Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Anak Mudah Lupa, Ortu Perlu Waspada Atau Tidak?

Anak Mudah Lupa, Ortu Perlu Waspada Atau Tidak?

Lupa adalah suatu reaksi normal, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Namun, sering kali orangtua mengalami kecemasan tersendiri ketika buah hati mereka lupa hampir setiap hari. Ada beberapa ciri yang menunjukkan batasan antara lupa yang normal dan tidak normal saat anak mudah lupa.

Ciri lupa yang normal

Dikutip dari Health Harvard, beberapa ciri di bawah ini merupakan reaksi lupa yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan terlalu berlebihan, yaitu:

Lupa peristiwa dari waktu ke waktu (transient)

Pada tahap ini biasanya anak akan lupa terhadap peristiwa dan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, hal ini juga ditandai dengan anak yang mudah lupa terhadap informasi yang telah dipelajarinya.

Memang pada dasarnya memori manusia terbagi dalam dua kategori, yaitu informasi yang sering digunakan sehingga tidak mungkin dilupakan dan informasi yang perlu diingat-ingat kembali karena tidak sering muncul dalam pikiran. Ilmuwan menyatakan di tahap ini, lupa soal hal-hal yang sifatnya tidak sehari-hari atau tidak biasa masih dalam batas yang normal.

Lupa karena tidak tidak fokus (absent-mindedness)

Jenis lupa yang satu ini terjadi saat anak tidak begitu memerhatikan atau tidak fokus terhadap apa yang dikerjakan sebelumnya. Contohnya ketika anak lupa di mana ia menaruh pensil warnanya. Hal ini bisa jadi karena anak tidak fokus saat meletakkan pensil warna tersebut, misal karena ia sedang memikirkan hal lain.

Akibatnya, ketika otak berusaha mengingat kembali di mana pensil warna berada, memori penyimpanan anak tidak bisa memberikan informasi yang dibutuhkan.

Lupa karena adanya memori yang tidak bisa ditarik (blocking)

Misalnya anak ingat ada pesan penting dari gurunya siang tadi, tapi anak lupa apa pesannya. Ketidakmampuan sementara untuk menarik ingatan kembali umum terjadi baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini masih normal, selama ketika anak diberi tahu lagi soal pesan gurunya seperti bawa topi upacara, anak mengingatnya kembali.

Keliru soal detail informasi (misattribution)

Proses lupa yang satu ini terjadi saat anak sebenarnya mengingat sesuatu kejadian secara akurat. Namun, ketika dilontarkan ada beberapa detail yang keliru seperti waktu, tempat, dan orang yang terlibat.

Selain itu, lupa yang satu ini juga terjadi saat anak merasa pikiran yang dimiliki benar-benar ia alami padahal sebenarnya berasal dari imajinasinya. Hal ini beda dengan berbohong, karena anak benar-benar lupa kalau yang ia ceritakan barusan tidak benar-benar terjadi, melainkan produk imajinasinya saja.

Ciri-ciri lupa yang tidak normal

Tidak seperti lupa yang normal, biasanya jenis lupa yang satu ini lebih rumit, disertai dengan perilaku lainnya yang tidak biasa, seperti:

  • Jeda yang lama saat mengingat kejadian atau memilih kata.
  • Mengulangi percakapan yang sama berulang-ulang.
  • Adanya perubahan pada suasana hati dan kepribadian.
  • Tidak bisa fokus menyelesaikan tugas yang diberikan.
  • Tidak memperhatikan saat orang lain berbicara padanya sehingga tidak bisa mengulangi perintah atau bahkan melakukannya.
  • Mengalami kesulitan untuk mencatat tugas yang diberikan di sekolah.

Jika anak mudah lupa disertai dengan ciri-ciri tersebut, maka hal ini menjadi lampu kuning bagi Anda dan pasangan untuk tidak menyepelekannya.

Penyebab anak mudah lupa

Berikut ini beberapa penyebab umum anak mudah lupa, yaitu:

  • Kelelahan dan kurang tidur.
  • Kekurangan gizi, khususnya vitamin B12 yang biasa didapatkan dari produk susu, ikan, serta daging.
  • Stres, misalnya karena tugas sekolah yang terlalu banyak atau tuntutan orangtua yang membuat anak akhirnya merasa terbebani.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat memicu pada masalah daya ingat, misalnya metformin (obat untuk penderita diabetes) dan obat-obatan penurun kolesterol.
  • Masalah kesehatan tertentu seperti ADHD, tumor otak, serta gegar otak.

Tanda-tanda lupa ini merupakan ciri umum yang bisa Anda perhatikan. Jika buah hati Anda gampang lupa, cobalah untuk mengategorikannya, apakah termasuk normal atau tidak. Jika masuk dalam kategori lupa yang tidak normal atau Anda mencemaskan gejala tertentu, segera konsultasikan pada psikolog anak atau ahli terkait untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

14 Signs of Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) https://www.healthline.com/health/adhd/signs#4 Diakses 19 Maret 2018.

Forgetfulness — 7 Types of Normal Memory Problems https://www.health.harvard.edu/healthbeat/forgetfulness-7-types-of-normal-memory-problems Diakses 19 Maret 2018.

Forgetfulness: What’s Normal, What’s Not https://www.keckmedicine.org/forgetfulness-whats-normal-whats-not/ Diakses 19 Maret 2018.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x