Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Dermatitis pada Bayi dan Gejala yang Paling Umum Muncul

Penyebab Dermatitis pada Bayi dan Gejala yang Paling Umum Muncul

Dermatitis adalah salah satu masalah kulit yang paling umum terjadi pada bayi. Istilah dermatitis menunjukkan kondisi kulit yang tampak sangat kering dengan ruam kemerahan dan terasa gatal akibat peradangan. Tak jarang pula gejala dermatitis menimbulkan rasa perih pada kulit bayi yang membuat si kecil makin tidak merasa nyaman. Kondisi ini tentunya mengkhawatirkan orangtua.

Dermatitis itu sendiri punya banyak jenis yang masing-masingnya dapat menunjukkan gejala khas. Nah, beda jenis dermatitis maka beda pula cara mengatasinya. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk membedakan setiap jenis dermatitis yang umum dialami bayi.

Apa penyebab dermatitis pada bayi?

Hingga kini mekanisme yang menyebabkan peradangan kulit belum bisa dijelaskan secara menyeluruh.

Studi terhadap penyebab dermatitis sejauh ini menunjukkan peradangan kulit bisa dipengaruhi dari berbagai kondisi berbeda. Menurut National Eczema Association, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat memicu dermatitis pada bayi:

  • Riwayat genetik atau keturunan dari keluarga dengan dermatitis.
  • Gangguan sistem imun.
  • Keturunan keluarga dengan alergi, asma, dan alergi rhinitis.
  • Faktor lingkungan seperti konsumsi makanan tertentu, paparan iritan dan alergen.

Dermatitis yang terjadi pada anak bisa dipengaruhi oleh hanya satu atau beberapa kombinasi dari faktor di atas.

Di samping faktor internal, beberapa faktor risiko dari lingkungan luar juga dapat memicu dan bahkan memperparah kondisi dermatitis Faktor pemicu tersebut di antaranya adalah:

  • Iritasi kulit
  • Iritan seperti produk berbahan kimia yang mengandung pewangi
  • Infeksi kuman penyakit
  • Perubahan cuaca yang ekstrem
  • Alergen seperti bulu binatang, polen, dan debu

Gejala dermatitis yang umum terjadi pada bayi

Gejala dermatitis biasanya muncul dalam 6 bulan pertama usia bayi.

Bayi yang mengalami dermatitis bisa memunculkan gejala yang lebih spesifik selain ruam kemerahan, kulit kering, dan rasa gatal.

Gejala dermatitis yang lebih khas biasanya muncul terkait dengan jenis spesifik yang dialami si bayi. Dermatitis ada banyak jenisnya, yaitu dermatitis atopik, dermatitis kontak, dan dermatitis seboroik. Namun, yang paling umum terjadi pada bayi adalah dermatitis atopik dan dermatitis seboroik.

Berikut adalah gejala yang dapat ditimbulkan oleh dua jenis tersebut:

1. Dermatitis atopik (eksim)

Dermatitis atopik atau eksim merupakan bentuk dermatitis yang paling umum. Eksim pada bayi biasanya berkembang dalam tiga fase berbeda.

Pada bayi berumur di bawah 6 bulan, gejala dermatitis lebih sering ditemukan pada area wajah, pipi, dagu, dahi, dan kulit kepala. Ciri-ciri eksim muncul dalam bentuk:

Lama kelamaan gejala bisa menyebar pada siku dan lutut dengan bintik-bintik yang membentuk ruam kemerahan. Peradangan juga menyebabkan kulit terlihat lebih mengering dan bersisik.

Pada bayi berusia 1 tahun ke atas, gejala bisa muncul pada bagian lipatan kulit seperti pergelangan tangan, kaki dan ruam pada area popok. Tak jarang, gejala juga muncul di sekitar kelopak mata dan mulut.

Gejala dermatitis atopik pada bayi dapat menghilang dalam waktu lama dan kambuh lagi. Hal ini sangat dipengaruhi faktor pemicunya. Apabila bayi kembali terpapar iritan dan mengalami iritasi, gejala bisa muncul kembali.

2. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik pada bayi memiliki gejala khas berupa sisik kulit berwarna putih kekuningan yang menempel pada kulit kepala. Masalah kulit pada bayi ini juga dikenal dengan cradle cap.

Sisik kulit yang muncul memiliki kenampakan yang serupa dengan ketombe dan bisa menimbulkan rasa gatal yang mengganggu.

Selain di kulit kepala, gejala dermatitis seboroik juga bisa muncul pada beberapa bagian tubuh lainnya seperti dahi, alis, leher, dada, dan pangkal paha bayi.

Kondisi kulit yang bersisik dipicu oleh peradangan dan menyebabkan produksi minyak berlebih pada kulit kepala bayi. Selain itu, infeksi jamur Malassezia atau Pityrosporum juga dapat memicu terjadinya peradangan.

Jamur ini normalnya memang hidup di kulit manusia. Namun, kulit beberapa bayi bereaksi berlebihan terhadapnya sehingga mudah terinfeksi. Sistem imunnya yang masih dalam tahap perkembangan juga membuat bayi lebih rentan mengalami infeksi.

Cara mengatasi dermatitis pada bayi

Obat dermatitis pada bayi

Pada kasus ringan, gejala dermatitis pada bayi memang bisa mereda dengan sendirinya. Namun, rasa gatal dan perih dari peradangan kulit bisa membuat bayi tidak nyaman.

Memang belum ada pengobatan dermatitis yang bisa menyembuhkan secara menyeluruh, namun sejumlah langkah perawatan kulit bisa diikuti untuk mengendalikan gejala. Apalagi jika gejala tidak kunjung hilang selama berbulan-bulan.

1. Gunakan produk pembersih kulit yang aman

Dalam merawat kulit bayi yang terdampak dermatitis, hindari menggunakan pembersih jenis kosmetik karena lebih rentan menimbulkan iritasi.

Sampo dan sabun untuk bayi dengan dermatitis sebaiknya tidak mengandung detergen dan pewangi kimia sehingga cenderung ringan dan tidak perih di kulit.

Produk yang berasal dari bahan-bahan tradisional yang digunakan sebagai obat dermatitis alami juga bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, National Eczema Society tidak lagi merekomendasikan penggunaan minyak zaitun karena dapat memperparah kerusakan pada kulit bayi.

Gunakan juga minyak atau krim pelembap khusus kulit bayi dengan dermatitis secara rutin setidaknya 2 kali dalam sehari, yaitu sesudah mandi dan saat si kecil tertidur.

2. Memandikan bayi dengan teknik khusus

Mandi sangat penting dalam menjaga kulit si kecil tetap bersih dan menghilangkan kotoran serta iritan yang dapat memicu peradangan kulit.

Selain menggunakan produk yang aman, Anda juga sebaiknya memandikan bayi menggunakan air hangat yang ditambahkan dengan minyak emolien (pelembab nonkosmetik) untuk menjaga kelembapan kulitnya.

Selama membersihkan bagian kulit yang terdampak, jangan menggosoknya terlalu kencang. Anda bisa menggunakan sikat berbulu halus agar tidak menyebabkan iritasi.

Jangan juga mencoba untuk menggaruk atau melepaskan sisik kulit dengan menggunakan tangan karena dapat meningkatkan risiko infeksi kulit.

Untuk bayi yang terdampak dermatitis seboroik, oleskan baby oil atau petroleum jelly secara perlahan pada kulit kepalanya sebelum setidaknya satu jam sebelum mandi.

Batasi waktu mandi si kecil sekitar 5-10 menit saja. Sesaat setelah kering oleskan pelembab khusus untuk kulit dermatitis.

3. Pengobatan medis

Segera periksakan si kecil ke dokter spesialis kulit apabila mengalami gejala dermatitis yang lebih parah. Konsultasikan pada dokter apabila gejalanya bertambah buruk dari hari ke hari.

Jika diperlukan, dokter biasanya akan meresepkan krim antijamur, krim kortikosteroid dengan potensi steroid ringan, dan sampo untuk dermatitis yang mengandung ketoconazole, selenium sulfida, coal tar, atau seng pyrithione.

4. Hindari pemicu dermatitis

Dermatitis pada bayi dapat membaik atau memburuk seiring waktu dan ini sangat berpengaruh dengan adanya pemicu. Pemicu eksim pada bayi bisa berupa keringat, air liur, bulu hewan, atau bahan kimia yang ada pada beberapa produk.

Jika si kecil sering terpapar pemicu, dermatitis pada bayi akan jadi lebih parah gejalanya. Amati juga berbagai hal di sekitar bayi yang bisa Anda curigai sebagai pemicu dermatitis. Setelahnya, pastikan bayi terhindar dari pemicu tersebut.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Lyons, J. J., Milner, J. D., & Stone, K. D. (2015). Atopic dermatitis in children: clinical features, pathophysiology, and treatmentImmunology and allergy clinics of North America35(1), 161–183. https://doi.org/10.1016/j.iac.2014.09.008

Pigatto, P., Martelli, A., Marsili, C., & Fiocchi, A. (2010). Contact dermatitis in childrenItalian journal of pediatrics36, 2. https://doi.org/10.1186/1824-7288-36-2

Cradle Cap (Seborrheic Dermatitis) in Infants (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 20 February 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/cradle-cap.html

How to treat eczema in babies. (2020). Retrieved 20 February 2020, from https://www.aad.org/public/diseases/eczema/childhood/treating/treat-babies

Atopic Dermatitis in Children. (2020). Retrieved 20 February 2020, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=atopic-dermatitis-in-children-90-P01675

Eczema in Children | National Eczema Association. (2020). Retrieved 20 February 2020, from https://nationaleczema.org/eczema/children/

8 survival tips for caring for an eczema baby. (2017). Retrieved 20 February 2020, from https://nationaleczema.org/8-survival-tips-caring-eczema-baby/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x