×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:

6 Mitos Ibu Menyusui yang Anda Yakini Ini Ternyata Salah Besar

Oleh Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Menjadi ibu merupakan sebuah anugerah yang luar biasa bagi seorang wanita. Setiap ibu akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam urusan memberikan ASI. Nah, biasanya ketika menyusui Anda akan mendengar banyak sekali saran atau mitos seputar kelancaran ASI. Sayangnya, tidak semua saran atau mitos ibu menyusui yang Anda dengar sudah terbukti benar. Apa saja mitos yang justru salah besar soal ASI? 

Berbagai mitos ibu menyusui yang harus Anda tinggalkan

1. Jangan bangunkan bayi untuk memberikan ASI

Sebagian besar waktu bayi digunakan untuk tertidur, sementara setiap dua setengah sampai tiga jam ia akan merasa lapar. Saat merasa lapar, bayi akan menyusui dengan bersemangat hingga kenyang dan membuatnya tertidur lebih lama.

Tidak apa-apa membiarkan bayi tertidur lebih lama, namun ibu harus tetap memperhatikan jadwal bayi menyusui. Atur waktu kapan saja bayi harus menyusui. Saat bayi masih tertidur dan tiba jadwalnya menyusui, maka bangunkan bayi demi memenuhi kebutuhan gizinya.

2. Setelah menyusui, ibu harus menunggu sampai payudaranya terisi kembali sebelum memberikan ASI lagi

Faktanya, ibu menyusui secara otomatis akan selalu menghasilkan ASI. Sebagian ibu memang dapat menghasilkan ASI yang lebih banyak daripada yang lain. Namun, semakin kosong payudara karena bayi sudah makan, maka semakin cepat tubuh menghasilkan  ASI kembali.

Sementara saat payudara terisi ASI sampai penuh, maka produksi ASI akan melambat dengan sendirinya. Jika seorang ibu selalu menunggu sampai payudaranya terasa penuh ASI sebelum menyusui anaknya, tubuhnya akan secara otomatis memberikan pesan untuk memperlambat produksi sehingga produksi ASI akan berkurang.

3. Ibu juga harus minum susu supaya bisa menghasilkan susu

Faktanya, beberapa jenis makanan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan protein merupakan nutrisi yang dibutuhkan ibu untuk menghasilkan ASI. Untuk mencukupi kebutuhan kalsium, ibu tidak harus minum susu karena sumber kalsium juga bisa didapatkan dari ikan teri, sayuran hijau dan kacang-kacangan. Jadi, jangan terlalu percaya mitos ibu menyusui yang satu ini.

4. Bayi yang minum ASI berisiko obesitas

Ini adalah salah satu mitos ibu menyusui yang paling banyak dipercaya. Penelitian justru membuktikan bahwa bayi yang mendapatkan ASI dapat mengontrol pola makannya dan asupan yang cukup untuk dirinya. Justru susu formula dan pengenalan makanan padat terlalu dini, serta tidak tercukupinya ASI dapat meningkatkan risiko obesitas di kemudian hari.

5. Jika ibu sedang sakit, maka harus berhenti memberikan ASI

Nah, kalau ibu sedang sakit, tubuh ibu menyusui akan mengasilkan antibodi untuk melawan kumannya. Antibodi ini juga terkandung dalam ASI sehingga akan memberikan perlindungan kepada bayi dari kuman dan bakteri. Maka saat bayi sakit, penanganan terbaik adalah tetap menyusui hingga tubuh bayi menghasilkan antibodi untuk melawan kumannya.

Sedangkan kalau ibu menyusui harus minum obat, ibu harus berkonsultasi dulu dengan dokter. Masalahnya, beberapa jenis obat yang dikonsumsi ibu menyusui bisa tercampur juga ke dalam ASI. Namun, tidak semua obat akan tercampur, kok. Makanya penting untuk selalu cek dulu ke dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun saat hamil.

6. Beberapa bayi alergi pada ASI

Faktanya, ASI merupakan zat yang paling alami untuk dikonsumsi oleh bayi. Jika bayi menunjukkan reaksi alergi, pada dasarnya hal itu disebabkan adanya protein asing yang terkandung di dalam ASI, bukan pada susunya itu sendiri.

Cara terbaik apabila hal tersebut terjadi adalah dengan menghindari makanan yang mengandung protein tersebut sehingga ASI bisa dikonsumsi oleh bayi.

Baca Juga:

Sumber
×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We’re excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca