Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Salep Apa yang Baik untuk Mengatasi Gatal Cacar Air?

Salep Apa yang Baik untuk Mengatasi Gatal Cacar Air?

Cacar air tak sekadar menyebabkan ruam berupa bintik-bintik merah di kulit. Selama ruam muncul dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, selain rasa tidak enak badan atau pusing, Anda bisa sangat terganggu dengan rasa gatal yang intens dari ruam di sekujur tubuh. Obat-obatan topikal seperti salep atau losion dapat digunakan untuk membantu mengurangi rasa gatal akibat cacar air ini.

Perkembangan penyakit cacar air

Setiap gejala cacar air yang muncul berasal dari kerusakan sel-sel virus penyebab penyakit ini, yakni varicella-zoster (VZV), ataupun respons tubuh terhadap infeksi patogen tersebut. Termasuk gejala ruam cacar air yang disertai rasa gatal.

Infeksi virus penyebab cacar air berawal dari lapisan terdalam jaringan kulit (dermis) dan terus berlanjut hingga mencapai lapisan kulit terluar.

Dalam buku Chicken Pox (Deadly Diseases and Epidemics), dijelaskan adanya kontak antara sel yang terinfeksi dengan salah satu sel dari sistem imun tubuh, yakni sel T di dekat pembuluh darah, memicu terjadinya pembengkakan di kulit.

Pada kondisi ini ruam kulit yang gatal mulai muncul. Sampai akhirnya sel kulit tersebut membentuk lenting dengan cairan berisi sel virus yang, rasa gatal pun bertambah kuat.

Seiring dengan perlawanan sistem imun secara konstan terhadap infeksi virus, gejala cacar air pun akan mereda. Namun menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), gejala cacar air sepenuhnya akan hilang dalam jangka waktu 4-7 hari

Kombinasi obat acyclovir minum dan salep untuk mengobati cacar air

Obat antivirus menjadi andalan utama dalam menghambat proses infeksi virus varicella-zoster menyebabkan kerusakan sel-sel sehat di dalam tubuh. Acyclovir adalah jenis antivirus yang paling umum digunakan untuk mengobati cacar air.

Sebagai antivirus, acyclovir tidak menghentikan infeksi secara langsung. Obat ini bekerja menghambat laju virus untuk menggandakan diri. Ketika acyclovir masuk ke dalam DNA sel virus, maka virus akan sulit untuk mengembangkan diri sehingga akan berhenti bereplikasi. Obat ini juga terbukti efektif dalam melawan serangan virus herpes-simplex (HSV).

Pengobatan cacar air yang berada di bawah pengawasan dokter, pil acyclovir biasanya harus diminum 2-5 kali sehari. Akan tetapi, kemampuan obat ini dalam menghalau infeksi virus varicella-zoster hanya efektif dalam waktu penggunaan 24 jam sejak ruam cacar air pertama muncul. Obat acyclovir menunjukkan hasil yang baik saat diberikan pada penderita dengan kondisi imun lemah.

Jika diminum rutin, obat ini dapat mengurangi jumlah lenting yang sudah ada sekaligus mengurangi munculnya ruam-ruam kulit yang baru. Selain itu, obat ini juga membantu mengatasi berbagai gejala penyerta lainnya, seperti menurunkan demam akibat infeksi virus.

Acyclovir oral (obat minum) memang merupakan antivirus pilihan utama dalam mengatasi cacar air. Kendati demikian, pengobatan cacar air biasanya dilakukan dalam bentuk terapi kombinasi.

Acyclovir itu sendiri termasuk ke dalam kelas obat antivirus yang tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, krim, dan salep. Obat antivirus dalam bentuk pil yang diminum umum diberikan bersama dengan obat cacar air berupa salep yang dioleskan pada lenting.

Kombinasi pengobatan untuk cacar air melalui obat antivirus oral atau pun obat topikal berupa salep dapat membantu meringankan keparahan gejala. Dengan begitu, Anda bisa sembuh lebih cepat dan potensi penularan cacar air pada orang lain menjadi berkurang.

Apakah efektif?

Salep acyclovir sebenarnya lebih umum digunakan untuk mengatasi gejala penyakit herpes-simplex, bukan cacar air. Penggunaan salep acyclovir tidak memberikan pengaruh yang berarti untuk menyembuhkan cacar air.

Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam buku Antiviral therapy of varicella-zoster virus infection. Salep yang mengandung 5 persen acyclovir tak bekerja efektif menghambat infeksi virus VZV di lapisan kulit terluar, tapi bekerja sebaliknya ketika mengatasi infeksi HSV yang menyerang membran mukosa.

Efek samping salep untuk cacar air

Jika digunakan secara berlebihan atau tidak mengikuti aturan pakai dari dokter, salep untuk cacar air dapat memberikan efek samping berupa reaksi alergi, seperti:

  • ruam merah terbakar di kulit
  • rasa gatal yang kuat
  • pembengkakan kulit
  • kulit melepuh
  • rasa sesak di tenggorokan
  • kesulitan bernapas, menelan, dan berbicara
  • pembengkakan di mulut dan area sekitar wajah

Bukan salep, losion calamine lebih manjur untuk mengobati gatal cacar air

Salep acyclovir tidak begitu populer digunakan untuk mengobati cacar air. Justru, versi obat minumnyalah yang memiliki peran paling besar untuk menyembuhkan penyakit ini dengan lebih cepat.

Pengobatan topikal untuk cacar air itu sendiri sebetulnya lebih umum menggunakan losion calamine. Losion calamine pun tidaklah langsung menghentikan infeksi dan membunuh virus. Studi lawas dalam jurnal Archives of Diseases in Childhood pada tahun 2006 menyebutkan, belum ada satu pun penelitian yang berhasil membuktikan efek losion calamine untuk menyembuhkan cacar air.

Namun, penggunaan obat oles ini lebih bertujuan sebagai pengobatan suportif. CDC selaku badan pengawas makanan dan obat di Amerika Serikat menyebutkan, pemakaian losion calamine yang dikombinasikan dengan obat antivirus oral dan perawatan rumahan seperti mandi air hangat atau berendam dengan oatmeal dan baking soda mungkin dapat membantu mengurangi rasa gatal akibat cacar air.

Losion ini mengandung seng dioksida atau seng karbonat yang dapat mengurangi rasa gatal dan meredakan peradangan di kulit. Losion calamine dapat Anda peroleh di apotek atau supermarket tanpa memerlukan resep dokter.

Cara penggunaan losion calamine

Untuk memperoleh hasil yang lebih efektif dan maksimal, penggunaan obat ini sebaiknya disesuaikan dengan anjuran medis. Pastikan Anda mengikuti aturan penggunaan yang disarankan oleh dokter.

Terutama ketika salep digunakan untuk mengobati cacar air pada anak. Anda perlu menanyakan pada dokter jumlah dosis yang aman bagi anak.

Berhati-hatilah saat mengaplikasikan obat ini, jangan menekan kulit terlalu keras karena khawatir lenting akan pecah. Selain itu, salep cacar ini juga tidak boleh dioleskan pada mata karena bisa membakar kulit di sekitarnya.

Meskipun gejala seperti lenting bisa muncul pada membran mukus di mulut, tidak sebaiknya Anda mengoleskan losion calamine ini pada bagian tubuh yang berselaput.

Jika rasa gatal tak kunjung mereda, biasanya dokter akan memberikan pil antihistamin yang bisa digunakan secara bersamaan dengan obat cacar air ini.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Guilfoile, P. (2010). Deadly Diseases and Epidemics: Chickenpox. New York: Infobase Publishing. 

Chickenpox | Prevention and Treatment | Varicella | CDC. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.cdc.gov/chickenpox/about/prevention-treatment.html

Chickenpox | Signs and Symptoms | Varicella | CDC. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.cdc.gov/chickenpox/about/symptoms.html

Calamine: Indications, Side Effects, Warnings – Drugs.com. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.drugs.com/cdi/calamine.html

Acyclovir topical Uses, Side Effects & Warnings – Drugs.com. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.drugs.com/mtm/acyclovir-topical.html

Acyclovir Topical: MedlinePlus Drug Information. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a606001.html

Tebruegge, M., Kuruvilla, M., & Margarson, I. (2006). Does the use of calamine or antihistamine provide symptomatic relief from pruritus in children with varicella zoster infection?. Archives of disease in childhood, 91(12), 1035–1036. https://doi.org/10.1136/adc.2006.105114

Gnann Jr. JW. Antiviral therapy of varicella-zoster virus infections. In: Arvin A, Campadelli-Fiume G, Mocarski E, et al., editors. Human Herpesviruses: Biology, Therapy, and Immunoprophylaxis. Cambridge: Cambridge University Press; 2007. Chapter 65. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK47401/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri