Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Tak Perlu Panik, Begini Cara Mengatasi Demam pada Anak di Malam Hari

Tak Perlu Panik, Begini Cara Mengatasi Demam pada Anak di Malam Hari

Demam merupakan keluhan yang umum terjadi, termasuk pada anak-anak. Bahkan, demam pada anak juga menjadi alasan yang umum bagi orangtua untuk pergi ke unit gawat darurat (UGD) rumah sakit pada malam hari.

Pasalnya, demam kerap terjadi atau memburuk saat malam hari atau ketika memasuki waktu tidur. Nah, pertanyaannya, apakah orangtua harus selalu mengkhawatirkan demam anak yang terjadi di malam hari? Adakah cara yang dapat orangtua lakukan untuk mengatasinya?

Berbagai penyebab anak demam

long covid pada anak

Suhu tubuh memang kerap mengalami perubahan sepanjang hari.

Namun, jika suhu tubuh anak Anda melebihi batas normal (37° Celsius), kondisi ini bisa menjadi tanda dari demam.

Demam itu sendiri merupakan reaksi normal tubuh saat melawan infeksi, penyakit, atau penyebab lainnya.

Pasalnya, suhu tubuh yang tinggi membuat kuman penyebab penyakit menjadi kurang nyaman sehingga cenderung mudah dimusnahkan.

Artinya, demam bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda terhadap masalah kesehatan tertentu.

Adapun kondisi medis yang menyebabkan demam ini bisa beragam.

Pada anak dan bayi, kondisi-kondisi berikut bisa menjadi penyebab dari demam, termasuk yang terjadi saat malam hari.

Mengapa demam sering memburuk pada malam hari?

Seperti penjelasan sebelumnya, suhu tubuh terus mengalami perubahan sepanjang hari.

Nah, pada malam hari, suhu tubuh umumnya mengalami peningkatan secara alami.

Akibat kondisi tersebut, demam yang ringan saat siang hari sekali pun dapat dengan mudah melonjak pada malam hari.

Inilah yang menyebabkan demam pada anak sering terjadi atau cenderung memburuk saat ia tidur.

Selain itu, beberapa penyakit yang bisa menimbulkan demam pun dapat memburuk saat malam hari sehingga ikut menaikkan suhu tubuh anak Anda.

Misalnya, anak yang menderita asma cenderung lebih sulit bernapas pada malam hari.

Hal ini juga bisa memperburuk demam.

Ini terjadi karena hormon kortisol dan adrenalin umumnya ditekan saat Anda tertidur.

Bila dua hormon ini berkurang, gejala asma pada anak yang disebutkan di atas cenderung terjadi.

Berkaca pada penjelasan tersebut, tidak selamanya demam pada anak merupakan kondisi medis yang serius.

Tidak semua anak demam yang dibawa ke UGD pada malam hari pun akan berakhir dengan rawat inap di rumah sakit.

Pada kondisi yang ringan, Anda hanya perlu membantu untuk mengatasi dan menurunkan demam pada anak di malam hari.

Namun, jangan sampai pula Anda menyepelekan kondisi yang satu ini karena bisa menjadi tanda dari kondisi medis yang serius.

Cara mengatasi demam pada anak di malam hari

Anak sakit

Sebagian besar kasus demam tidak memerlukan perawatan khusus.

Namun, Anda dapat membantu meringankan gejala yang dirasakan si kecil dengan cara-cara sebagai berikut.

1. Jaga cairan tubuh anak tetap stabil

Saat demam, tubuh si kecil dapat kehilangan cairan secara cepat sehingga menyebabkan dehidrasi.

Jika ini terjadi, dehidrasi pada anak dapat menyebabkan komplikasi serius dan memperburuk gejala demam.

Oleh karena itu, hindari dehidrasi dengan membantu memenuhi kebutuhan cairan anak.

Pada malam hari, Anda bisa memberinya air putih, susu atau ASI (bagi yang masih menyusui), maupun jus untuk anak.

2. Obat penurun panas

Penggunaan obat penurun panas bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh dan membuat anak merasa lebih nyaman.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) mengungkapkan bahwa parasetamol merupakan lini pertama untuk menurunkan demam dan menghilangkan nyeri.

Namun, jika si kecil berusia di bawah 2 bulan, Anda harus berkonsultasi pada dokter sebelum memberikan jenis pengobatan apapun.

Hal ini menjadi salah satu alasan agar segera mencari bantuan pertolongan dokter anak saat ia demam di malam hari .

3. Mengenakan pakaian longgar atau lebih nyaman

Pilih pakaian untuk si kecil dengan bahan yang ringan dan lembut serta menggunakan kain atau selimut tipis.

Menggunakan pakaian yang berlebihan dapat membuat panas tubuh terjebak dan menyebabkan suhu tubuh naik.

Bukan cuma itu, cara mengatasi anak demam di malam hari juga dapat dilakukan dengan mengatur suhu kamar atau ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin.

Suhu ruangan yang tepat bisa membantu anak mendapatkan waktu tidur yang cukup dan berkualitas.

4. Kompres

Kompres merupakan cara yang sudah lama dipercaya dapat menurunkan suhu tubuh ketika demam.

Namun, kompres untuk menurunkan demam sebaiknya tidak menggunakan es atau air dingin karena dapat membuat badan menggigil.

Sebaliknya, gunakan kain yang direndam air hangat, kemudian letakkan di lipat ketiak dan selangkangan selama 10-15 menit.

Cara ini dapat membantu menurunkan suhu tubuh karena panas dapat keluar dari pori-pori kulit melalui proses penguapan.

5. Skin to skin

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ibu dan bayi bila melakukan kontak skin to skin setelah melahirkan.

Selain membantu proses menyusui, kontak skin to skin juga dapat membantu mengatur suhu tubuh bayi.

Nah, ternyata, hal ini tidak hanya bermanfaat pada bayi yang baru lahir.

Faktanya, kontak skin to skin juga bisa menjadi cara termudah untuk membantu menurunkan suhu tubuh serta mengatasi demam anak di malam hari.

Kapan harus menemui dokter?

operasi hernia umbilikalis pada anak

Tingkat temperatur yang pasti dapat menentukan pertimbangan untuk menemui dokter, tetapi tetap harus mempertimbangkan usia, penyakit yang diderita, dan gejala lain yang menyertai demam.

Konsultasikan ke dokter jika anak demam malam hari dengan beberapa faktor berikut.

  • Berusia di bawah 3 bulan dengan suhu tubuh lebih dari 38° Celsius.
  • Berusia lebih dari 3 bulan dengan suhu tubuh lebih dari 39° Celsius.

Selain itu, jika demam menunjukan angka di bawah 39° Celsius, Anda perlu berkonsultasi kepada dokter jika disertai gejala lainnya atau pada kondisi tertentu, seperti berikut.

  • Menolak untuk minum air.
  • Anak diare, mual dan muntah, serta sakit perut yang parah.
  • Menunjukan tanda-tanda dehidrasi (seperti frekuensi buang air kecil lebih sedikit atau tidak keluar air mata saat menangis).
  • Merasa sakit saat buang air kecil.
  • Terus menerus terjadi setiap malam.
  • Memiliki kondisi medis khusus, seperti kanker, lupus, atau penyakit jantung pada anak.
  • Timbul ruam.
  • Kejang pada anak atau tidak sadar.
  • Anak batuk hingga tidak bisa tidur.

Intinya, sebelum membawa si kecil ke dokter atau rumah sakit karena alasan demam, Anda perlu memeriksa gejala lain.

Pasalnya, demam biasa cukup umum terjadi pada anak dan akan hilang dengan sendirinya dengan cara-cara mudah seperti di atas.

Verifying...


Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Children’s Fever at Night: When do I see a doctor? – Projects. Child Research Net. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://www.childresearch.net/projects/health/2016_04.html

default – Stanford Children’s Health. Stanfordchildrens.org. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=fever-in-children-90-P02512

Fevers (for Parents) – Nemours KidsHealth. Kidshealth.org. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/fever.html

Penanganan Demam pada Anak. IDAI. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/penanganan-demam-pada-anak

Skin-to-skin contact – Baby Friendly Initiative. Baby Friendly Initiative. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://www.unicef.org.uk/babyfriendly/baby-friendly-resources/implementing-standards-resources/skin-to-skin-contact/#:~:text=What%20is%20skin%2Dto%2Dskin,until%20after%20the%20first%20feed

Why does a fever seem to spike at night?. Swedish. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://blog.swedish.org/swedish-blog/why-does-a-fever-seem-to-spike-at-night

Why Kids get Sicker at Night – Cove Road Elementary. Hazlet.org. (2022). Retrieved 21 February 2022, from https://www.hazlet.org/4/Content2/664

Beiranvand, S., Valizadeh, F., Hosseinabadi, R., & Pournia, Y. (2014). The Effects of Skin-to-Skin Contact on Temperature and Breastfeeding Successfulness in Full-Term Newborns after Cesarean Delivery. International journal of pediatrics2014, 846486. https://doi.org/10.1155/2014/846486

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Mar 15
Ditinjau secara medis oleh dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A