Aturan Aman Dalam Memberikan dan Menerima Donor ASI untuk Bayi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Air susu ibu atau ASI adalah makanan dengan kandungan zat gizi yang paling lengkap untuk bayi, setidaknya sampai usianya mencapai enam bulan. Sayangnya, tidak semua bayi yang baru lahir memiliki kesempatan untuk menyusui dan mendapat ASI secara langsung dari ibunya karena berbagai faktor tertentu. Sementara di sisi lain, ada ibu menyusui dengan produksi ASI berlimpah, yang bisa melebihi persediaan untuk bayinnya. Itulah mengapa akhirnya muncul tren yang dikenal dengan nama donor ASI untuk bayi. 

Nah, sebelum Anda memberikan maupun menerima donor, sebaiknya simak dulu berbagai hal yang perlu Anda ketahui seputar donor ASI.

Apakah donor ASI itu aman?

cara memanaskan ASI cara menghangatkan ASI

Bagi ibu menyusui yang mengalami satu dan lain hal sehingga tidak bisa memberikan ASI pada bayi, biasanya diperbolehkan untuk melakukan donor ASI. ASI yang diberikan nantinya pada bayi ini tidak didapatkan dari ibu kandungnya, melainkan dari ibu menyusui lain.

Mengutip dari laman Info Datin yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, bayi usia kurang dari 6 bulan yang tidak bisa mendapatkan ASI, diupayakan agar bisa memperoleh bantuan ASI. Bantuan tersebut bisa diperoleh dari donor ASI, tapi dengan beberapa syarat.

Meliputi adanya permintaan donor ASI dari ibu kandung atau keluarga bayi, identitas ibu menyusui yang mendonorkan ASI diketahui dengan jelas, serta persetujuan dari pendonor. Tak lupa, pendonor ASI juga harus dalam kondisi sehat tanpa adanya indikasi medis apa pun, dan ASI yang telah didonorkan tidak untuk diperjual belikan.

Pada dasarnya, ASI yang didonorkan aman untuk bayi. Dengan catatan, ASI yang diberikan tersebut telah melalui serangkaian proses pemeriksaan (skrining) untuk memastikan kebersihan dan keamanannya.

ASI yang telah didonorkan biasanya juga dipasteurisasi untuk menghilangkan organisme penyebab infeksi yang bisa hadir di dalam ASI. Bahkan, ibu menyusui yang mendonorkan ASI juga biasanya akan melewati tahap tes penyakit terlebih dahulu.

Donor ASI bisa dikatakan aman ketika sudah melalui serangkaian proses pemeriksaan. Sementara untuk pemberian ASI yang tidak melalui tahap pemeriksaan, alias diberikan langsung begitu saja, tidak dianjurkan oleh Food and Drug Administration (FDA).

Ini karena ASI yang didapatkan langsung tanpa melalui pemeriksaan memiliki risiko kesehatan bagi bayi yang menerimanya. Sayangnya, masi ada ibu yang kurang mengetahui tentang pentingnya skrining atau pemeriksaan sebelum donor ASI.

Biaya yang tidak sedikit juga kadang menjadi alasan mengapa ibu calon pendonor atau penerima ASI ragu untuk melakukan skrining ASI. Akan tetapi, pemeriksaan ASI sangat dianjurkan untuk dilakukan agar ASI yang diterima bayi nantinya benar-benar terjamin kesehatan dan keamanannya.

Bagaimana tahapan donor ASI?

medical checkup

Donor ASI tidak boleh dilakukan sembarangan, karena berisiko membahayakan bayi yang mendapatkan ASI. Itu sebabnya, untuk meminimalisir risiko buruk dari donor ASI untuk bayi, setiap ibu yang melakukan donor ASI diharuskan lolos dalam dua tahap pemeriksaan.

Seleksi pertama

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh seorang calon pendonor ASI:

  • Memiliki bayi yang berusia kurang dari 6 bulan dan sedang menyusuinya.
  • Sehat jasmani dan rohani.
  • Ibu tidak memiliki kontra indikasi menyusui (misalnya karena penyakit atau infeksi tertentu).
  • Pasokan ASI yang dimiliki untuk bayinya sendiri sudah tercukupi, dan memutuskan untuk mendonorkan ASI karena produksinya yang berlebih.
  • Tidak ada riwayat transfusi darah atau tranplantasi (cangkok) organ atau jaringan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
  • Tidak sedang rutin minum obat, termasuk mendapatkan insulin, hormon tiroid, maupun penanganan lainnya yang ditakutkan dapat berpengaruh pada bayi. Obat atau suplemen yang bersifat herbal harus dinilai terlebih dahulu mengenai keamanan penggunaannya terhadap ASI.
  • Tidak merokok, minum alkohol, atau menggunakan obat-obatan terlarang yang bisa memengaruhi bayi.
  • Tidak memiliki riwayat penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, dan HTLV2. 
  • Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi HIV, HTLV2, hepatitis B, hepatitis C, CMV, dan sifilis. 
  • Tidak memiliki pasangan seksual yang merupakan pengidap hemofilia dan sedang rutin menerima transfusi darah, konsumsi obat-obatan terlarang, perokok, atau minum alkohol.
  • Sudah dinyatakan bersih dari HIV, hepatitis B, hepatitis C, CMV, dan sifilis melalui tes.

Selain itu, pastikan juga kondisi payudara ibu menyusui yang akan mendonorkan ASI dalam keadaan sehat, serta tidak ada mastitis maupun infeksi lain yang rentan menular.

Seleksi kedua

Setelah lolos pada seleksi donor ASI pertama, ada beberapa persyaratan lain dalam seleksi kedua yang juga harus dipenuhi oleh ibu menyusui sebagai calon pendonor.

  • Jika donor ASI akan diberikan pada bayi prematur, calon pendonor harus melakukan pemeriksaan hepatitis B, hepatitis C, CMV (cytomegalovirus), dan sifilis.
  • Jika ada keraguan terhadap status kesehatan pendonor ASI, tes bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Setelah calon pendonor ASI lolos semua tahapan, maka calon pendonor ASI perlu menjalankan prosedur memberikan ASI. Di antaranya menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dan alat pompa ASI hingga bersih. serta menggunakan wadah ASI perah selain plastik.

Pasalnya, wadah plastik berisiko robek, bocor, hingga menyebabkan masuknya kontaminasi. Sebagai gantinya, Anda bisa menggunakan botol atau kantung penampung ASI. 

Prosedur tersebut bukan hanya berlaku bagi pendonor ASI, tapi juga bagi ibu yang bayinya mendapatkan donor ASI. Dalam hal ini, ibu yang bayinya mendapatkan donor harus harus memastikan donor ASI telah bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi alias pemanasan.

Tips untuk ibu yang bayinya mendapatkan ASI

cara menyimpan ASI

Sebelum memberikannya pada bayi, ibu perlu memastikan donor ASI tersebut dalam kondisi bersih dan sehat. Maka itu, ibu dianjurkan untuk melakukan prosedur pasteurisasi ASI.

Pasteurisasi dilakukan untuk menghilangkan bakteri sekaligus mempertahankan sebagian besar gizi yang bermanfaat dalam susu. Berikut dua metode yang bisa diterapkan:

Pasteurisasi pretoria

Pasteurisasi pretoria adalah metode pasteurisasi dengan merendam botol ASI ke dalam air mendidih selama sekitar 20-30 menit. Begini tahapan pasteurisasi pretoria:

  1. Masukkan sekitar 50-150 mililiter (ml) ASI donor ke dalam wadah kaca berukuran 450 ml.
  2. Tutup wadah kaca sampai rapat, kemudian letakkan di dalam panci aluminium yang bisa menampung sekitar 1 liter air.
  3. Tuangkan sekitar 450 ml air mendidih, atau hingga permukaan air mencapai 2 sentimeter (cm) dari bagian atas panci.
  4. Setelah selesai, lalu pindahkan ASI, dinginkan, dan berikan langsung pada bayi atau simpan di dalam lemari es (kulkas).

Flash heating

Flash heating adalah metode pasteurisasi dengan cara merendam botol ASI ke dalam bak yang berisi air, di dalam suhu 100 derajat Celsius selama 5 menit. Begini tahapan flash heating:

  1. Masuk sekitar 50-150 ml ASI ke dalam wadah kaca berukuran 450 ml.
  2. Tutup wadah kaca sampai menjelang melakukan flash heating.
  3. Buka tutup wadah kaca saat melakukan flash heating, dan letakkan wadah dalam 1 liter hart port (pemanas susu).
  4. Masukkan sekitar 450 ml air, atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bagian atas bibir panci.
  5. Didihkan air sampai muncul gelembung, kemudian pindahkan wadah ASI dengan cepat.
  6. Sebelum memberikannya pada bayi atau menyimpannya di dalam kulkas, sebaiknya dinginkan donor ASI terlebih dahulu.

Jangan lupa, ibu yang bayinya mendapatkan donor ASI juga harus memerhatikan cara menyimpan ASI, beserta lama waktunya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca