anak masih akan terus mengalami perubahan dalam hal tinggi dan berat badannya.

Jadi, perhitungan menggunakan IMT dinilai kurang akurat untuk mengetahui status gizi anak, sehingga diperlukan indikator lainnya. Nah, ada beberapa cara pengukuran untuk mengetahui status gizi anak, termasuk berat badannya,

Namun, biasanya pengukuran ini dibagi menjadi dua cara sesuai dengan usia buah hati Anda, yakni usia 0-5 tahun dan 5-18 tahun. Untuk mengukur berat badan bayi, yang notabene masih berada di usia kurang dari 5 tahun, digunakan grafik WHO 2006 (cut off z score).

Berikut cara mengukur berat badan menggunakan grafik WHO 2006:

1. Berat badan berdasarkan usia (BB/U)

Indikator pengukuran berat badan menurut usia lebih ditujukan untuk anak di rentang umur 0-60 bulan. Dalam hal ini, termasuk mengukur berat badan bayi kurang dari 1 tahun atau 12 bulan.

Dengan menggunakan indikator pengukuran BB/U, Anda bisa mencari tahu apakah si kecil mungkin memiliki berat badan normal, lebih, kurang, atau sangat kurang.

Hasil penilaian berat badan bayi berdasarkan BB/U, yaitu:

  • Berat badan normal: ≥-2 SD sampai 3 SD
  • Berat badan kurang: <-2 SD sampai -3 SD
  • Berat badan sangat kurang: <-3 SD

Hanya saja, indikator pengukuran yang satu ini sulit digunakan atau bahkan tidak bisa dipakai bila usia bayi tidak diketahui.

2. Berat badan berdasarkan tinggi badan (BB/PB)

Sama seperti berat badan menurut usia (BB/U), berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB) juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah bobot badan bayi sudah ideal atau belum.

Pengukuran ini biasanya dipakai apabila usia bayi tidak diketahui. Hasil penilaian berat badan bayi berdasarkan BB/PB, yaitu:

  • Sangat gemuk: >3 SD
  • Gemuk: >2 SD sampai dengan 3 SD
  • Normal: -2 SD sampai dengan 2 SDGemuk: >2 SD sampai dengan 3 SD
  • Kurus (wasting): -3 SD sampai dengan <-2 SD

Tahapan pengukuran berat badan yang ideal untuk bayi

Untuk mengetahui berapa berat badan bayi yang sehat, Anda bisa melakukannya sendiri di rumah dengan menggunakan timbangan dan meteran khusus bayi untuk mengukur panjang dan berat badannya.

Langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil angka yang tertera di alat dengan grafik pertumbuhan panjang dan berat bayi normal berdasarkan usia si kecil. Grafik pertumbuhan di bawah ini merupakan standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang juga dipakai sebagai acuan dokter di Indonesia.

Tabel perkembangan berat badan normal bayi laki-laki

Tabel perkembangan berat badan normal bayi perempuan

Sumber: WHO dan Kementerian Kesehatan RI

Tabel di atas merupakan rentang pengukuran antara -2 SD sampai 3 SD dari standar pertumbuhan WHO untuk indeks berat badan menurut umur pada bayi perempuan dan laki-laki. Untuk mengetahui apakah bobot badan bayi Anda sudah ideal atau belum, Anda bisa membandingkan hasil pengukuran berat dan tinggi badan.

Apabila hasilnya masih berada dalam rentang sesuai usianya, artinya pertumbuhan si kecil termasuk dalam kategori normal. Sementara jika bobot badan bayi berada di luar dari rentang normal, ada baiknya untuk berkonsultasi ke dokter mengenai tumbuh kembang anak Anda.

Terlepas dari itu, orangtua disarankan untuk selalu rutin berkonsultasi ke dokter anak atau mengikuti kegiatan posyandu yang biasa dilakukan di puskemas terdekat untuk memastikan pertumbuhan si kecil benar-benar sudah mengikuti “jalur” perkembangan yang baik.

Cara menjaga dan meningkatkan berat badan bayi

menyusui saat liburan

Kabar baik jika berat badan buah hati Anda sudah berada di rentang yang ideal. Sementara jika masih berada kurang dari berat badan yang dianjurkan, Anda perlu membantu si kecil untuk meningkatkannya.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan agar berat badan bayi senantiasa bertambah sebagaimana mestinya:

1. Memberikan ASI eksklusif

Sejak dilahirkan atau beberapa hari pertama kehidupan, biasanya bayi baru lahir akan mengalami penurunan berat badan. Namun normalnya, pemberian ASI yang cukup akan membantu meningkatkan berat badan bayi hingga berada di kisaran yang seharusnya.

Jika yang terjadi justru sebaliknya atau berat badan bayi tidak kunjung bertambah, kemungkinan besar merupakan tanda adanya masalah. Dalam hal ini segera konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Agar tumbuh kembang bayi bisa berjalan dengan baik, Anda harus selalu memenuhi kebutuhan asupan zat gizinya. Salah satu cara untuk menjaga dan meningkatkan berat badan bayi yang baru lahir yakni dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.

Pemberian ASI secara eksklusif memang pilihan setiap ibu. Akan tetapi, ASI eksklusif yang diberikan sejak bayi lahir hingga minimal 6 bulan setelahnya merupakan upaya yang penting untuk mendukung tumbuh kembang sang bayi.

Ini karena ASI merupakan satu-satunya makanan sekaligus minuman yang terbaik bagi bayi selama usianya masih kurang dari 6 bulan. Menariknya lagi, menyusui ASI eksklusif juga dapat membantu mencegah kenaikan berat badan berlebih pada bayi.

Agar lebih optimal, Anda perlu menerapkan jadwal menyusui ASI eksklusif. Biasanya, jadwal dan frekuensi menyusui bayi bisa bervariasi tergantung usianya.

Di usia 1 bulan, frekuensi menyusu bayi mungkin sekitar 8-12 kali dalam sehari. Di usia 2 bulan, biasanya menjadi 7-9 kali per hari. Di bulan ketiga sampai kelima, bayi bisa menyusu sekitar 7-8 kali sehari, 4-6 kali saat usianya menginjak 6 bulan.

2. Menyusui secara bergantian pada kedua payudara

Setiap kali menyusui ASI, biasakan untuk selalu menawarkan bayi menyusu dari kedua sisi payudara. Pastikan juga si kecil telah selesai menyusu pada satu sisi payudara, sebelum akhirnya Anda memberikan sisi payudara yang lain.

Cara ini akan membantu si kecil mendapatkan asupan ASI beserta zat gizi di dalamnya yang lebih optimal. Selain itu, produksi ASI pada payudara Anda juga akan semakin banyak karena semakin sering dikeluarkan.

Sebab setiap kali Anda menyusui, payudara mengirim sinyal ke otak untuk memperbanyak produksinya guna memenuhi kebutuhan bayi.

Sebaliknya, semakin jarang Anda menyusui, payudara menganggap bahwa jumlah ASI yang dibutuhkan bayi tidak begitu banyak. Jadi perlahan-lahan, produksi ASI pada payudara otomatis akan semakin berkurang.

3. Memberikan asupan MPASI yang sehat

Setelah bayi genap berusia 6 bulan, kebutuhan zat gizi bayi akan terus bertambah. Di usia yang baru ini, pemberian ASI saja sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian bayi.

Itulah mengapa pemberian ASI eksklusif hanya dapat dilakukan sampai usia bayi 6 bulan. Setelahnya, bayi tetap bisa mendapatkan ASI, tetapi perlu dibarengi dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

Untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang terus bertambah ini, Anda bisa memberikan MPASI  yang mengandung gizi seimbang meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral. Jangan lupa juga lengkapi imunisasi dan vitamin untuk si kecil guna mencegah berbagai penyakit di kemudian hari.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca