backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

15

Tanya Dokter
Simpan

Berbagai Kondisi yang Menimbulkan Sakit Kemaluan pada Anak

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Adhenda Madarina · Tanggal diperbarui 31/10/2022

Berbagai Kondisi yang Menimbulkan Sakit Kemaluan pada Anak

Tak hanya orang dewasa, sakit kemaluan juga bisa terjadi pada anak kecil. Rasa sakit yang muncul pada kemaluan bisa dipicu oleh beberapa kondisi. Sebagai orangtua, Anda memiliki peran penting untuk mengetahui gejala dan penyebab ketika anak mengeluh kemaluannya sakit. Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Apa saja penyebab sakit kemaluan pada anak?

cara mengatasi gangguan pencernaan pada anak

Anak kecil memang masih belum pandai merawat tubuhnya dengan baik. Maka tak heran, bila anak-anak rentan terhadap gangguan kelamin.

Sementara itu, agar tumbuh kembang si Kecil tetap maksimal, Anda perlu memerhatikan kesehatan fisiknya secara menyeluruh, termasuk area genital atau kemaluan.

Terkadang, anak merasa malu ketika harus menyampaikan adanya masalah di kelamin pada orangtuanya.

Sebelum mengeluh sakit, Anda perlu mewaspadai bila melihat anak perempuan atau laki-laki Anda menggosok dan menggaruk kemaluan.

Selain itu, mereka duduk atau berjalan dengan cara yang menunjukkan bahwa dia sedang tidak nyaman.

Orangtua harus jeli terhadap beberapa gangguan kesehatan yang mungkin terjadi di area kelamin anak hingga menimbulkan rasa sakit tersebut, di antaranya.

1. Balanitis

Rasa sakit pada kemaluan anak laki-laki kerap disebabkan oleh balanitis. Balanitis terjadi ketika peradangan pada kulup dan kadang-kadang kepala penis.

Mengutip Cleveland Clinic, balanitis lebih mungkin terjadi pada pria dan anak laki-laki yang tidak disunat di bawah usia 4 tahun.

Kondisi ini sangat umum dialami oleh anak laki-laki dan biasanya dipicu adanya infeksi jamur, tapi bisa juga karena infeksi bakteri atau virus.

Selain rasa sakit pada kemaluan, biasanya anak laki-laki dengan balanitis akan mengalami gejala lain, seperti.

  • Kemerahan atau bercak merah pada penis.
  • Gatal di bawah kulup.
  • Pembengkakan.
  • Penumpukan cairan kental.
  • Bau yang tidak sedap.
  • Kulup kencang.

Sebagian besar kasus sembuh tanpa jaringan parut. Kadang-kadang bisa kambuh dan menjadi masalah dengan rasa sakit, keluarnya cairan, dan jaringan parut.

Kendati begitu, balanitis pada anak-anak biasanya tidak serius dan menular karena gejalanya biasanya akan hilang dalam beberapa hari.

2. Ruam popok

Ruam popok menjadi kondisi umum yang dapat membuat kemaluan anak terasa sakit, perih, hingga timbul bercak merah.

Kondisi ini sering kali terjadi jika popok dibiarkan terlalu lama dan kotoran (atau popok itu sendiri) bergesekan dengan kulit kelamin berulang kali.

Selain itu, penggunaan beberapa jenis deterjen, sabun, popok (atau pewarna dari popok), atau tisu bayi juga dapat memicu ruam popok pada kulit bayi yang sensitif.

Untuk mencegah ruam popok, jaga agar area genital atau kemaluan anak Anda sekering dan sebersih mungkin dan sering-seringlah mengganti popok agar kotoran dan pipis tidak mengiritasi kulit.

Jika Anda menggunakan popok kain, periksa petunjuk produsen tentang cara terbaik untuk membersihkannya. Carilah popok yang bebas pewarna atau pewangi, bila kulit anak Anda sensitif.

3. Infeksi saluran kemih

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi umum pada anak-anak. Dalam NIH, disebutkan bahwa escherichia coli menyumbang 80 %  sampai 90% dari ISK pada anak-anak.

Infeksi saluran kemih tidak umum terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.  Penyakit infeksi ini jauh lebih sering terjadi pada anak perempuan.

Hal ini dikarenakan mereka memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki.

Namun, tidak menutup kemungkinan ISK terjadi pada anak laki-laki jika bagian dari saluran kemih tersumbat.

Anak laki-laki yang tidak disunat lebih berisiko terkena infeksi saluran kemih hingga menimbulkan rasa sakit pada kemaluan.

Selain rasa sakit pada kemaluan, demam yang tidak dapat dijelaskan adalah gejala ISK yang paling umum pada anak.

4. Vulvovaginitis

Jika anak perempuan Anda mengeluh bagian bawah yang sakit atau menggaruk area kemaluan terus, ia mungkin menderita vulvovaginitis. Anak kecil yang belum mengalami pubertas sangat rentan terhadap vulvovaginitis .

Hal ini dikarenakan anak perempuan Anda belum memiliki rambut kemaluan atau labia berlemak untuk melindungnya dari berbagai hal yang dapat dengan mudah mengiritasi kulit halus vulvanya.

Bahkan, benda asing yang bersarang di pakaian atau tisu toilet mungkin menyebabkan peradangan yang menyebabkan vulvovaginitis.

Gejala vulvaginitis lainnya yang mungkin menyertai, yakni.

  • Keputihan.
  • Sensasi rasa terbakar pada vagina.
  • Peradangan.
  • Gatal dan iritasi pada area genital.
  • Bau vagina yang tidak sedap.

Vulvovaginitis sering terjadi dan jarang menimbulkan kekhawatiran pada anak. Namun, segera periksa ke dokter bila anak Anda memiliki tanda-tanda vulvaginitis.

Terlebih lagi, jika gejala yang semakin parah dan berlangsung lebih dari satu minggu, atau terus berulang.

5. Infeksi cacing kremi

Tanda-tanda paling umum dari infeksi cacing kremi adalah gatal-gatal di sekitar anus dan sulit tidur.

Bahkan, rasa gatal biasanya lebih parah pada malam hari karena cacing berpindah ke daerah sekitar anus untuk bertelur.

Pada anak perempuan, infeksi cacing kremi dapat menyebar ke kemaluan dan menyebabkan keputihan hingga rasa sakit.

Jika anak Anda terkena infeksi cacing kremi, Anda mungkin akan melihat cacing di toilet setelah anak Anda pergi ke kamar mandi.

Cacing kremi terlihat seperti potongan-potongan kecil benang putih dan sangat kecil, kira-kira sepanjang staples. Anda mungkin juga melihatnya di pakaian dalam anak.

Pada dasarnya, infeksi cacing kremi pada anak tidak berbahaya dan bisa diobati termasuk dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan.

Kapan perlu ke dokter?

Penting untuk selalu memerhatikan perubahan kondisi apa pun pada si Kecil.

Terkadang, anak mungkin bingung atau belum memahami cara yang tepat untuk menyampaikan keluhan pada tubuhnya.

Jika Anda mengamati dan merasa ada gejala yang tidak biasa dan terus berulang pada anak, jangan tunda untuk segera memeriksakannya ke dokter.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Adhenda Madarina · Tanggal diperbarui 31/10/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan