Bolehkah Bayi dan Anak Minum Jamu?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Minum jamu sudah menjadi tradisi dan kebiasaan yang melekat dalam keluarga Indonesia. Tak jarang orangtua akan memberikan jamu yang juga dikenal sebagai obat tradisional saat anaknya sakit, tidak nafsu makan, atau sekadar untuk menjaga daya tahan tubuh. Manjurnya jamu dalam menjaga kesehatan anak Indonesia sudah dipercaya sejak ratusan tahun lalu. Hingga kini, jamu pun masih menjadi andalan orangtua. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada tahun 2010, 96% orang yang minum jamu menyatakan bahwa mereka merasakan langsung khasiat jamu. Namun, bolehkah anak minum jamu? Bagaimana dengan bayi?

Banyak orangtua merasa ragu untuk memberikan jamu untuk anak, terutama yang masih berusia di bawah tiga tahun (batita). Untuk menjawab kekhawatiran Anda, simak informasi lengkap yang telah dihimpun khusus untuk Anda dan keluarga berikut ini.

Kapan anak boleh mulai minum jamu?

Jamu adalah ramuan herbal yang dibuat dari berbagai bahan-bahan alami. Bahan tersebut diperoleh dari macam-macam bagian tanaman seperti daun, akar, buah, batang, umbi, atau bunga. Jamu tidak menggunakan bahan-bahan kimia tambahan seperti paracetamol, pengawet, perisa buatan, atau zat aditif lainnya. Maka, pada dasarnya jamu aman untuk dikonsumsi siapa pun.

Namun, menurut dr. Aldrin Nelwan Sp.AK., MARS., M.Kes., M.Biomed, Kepala Unit Pengobatan Integratif Rumah Sakit Kanker Darmais Jakarta, sebaiknya bayi yang masih menyusui secara eksklusif tidak diberikan jamu terlebih dahulu. Jika bayi sudah lepas dari masa pemberian ASI eksklusif, yaitu kira-kira usia 6 bulan, Anda bisa mulai memberikan jamu.

BACA JUGA: Mulai Umur Berapa Anak Boleh Minum Kopi?

Dosis jamu yang aman untuk anak

Meskipun jamu terbuat dari bahan alami, bukan berarti jamu bisa dikonsumsi tanpa mengindahkan dosis tertentu. Mengonsumsi terlalu banyak bahan tertentu juga berisiko menimbulkan efek samping, terutama bagi anak yang lebih rentan daripada orang dewasa. Perhatikan jika Anda membeli jamu jadi yang tersedia di pasaran (dengan label JAMU, OBAT HERBAL TERSTANDAR, atau FITOFARMAKA pada kemasannya). Biasanya pada produk-produk yang telah terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ada informasi soal dosis yang dianjurkan untuk bayi, anak, dan orang dewasa.

Namun, apabila tidak tercantum atau jika Anda meracik jamu sendiri di rumah, sesuaikan dosisnya dengan usia anak. Dilansir dari Tabloid NOVA, Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Kementerian Kesehatan Drs. Ketut Ristiasa, Apt. menganjurkan bahwa anak di bawah usia 12 tahun hanya membutuhkan setengah dari dosis orang dewasa. Sementara untuk anak di bawah usia lima tahun (balita), sebaiknya berikan seperempat dosis orang dewasa.

Yang harus diperhatikan sebelum anak minum jamu

Jamu yang Anda berikan untuk bayi dan anak harus betul-betul diperhatikan komposisi dan penggunaannya. Pasalnya, jamu bisa diberikan dalam bentuk minuman, obat luar, atau suplemen. Selain itu, Anda juga harus menjaga kebersihan dan penyimpanannya. Cuci bersih tangan Anda sebelum meracik, menyeduh, atau mengoleskan produk-produk jamu pada bayi dan Anak. Pastikan juga bahwa jamu disimpan dalam suhu ruangan, dalam botol kaca atau plastik yang aman untuk makanan, dan tidak disimpan terlalu lama.

BACA JUGA: 10 Makanan yang Tidak Mudah Basi

Anak atau bayi juga sebaiknya tidak minum jamu bersamaan dengan obat. Jika anak memang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya hindari dulu minum jamu. Akan tetapi, anak masih boleh minum obat yang diresepkan dokter sambil tubuhnya dibalur dengan jamu berupa minyak gosok karena fungsi jamu di sini adalah sebagai obat luar. Kalau sakit yang dikeluhkan anak tak kunjung membaik dalam waktu dua hari, sebaiknya segera periksa ke dokter. Hindari juga memberikan jamu secara eksklusif kalau penyakit yang diderita bayi atau anak cukup serius, misalnya demam tinggi karena infeksi bakteri, virus, atau kuman.

Khasiat jamu untuk anak

Jamu menawarkan segudang manfaat untuk si kecil. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, jamu juga ampuh untuk meningkatkan nafsu makan, meredakan gejala penyakit tertentu seperti diare dan influenza, serta meringankan rasa sakit karena gigi mau tumbuh. Membiasakan anak minum jamu juga baik untuk mencegah ketergantungan terhadap obat-obatan farmasi atau resistensi antibiotik. Berikut adalah beberapa contoh bahan alami yang berkhasiat untuk bayi dan anak.

Jahe

Khasiat jahe untuk kesehatan sudah dikenal secara luas. Jahe bisa membantu mengusir masuk angin, perut kembung, dan berbagai masalah pencernaan yang diderita anak. Jika anak Anda kurang suka dengan rasanya yang tajam, Anda bisa mencampurkan jahe ke dalam teh atau sup.

Kunyit

Kalau anak menderita diare, campurkan kunyit dengan sari daun jambu biji muda dan berikan 2 kali sehari. Selain meredakan diare, parutan kunyit juga bisa membantu mengobati ruam popok pada bayi. Oleskan parutan kunyit secukupnya pada area yang kena ruam dan diamkan selama beberapa jam.

BACA JUGA: 7 Alasan Kenapa Wanita yang Sedang Haid Perlu Minum Kunyit

Temulawak

Untuk menghadapi anak yang tidak nafsu makan, campurkan temulawak dengan setengah cangkir air hangat dan madu. Berikan dua hari sekali atau sesuai kebutuhan anak. Suplemen dengan kandungan temulawak juga sekarang sudah banyak beredar. Selalu perhatikan dosis yang tercantum pada kemasan.

Kencur

Kencur telah terbukti ampuh untuk meredakan batuk berdahak pada anak. Sajikan kencur, madu, dan jeruk nipis yang dicampur dalam air hangat dua sampai tiga kali sehari. Anda juga bisa menambahkan air rebusan daun belimbing wuluh agar efeknya semakin cepat terasa.

Share now :

Direview tanggal: Desember 10, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 7, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca