Intususepsi pada Anak, Saat Usus Terlipat dan Masuk ke Bagian Dalam

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Ada berbagai penyakit serta kondisi yang bisa terjadi pada si kecil seperti intususepsi. Jarang terdengar oleh orang tua, Anda perlu mengetahui kondisi yang menyerang usus pada anak ini. Apakah intususepsi merupakan hal yang umum terjadi? Simak penjelasannya!

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apa itu intususepsi?

Intususepsi atau invaginasi adalah kondisi serius saat bagian usus masuk ke bagian usus yang lain. Sebagian usus melipat, sehingga satu bagian menyelip ke dalam bagian lain, seperti teleskop.

Usus menjadi terhalang sehingga makanan dan cairan tidak bisa lewat. Aliran darah menuju usus mungkin juga tersendat, yang dapat menyebabkan bagian usus tersebut terluka atau mati.

Intususepsi adalah penyebab paling umum obstruksi usus pada anak-anak di bawah tiga tahun. Dikutip dari Mayo Clinic, penyebab sebagian besar kasus invaginasi seringkali tidak diketahui.

Pada anak-anak, usus biasanya dapat didorong kembali ke posisi semula dengan prosedur sinar-X. berbeda dengan orang dewasa yang perlu pembedahan.

Seberapa umum kondisi ini?

Intususepsi adalah kondisi gangguan pencernaan yang paling sering terjadi bayi dan anak-anak berusia di antara 3 bulan dan 3 tahun.

Kondisi ini tergolong jarang terjadi pada bayi baru lahir. Akan tetapi, bisa juga terjadi pada anak yang lebih tua, remaja, hingga orang dewasa.

Dikutip dari Cleveland Clinic, 1 dari 1200 anak yang mengalami intususepsi atau invaginasi, kondisi ini pun lebih sering terjadi pada anak laki-laki.

Perlu diketahui pula bahwa intususepsi juga tergolong kondisi medis darurat atau perlu segera ditangani. Jika tidak ditangani, dapat mengakibatkan infeksi hingga kematian.

Apa saja tanda dan gejala intususepsi?

Intususepsi atau invaginasi adalah kondisi  yang memiliki banyak gejala. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab bayi mengalami kram perut.

Sakit perut tersebut kemudian menyebabkan bayi menangis keras secara mendadak dan mereka biasanya akan menarik lutut mereka sampai di atas dada.

Rasa menyakitkan dapat berlangsung 10 hingga 15 menit atau lebih. Diikuti dengan periode 20 hingga 30 menit tanpa rasa sakit, kemudian rasa sakit kembali lagi.

Berikut beberapa gejala atau tanda dari intususepsi pada anak, seperti:

  • Feses bercampur darah dan lendir.
  • Mengalami muntah.
  • Ada benjolan di sekitar perut.
  • Rasa lemah, lesu, dan kehilangan semangat.
  • Diare pada bayi atau anak.
  • Demam disertai dengan keringat berlebih.

Sakit perut anak yang parah muncul silih berganti. Anak mungkin juga muntah sehingga terlihat pucat dan berkeringat.

Ketika penyumbatan usus semakin menjadi, darah dan lendir dapat muncul di kotoran dan perut mungkin membengkak.

Lalu, diare yang dialami anak juga bisa membuatnya terlihat lesu dan lemah. Anda juga harus berhati-hati apabila anak kekurangan cairan sehingga berujung pada dehidrasi.

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas anak mengalami gejala tertentu, segera konsultasi ke dokter.

Apa penyebab intususepsi (invaginasi)?

Hingga kini, dokter belum mengetahui apa yang menjadi penyebab utama dari intususepsi atau usus terlipat pada anak.

Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini terjadi setelah serangan gastroenteritis atau flu perut yang dialami anak.

Hal ini terjadi karena adanya virus yang mengakibatkan pembengkakan pada lapisan usus. Lalu, ada bagian usus yang menyelinap masuk di bagian bawahnya.

Tidak hanya itu saja, intususepsi juga bisa terjadi ketika anak mengalami polip atau divertikulum.

Dikutip dari Stanford Children’s Health, invaginasi juga bisa terjadi karena faktor keturunan dari keluarga.

Lalu, para ahli pun juga menemukan kaitan intususepsi dengan infeksi virus, tumor, usus buntu, penyakit celiac, fibrosis kistik, serta penyakit Crohn.

Apa yang meningkatkan risiko intususepsi?

Berikut beberapa faktor risiko intususepsi pada anak, di antaranya adalah:

  • Usia. Anak-anak jauh lebih berisiko mengalami intususepsi daripada orang dewasa.
  • Jenis kelamin. Intususepsi lebih sering menyerang anak laki-laki.
  • Usus abnormal pada waktu lahir. Kondisi saat lahir (bawaan) di mana usus tidak berkembang dengan baik (malrotasi).
  • Riwayat intususepsi sebelumnya. Apabila pernah mengalami intususepsi, anak akan lebih berisiko mengalaminya kembali.

Apa pilihan pengobatan untuk intususepsi?

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Setelah orang tua memberitahu apa saja gejala dari intususepsi atau invaginasi, dokter akan langsung memeriksa anak, seperti:

  • Melakukan pemeriksaan pada area perut yang terasa bengkak dan lembut saat disentuh.
  • Terkadang, dokter bisa langsung merasakan adanya perbedaan di area usus.

Apabila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dengan bantuan X-ray serta ultrasound.

Perawatan atau pengobatan dari kondisi ini biasanya dilakukan karena adanya keadaan darurat medis.

Sebagai contoh, ketika anak sudah mengalami dehidrasi, syok. Sekaligus mencegah terjadinya infeksi usus serta usus mati karena kekurangan darah.

Lalu, pengobatan intususepsi yang akan dilakukan dokter juga tergantung dari gejala, usia, kondisi kesehatan anak, serta seberapa parah intususepsi.

1. Perawatan awal

Ketika anak Anda tiba di rumah sakit, dokter akan terlebih dahulu menstabilkan kondisinya dengan memberikan tindakan seperti:

  • Memberikan anak cairan melalui jalur intravena (IV)
  • Membantu menurunkan tekanan udara pada usus dengan bantuan selang melalui hidung anak dan masuk ke lambung (tabung nasogastrik).
  • Memperbaiki intususepsi

2. Perawatan selanjutnya

Ada dua cara yang bisa dilakukan dokter untuk memperbaiki penyebab usus terlipat atau invaginasi, seperti:

Barium atau enema udara

Dokter akan meletakkan tabung lunak berukuran kecil dari bagian rektum, lalu mengalirkan udara melalui tabung tersebut.

Udara akan mengalir ke dalam usus dan memberikan tekanan. Hal ini dapat membuka bagian dalam dan luar usus sehingga menyembuhkan penyumbatan.

Operasi

Apabila perawatan enema udara tidak berhasil dan usus menjadi robek, yang perlu dilakukan dokter adalah tindakan operasi.

Dokter akan membersihkan penyumbatan atau menghilangkan jaringan usus yang sudah tidak berfungsi.

Dalam beberapa kasus, intususepsi dapat menghilang dengan sendirinya tanpa perawatan apapun.

Meskipun begitu, invaginasi dapat mengakibatkan masalah serius pada anak jika tidak dilakukan penanganan yang tepat. Masalah tersebut adalah:

  • Infeksi usus.
  • Kematian jaringan usus.
  • Perdarahan di dalam.
  • Infeksi perut yang parah, disebut peritonitis.

Apa perawatan yang diperlukan setelah operasi?

Setelah pembedahan atau operasi intususepsi , anak akan diberikan obat pereda nyeri agar tetap merasa nyaman.

Lalu, anak juga akan tetap membutuhkan cairan intravena selama beberapa hari karena usus masih belum bisa bekerja dengan sempurna.

Maka dari itu, anak belum bisa makan makanan padat walaupun pemulihan terjadi dalam 24 jam.

Biasanya, anak akan diperbolehkan makan dalam waktu dua hingga tiga hari.

Hal yang perlu diperhatikan orangtua adalah sebaiknya segera membawa anak ke dokter agar intususepsi dapat ditangani dengan cepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Kondisi yang Dapat Menjadi Penyebab Muntah

Semua orang pasti pernah muntah. Lantas, apa saja sebenarnya hal-hal yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami muntah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Pencernaan 11 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ibu, Ini Bahanya Menggunakan Bantal Bayi Saat Si Kecil Tidur

Rata-rata, ada 3500 kematian bayi per tahun karena kematian mendadak akibat menggunakan bantal. Mengapa begitu? Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Obat Radang Tenggorokan pada Anak: Mulai dari Alami Sampai Medis

Radang tenggorokan pada anak sering berujung batuk sampai muntah dan perlu obat untuk mengatasinya. Berikut daftar obat yang bisa dicoba.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Tantrum pada Anak: Apa Penyebabnya dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tantrum pada anak bisa terjadi kapan pun di manapun, termasuk di tempat umum. Berikut cara untuk mengatasi dan mencegahnya di kemudian hari,

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 2 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat vertigo

Berbagai Pilihan Obat Vertigo: Mana yang Paling Efektif?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
umur bayi keluar rumah

Usia Berapa Bayi yang Baru Lahir Diperbolehkan Keluar Rumah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
demam pada anak

Demam Anak Tidak Sembuh-Sembuh Meski Sudah Minum Obat, Harus Bagaimana?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit