Ciri-ciri Keracunan Zat Besi (Awas, Bisa Berakibat Fatal!)

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Zat besi merupakan salah satu zat gizi penting yang terlibat dalam proses metabolisme dan membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke organ-organ dan jaringan tubuh. Jika Anda tidak mencukupi asupan zat besi harian, maka Anda akan mudah merasa lelah dan jatuh sakit. Namun, keracunan zat besi bisa saja terjadi ketika zat besi menumpuk terlalu banyak di dalam tubuh — baik disengaja maupun tidak. Keracunan zat besi merupakan kondisi darurat medis dan sangat berbahaya, terutama pada anak-anak. Efek toksiknya akan bertambah buruk seiring waktu dan dapat berujung kematian.

Apa penyebab keracunan zat besi?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan keracunan zat besi, di antaranya;

1. Overdosis

Keracunan zat besi akut biasanya terjadi akibat overdosis yang tidak disengaja. Sebagian besar kasus ini terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun, karena mereka secara tidak sengaja mengonsumsi suplemen zat besi atau multivitamin dewasa.

2. Kelebihan kadar zat besi

Kelebihan jumlah zat besi dalam tubuh juga dikenal sebagai keracunan zat besi kronis. Penyebabnya meliputi transfusi darah berulang untuk mengobati anemia, terapi zat besi yang berlebihan (baik secara intravena atau dengan suplemen), dan penyakit hati seperti hepatitis C kronis atau hepatitis alkoholik.

3. Faktor genetik

Kadar zat besi yang berlebihan bisa terjadi secara alami karena penyakit tertentu. Salah satu contohnya yaitu hematokromatosis herediter, yang merupakan kondisi genetik yang menyebabkan proses penyerapan zat besi dari makanan secara tidak wajar.

Gejala keracunan zat besi berdasarkan tahapan waktu

Keracunan zat besi biasanya akan menimbulkan gejala dalam waktu 6 jam setelah overdosis dan dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh yang berbeda, seperti saluran pernapasan, paru-paru, lambung, usus, jantung, darah, hati, kulit, dan sistem saraf.

Gejalanya dapat dibagi menjadi lima tahap:

1. Tahap 1 (0-6 jam)

Gejala dapat termasuk muntah, diare, nyeri perut, gelisah, dan rasa kantuk. Dalam kasus yang serius mungkin akan menyebabkan napas cepat, jantung berdebar, pingsan, kejang, dan tekanan darah rendah.

2. Tahap 2 (6-48 jam)

Gejala umum dari tahap pertama akan semakin bertambah parah.

3. Tahap 3 (12-48 jam)

Gejala lanjutan yang mungkin terjadi yaitu syok, demam, perdarahan, ikterus (perubahan warna kulit/ bagian putih menjadi kuning), gagal hati, kelebihan asam dalam darah, dan kejang.

4. Tahap 4 (2-5 hari)

Gejala dapat meliputi gagal hati, perdarahan, kelainan pembekuan darah, masalah pernapasan, hingga bahkan kematian. Gejala lainnya yang mungkin terjadi termasuk penurunan kadar gula darah, penurunan kesadaran, atau koma.

5. Tahap 5 (2-5 minggu)

Pembentukan jaringan parut pada lambung atau usus, sehingga menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan, perut kram, nyeri, dan muntah-muntah.

Bagaimana dokter mendiagnosis keracunan zat besi?

Diagnosis dan pengobatan dini sangatlah penting. Tes darah dan urin, termasuk tes untuk memeriksa kadar zat besi harus dilakukan dengan cepat agar dapat memberikan hasil yang tepat. Diagnosis keracunan zat besi biasanya didasarkan pada riwayat kesehatan, gejala saat ini, kadar keasaman dalam darah, dan kadar jumlah zat besi dalam tubuh seseorang.

Agar dokter dapat menetapkan diagnosis, Anda perlu memberi tahu dokter tentang obat dan suplemen apa saja yang sedang Anda konsumsi saat ini, termasuk obat nonresep, suplemen herbal, dan vitamin. Sebisa mungkin terbukalah hingga sedetil mungkin dengan dokter mengenai apa yang Anda konsumsi. Beberapa suplemen, misalnya suplemen vitamin C, dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Pil atau suplemen yang menyebabkan keracunan zat besi terkadang juga dapat terlihat dengan pemeriksaan rontgen.

Bagaimana cara menangani keracunan zat besi?

Tahap pertolongan pertama keracunan zat besi yaitu dengan menstabilkan kondisi tubuh, termasuk masalah pernapasan dan tekanan darah. Penanganan selanjutnya bergantung pada tingkat keparahan gejala, misalnya dokter dapat melakukan pembersihan saluran pencernaan dengan cara irigasi untuk membuang kelebihan zat besi secepat mungkin sehingga mengurangi efek toksik pada tubuh.

Keracunan yang lebih berat memerlukan terapi kelasi besi lewat infus. Terapi kelasi besi menggunakan zat kimia yang dapat mengikat zat besi dalam sel dan membuangnya dari tubuh melalui urin.

Jika Anda mencurigai anak Anda secara tidak sengaja menelan suplemen zat besi, segera hubungi dokter atau bawa anak Anda ke instalasi gawat darurat.

Yang bisa dilakukan untuk mencegah keracunan zat besi

Anda dapat mencegah terjadinya keracunan zat besi pada anak Anda dengan cara menyimpan obat atau suplemen zat besi di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak Anda dan juga beritahu anak Anda bahwa obat atau suplemen yang tidak diketahui bukanlah permen dan dapat berbahaya bagi tubuhnya.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Salah satu masalah orang thalasemia adalah masalah gizi. Apa saja pilihan nutrisi dan makanan untuk penderita thalasemia?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Memahami Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang Belakang (BMT)

Transplantasi sumsum tulang belakang (BMT) adalah prosedur penggantian sumsum tulang yang rusak dengan yang sehat. Bagaimana melakukannya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 22 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Yang Harus Anda Lakukan Ketika Tabung Gas Kompor Rumah Bocor

Tabung gas bocor tidak hanya rentan menyulut kebakaran, namun juga sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh ketika terhirup. Seperti apa ciri tabung gas bocor?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Pengobatan yang Bisa Dilakukan untuk Thalasemia?

Meski tak ada obat untuk menyembuhkan, ada beberapa pilihan pengobatan thalasemia standar, seperti transfusi darah atau transplantasi sumsum tulang.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Transfusi Darah

Menyoal Transfusi Darah: Kapan Harus Dilakukan, Manfaat, dan Efek Samping

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 8 menit
setelah donor darah

Serba-serbi Donor Darah: Prosedur, Persyaratan, dan Hal yang Harus Diperhatikan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 7 menit
penyebab trombosit turun dan cara menaikkan trombosit

Berbagai Penyebab Trombosit Turun dan Cara Menaikkan Jumlahnya Normal Kembali

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2020 . Waktu baca 8 menit
bahaya dan komplikasi anemia

Waspada, Ini Bahaya Anemia yang Mungkin Mengintai Anda

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit