home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ciri-ciri Keracunan Zat Besi (Awas, Bisa Berakibat Fatal!)

Ciri-ciri Keracunan Zat Besi (Awas, Bisa Berakibat Fatal!)

Zat besi merupakan salah satu zat gizi penting yang terlibat dalam proses metabolisme dan membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke organ-organ dan jaringan tubuh. Jika Anda tidak mencukupi asupan zat besi harian, maka Anda akan mudah merasa lelah dan jatuh sakit. Namun, keracunan zat besi bisa saja terjadi ketika zat besi menumpuk terlalu banyak di dalam tubuh — baik disengaja maupun tidak. Keracunan zat besi merupakan kondisi darurat medis dan sangat berbahaya, terutama pada anak-anak. Efek toksiknya akan bertambah buruk seiring waktu dan dapat berujung kematian.

Apa penyebab keracunan zat besi?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan keracunan zat besi, di antaranya;

1. Overdosis

Keracunan zat besi akut biasanya terjadi akibat overdosis yang tidak disengaja. Sebagian besar kasus ini terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun, karena mereka secara tidak sengaja mengonsumsi suplemen zat besi atau multivitamin dewasa.

2. Kelebihan kadar zat besi

Kelebihan jumlah zat besi dalam tubuh juga dikenal sebagai keracunan zat besi kronis. Penyebabnya meliputi transfusi darah berulang untuk mengobati anemia, terapi zat besi yang berlebihan (baik secara intravena atau dengan suplemen), dan penyakit hati seperti hepatitis C kronis atau hepatitis alkoholik.

3. Faktor genetik

Kadar zat besi yang berlebihan bisa terjadi secara alami karena penyakit tertentu. Salah satu contohnya yaitu hematokromatosis herediter, yang merupakan kondisi genetik yang menyebabkan proses penyerapan zat besi dari makanan secara tidak wajar.

Gejala keracunan zat besi berdasarkan tahapan waktu

Keracunan zat besi biasanya akan menimbulkan gejala dalam waktu 6 jam setelah overdosis dan dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh yang berbeda, seperti saluran pernapasan, paru-paru, lambung, usus, jantung, darah, hati, kulit, dan sistem saraf.

Gejalanya dapat dibagi menjadi lima tahap:

1. Tahap 1 (0-6 jam)

Gejala dapat termasuk muntah, diare, nyeri perut, gelisah, dan rasa kantuk. Dalam kasus yang serius mungkin akan menyebabkan napas cepat, jantung berdebar, pingsan, kejang, dan tekanan darah rendah.

2. Tahap 2 (6-48 jam)

Gejala umum dari tahap pertama akan semakin bertambah parah.

3. Tahap 3 (12-48 jam)

Gejala lanjutan yang mungkin terjadi yaitu syok, demam, perdarahan, ikterus (perubahan warna kulit/ bagian putih menjadi kuning), gagal hati, kelebihan asam dalam darah, dan kejang.

4. Tahap 4 (2-5 hari)

Gejala dapat meliputi gagal hati, perdarahan, kelainan pembekuan darah, masalah pernapasan, hingga bahkan kematian. Gejala lainnya yang mungkin terjadi termasuk penurunan kadar gula darah, penurunan kesadaran, atau koma.

5. Tahap 5 (2-5 minggu)

Pembentukan jaringan parut pada lambung atau usus, sehingga menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan, perut kram, nyeri, dan muntah-muntah.

Bagaimana dokter mendiagnosis keracunan zat besi?

Diagnosis dan pengobatan dini sangatlah penting. Tes darah dan urin, termasuk tes untuk memeriksa kadar zat besi harus dilakukan dengan cepat agar dapat memberikan hasil yang tepat. Diagnosis keracunan zat besi biasanya didasarkan pada riwayat kesehatan, gejala saat ini, kadar keasaman dalam darah, dan kadar jumlah zat besi dalam tubuh seseorang.

Agar dokter dapat menetapkan diagnosis, Anda perlu memberi tahu dokter tentang obat dan suplemen apa saja yang sedang Anda konsumsi saat ini, termasuk obat nonresep, suplemen herbal, dan vitamin. Sebisa mungkin terbukalah hingga sedetil mungkin dengan dokter mengenai apa yang Anda konsumsi. Beberapa suplemen, misalnya suplemen vitamin C, dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Pil atau suplemen yang menyebabkan keracunan zat besi terkadang juga dapat terlihat dengan pemeriksaan rontgen.

Bagaimana cara menangani keracunan zat besi?

Tahap pertolongan pertama keracunan zat besi yaitu dengan menstabilkan kondisi tubuh, termasuk masalah pernapasan dan tekanan darah. Penanganan selanjutnya bergantung pada tingkat keparahan gejala, misalnya dokter dapat melakukan pembersihan saluran pencernaan dengan cara irigasi untuk membuang kelebihan zat besi secepat mungkin sehingga mengurangi efek toksik pada tubuh.

Keracunan yang lebih berat memerlukan terapi kelasi besi lewat infus. Terapi kelasi besi menggunakan zat kimia yang dapat mengikat zat besi dalam sel dan membuangnya dari tubuh melalui urin.

Jika Anda mencurigai anak Anda secara tidak sengaja menelan suplemen zat besi, segera hubungi dokter atau bawa anak Anda ke instalasi gawat darurat.

Yang bisa dilakukan untuk mencegah keracunan zat besi

Anda dapat mencegah terjadinya keracunan zat besi pada anak Anda dengan cara menyimpan obat atau suplemen zat besi di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak Anda dan juga beritahu anak Anda bahwa obat atau suplemen yang tidak diketahui bukanlah permen dan dapat berbahaya bagi tubuhnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Iron Poisoning http://www.webmd.com/a-to-z-guides/iron-poisoning#1 Accessed 16/09/2017

Iron poisoning: What you need to know https://www.medicalnewstoday.com/articles/318903.php Accessed 16/09/2017 Accessed 16/09/2017

Iron overdose https://medlineplus.gov/ency/article/002659.htm Accessed 16/09/2017

Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Hendry Wijaya
Tanggal diperbarui 15/10/2017
x