backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

17 Kondisi Penyebab Bruntusan pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 13/12/2022

17 Kondisi Penyebab Bruntusan pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Kulit bertindak sebagai lapisan pelindung dari infeksi, pengatur suhu tubuh, serta pencegah kehilangan cairan dan mineral yang berlebihan. Bayi dan anak-anak umumnya memiliki kulit yang lebih sensitif dan rentan mengalami reaksi kulit, salah satunya bruntusan pada kulit. Apa penyebab bruntusan pada bayi? Ketahui di bawah ini beserta cara mengatasinya.

Apa itu bruntusan pada bayi?

viral exanthem

Bruntusan adalah kondisi ketika kulit menjadi kemerahan dan disertai benjolan-benjolan kecil.

Bruntusan termasuk penyakit kulit yang umum dialami bayi dan anak-anak. Namun biasanya, ini bukan kondisi yang berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Pada kondisi normal, bruntusan sering kali muncul untuk pertama kali pada usia 2—3 hari. Jika ini yang dialami si Kecil, Anda cukup mengawasi gejalanya sambil melakukan perawatan mandiri di rumah.

Terkadang, bruntusan juga bisa dipicu oleh kondisi kulit lainnya. Pada kondisi ini, bruntusan bisa menjadi kondisi yang lebih parah jika disertai gejala lain yang lebih serius.

Beberapa kondisi penyebab bruntusan dapat memiliki gejala yang serupa. Kenali masing-masing gejala agar Anda bisa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membawa anak ke dokter.

Apa saja kondisi penyebab bruntusan pada bayi?

Penyakit kulit pada bayi

Ada beberapa kondisi yang bisa jadi penyebab bruntusan pada kulit. Ketahui masing-masing penyebab bruntusan pada kulit bayi dan gejalanya di bawah ini.

1. Bruntusan akibat air liur bayi

Saat sedang tumbuh gigi, bayi mungkin akan sering ngiler atau mengeluarkan air liur lebih banyak dari biasanya.

Air liur yang menetes dan mengenai kulit juga bisa menyebabkan iritasi sehingga timbul bruntusan pada kulit bayi, terutama di area pipi.

2. Ruam popok

Seperti namanya, ruam popok muncul di sekitar bagian tubuh yang tertutup popok.

Bruntusan umumnya merupakan gejala iritasi pada kulit akibat terlalu lama lembap terpapar urine dan feses bayi.

Namun terkadang, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans, yaitu jenis jamur yang juga bisa menyebabkan sariawan di mulut.

Ruam popok akibat jamur ini menimbulkan gejala yang berbeda dari ruam popok pada umumnya.

Gejala tersebut meliputi kulit yang sangat merah disertai dengan bintil merah kecil di pinggir ruam.

3. Biang keringat

Biang keringat terjadi akibat adanya penyumbatan pori-pori yang menutupi kelenjar keringat.

Keringat yang tidak bisa keluar menimbulkan bintik merah pada kulit, terkadang juga bisa disertai lepuhan.

Bruntusan akibat biang keringat ini lebih rentan terjadi di cuaca yang panas dan lembap, terutama jika bayi terlalu banyak berkeringat akibat menggunakan pakaian yang terlalu tebal.

Biasanya, bruntusan karena biang keringat timbul di lipatan kulit atau bagian yang tergesek baju, seperti leher, ketiak, dada, punggung bagian atas, dan bagian yang tertutup popok.

4. Eritema toksikum

Eritema toksikum sangat umum terjadi hingga sekitar setengah dari jumlah seluruh bayi yang lahir. Namun, belum diketahui penyebab pasti dari eritema toksikum yang bisa menyebabkan bruntusan ini.

Kondisi ini ditandai dengan bercak merah datar yang dapat disertai dengan benjolan putih menyerupai jerawat di bagian tengahnya.

Bruntusan dapat timbul di bagian tubuh manapun, kecuali telapak tangan dan telapak kaki.

5. Jerawat bayi

Jerawat bayi merupakan jenis bruntusan yang bisa disebabkan oleh hormon kehamilan dalam rahim ibu.

Sama seperti jerawat pada orang dewasa, kondisi ini juga menyebabkan bruntusan berwarna merah pada pipi bayi yang dapat disertai dengan benjolan putih di bagian tengahnya.  

Jerawat biasanya muncul saat bayi berusia sekitar 2—4 minggu hingga usia 4 bulan setelah kelahiran.

6. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik ditandai dengan bercak tebal berwarna kuning yang kering, mengelupas, atau berminyak biasanya pada kulit kepala, tetapi juga bisa muncul pada wajah, telinga, dan leher. 

Bruntusan karena dermatitis seboroik ini cukup umum terjadi, terutama saat bayi berusia sekitar 3 bulan. Namun, penyebab dari dermatitis seboroik juga belum dapat dipastikan. 

7. Eksim

Eksim merupakan kondisi yang terjadi ketika timbul bruntusan kering, mengelupas, kemerahan, dan gatal pada kulit bayi.

Jika terjadi terlalu lama, kulit juga bisa menjadi bertambah tebal. Kondisi ini sering kali dipicu oleh asma atau lergi pada bayi, tetapi juga bisa terjadi sendiri tanpa kedua kondisi tersebut.

Eksim juga biasanya diturunkan di dalam keluarga.

8. Biduran

Biduran atau disebut juga urtikaria adalah bruntusan yang bengkak dan terasa pada kulit bayi.

Bruntusan bisa berwarna merah atau sama dengan warna kulit.

Kondisi ini biasanya terjadi sebagai reaksi kulit terhadap pemicu tertentu, seperti penyebab alergi atau infeksi.

9. Roseola

Roseola terjadi ketika ada infeksi human herpesvirus 6 pada bayi. Infeksi ini menyebabkan demam yang disusul dengan timbulnya bruntusan merah pada bagian dada atau perut bayi.

Ruam tersebut juga bisa menyebar ke bagian lengan dan leher bayi, tetapi biasanya akan hilang dalam 24 jam.

10. Cacar air

Cacar air disebabkan oleh virus Varicella-zoster. Kondisi ini ditandai dengan bruntusan pada wajah, dada, dan punggung bayi, tetapi juga bisa menyebar ke seluruh tubuh.

Bruntusan juga bisa diserta rasa gatal dan lepuhan yang akan menjadi koreng.

11. Campak

Campak terjadi akibat infeksi Morbillivirus yang sangat menular. Infeksi ini menimbulkan bruntusan pada wajah, terutama di belakang telingan dan di sekitar mulut.

Setelah itu, bruntusan juga bisa menyebar ke bagian tubuh.

12. Rubella

Rubella atau campak Jerman juga disebabkan oleh infeksi virus. Bruntusan pada kondisi ini berwarna merah yang timbul di wajah dan leher.

Ruam tersebut kemudian akan menyebar ke bagian tubuh lain.

13. Moluskum kontagiosum

Infeksi virus moluskum kontagiosum menyebabkan bruntusan berwarna merah atau sama dengan kulit di bagian wajah, dada, perut, lengan, dan tungkai bayi.

Bruntusan ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit tetapi bisa dialami bayi hingga beberapa bulan.

14. Penyakit tangan, kaki, dan mulut

Penyakit tangan, kaki, dan mulut (flu Singapura) terjadi akibat infeksi enterovirus, dengan gejala berupa bruntusan di sekitar mulut, serta telapak tangan dan telapak kaki.

Bruntusan bisa berkembang menjadi benjolan atau lecet pada kulit dan mulut bayi

15. Demam berdarah

Bakteri Streptococcus grup A bisa menyebabkan demam berdarah yang ditandai dengan bruntusan kemerahan pada kulit leher dan dada bagian atas. 

Wajah bayi mungkin akan terlihat merah dengan beberapa bagian berwarna pucat di sekitar mulut. 

16. Impetigo 

Bakteri Streptococcus atau Staphylococcus aureus Grup A dapat menyebabkan impetigo pada bayi.

Kondisi ini menimbulkan bruntusan, lepuhan, atau kulit mengelupas umumnya di sekitar mulut dan hidung bayi. 

17. Kurap 

Kurap merupakan kondisi yang disebabkan oleh infeksi jamur. Sama seperti pada orang dewasa, kurap pada bayi juga ditandai dengan bruntusan berbentu bulat atau oval di kulit.

Bruntusan tersebut biasanya akan terlihat halus dan berwarna merah di bagian tengah, dengan pembatas yang terlihat seperti cincin.

Rasa gatal dan nyeri juga akan terasa pada bruntusan yang bengkak dan meradang.

Bagaimana cara menghilangkan bruntusan pada bayi?

warna feses bayi

Bruntusan pada bayi umumnya bukan kondisi yang serius sehingga tidak memerlukan pengobatan khusus dan bisa sembuh sendiri.

Namun, Anda bisa melakukan perawatan di rumah untuk membantu meredakan gejala yang dialami dan mungkin mengganggu si Kecil.

Jika Anda menduga bruntusan yang dialami oleh bayi dapat menular, jauhkan bayi dari orang lain.

Jauhkan juga dari ibu hamil atau wanita yang mungkin hamil. Ini karena bruntusan yang disebabkan oleh infeksi bisa menyebabkan komplikasi serius pada janin di dalam rahim.

Dilansir dari Pregnancy Birth and Baby, untuk bayi yang telah berusia lebih dari 3 bulan, Anda bisa memberikan obat paracetamol atau ibuprofen jika bruntusan disertai demam.

Selalu ingat untuk membaca petunjuk penggunaan obat pada kemasan atau resep dari dokter sebelum memberikan obat apapun kepada bayi agar dosis sesuai dengan usia dan berat badan si Kecil.

Selain obat minum, krim gatal juga bisa dioleskan pada kulit bayi yang mengalami bruntusan. Krim ini dapat berupa pelembap, krim anti gatal, atau krim yang mengandung steroid.

Hanya saja, pemberian obat untuk bayi harus sesuai dengan petunjuk dari dokter.

Kapan harus bawa bayi ke dokter?

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika timbulnya bruntusan pada kulit bayi disertai gejala berikut ini.

  • Bayi berusia kurang dari 3 bulan.
  • Bruntusan disertai demam atau gejala lainnya.
  • Gejala infeksi, seperti kulit yang terlihat basah atau merah.
  • Bruntusan yang menyebar hingga lebih dari area yang tertutup popok.
  • Bruntusan bertambah parah di bagian lipatan kulit.
  • Kulit melepuh.
  • Kondisi tidak membaik setelah 3 hari dilakukan pengobatan mandiri di rumah.
  • Bayi menggaruk kulit yang gatal terlalu kencang.

Meski bruntusan pada bayi umumnya bukan merupakan kondisi yang serius, sebagai orangtua, Anda tetap harus waspada terhadap gejala lain yang mungkin menyertai.

Pengobatan yang tepat bisa mencegah bruntusan pada kulit bertambah parah.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 13/12/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan