Kejang Demam (Step) pada Anak, Apa yang Harus Dilakukan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kejang pada saat anak demam (step), sering membuat orangtua khawatir. Kondisi ini sering terjadi pada sekitar 2-4 persen anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun. Kejadian step sering dihubung-hubungkan dengan kondisi epilepsi dan gangguan perkembangan anak, namun benarkah hal tersebut?

Apa itu kejang demam (step)?

kejang demam pada anak

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), step adalah kejang yang terjadi saat ada peningkatan suhu tubuh. Biasanya  di atas 38 derajat celcius, yang disebabkan oleh suatu proses di luar otak.

Kondisi ini terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun, dengan gejala demam yang mendahului kejang. Gejala step yaitu: 

  • Anak tidak sadar saat kejang, setelah kejang kesadaran biasanya kembali
  • Kekakuan pada kaki atau tangan
  • Kaki atau tangan tegang dan bergerak tidak beraturan
  • Mata mendelik atau berkedip-kedip

Berdasarkan gejala yang timbul, lama kejang dan jenis kejang, step dapat dibedakan atas dua jenis.

Pertama, kejang demam sederhana yang berlangsung  kurang dari 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam, kejang terjadi di seluruh tubuh.

Kedua, kejang demam kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit, dapat berulang dalam 24 jam, kejang terjadi di salah satu bagian tubuh.

Apa penyebab kejang demam (step)?

kejang pada anak

Belum ada penyebab pasti dari kondisi kejang demam ini. Namun, mengutip dari Kids Health, beberapa kasus menunjukkan bahwa kondisi ini ada hubungannya dengan virus dan cara otak anak yang sedang berkembang, bereaksi pada demam tinggi.

Peningkatan suhu mendadak yang disebabkan oleh adanya peradangan atau penyakit infeksi anak juga menjadi penyebabnya. Diduga faktor genetik juga berperan dalam kejadian kejang demam.

Hal ini disebabkan adanya perbedaan ambang kejang pada anak. Pasalnya, ada anak yang kejang saat suhu tubuh 38 derajat celcius, ada juga yang baru kejang saat suhunya di atas 40 derajat celcius.

Pada kasus yang sangat langka, step bisa terjadi sebagai efek samping imunisasi.

Dapatkah kejang demam terjadi berulang?

flu singapura adalah, flu singapura pada anak, ciri-ciri flu singapura, gejala flu singapura, obat flu singapura, flu singapura pada bayi, flu singapura

Pada sebagian kasus, kondisi step pada anak dapat berulang. Kemungkinan kejang berulang terutama pada tahun pertama, dan faktor risiko yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:

  • Riwayat kejang demam dalam keluarga
  • Usia kurang dari 12 bulan
  • Temperatur yang rendah saat kejang
  • Cepatnya kejang setelah demam

Apabila ditemukan faktor-faktor di atas, maka kemungkinan step akan berulang sekitar 80 persen. Sementara itu apabila tidak ditemukan faktor risiko, maka kemungkinan berulang sebesar 10-15 persen.

Apakah kejang demam berbahaya?

anak sering sakit demam setelah vaksin hib

Sampai saat ini tidak ada laporan kematian anak yang disebabkan step. Kecacatan sebagai komplikasi juga tidak pernah dilaporkan.

Perkembangan motorik, mental dan kecerdasan pada anak yang terlahir normal, umumnya tetap normal  meski pernah mengalami kondisi ini.

Kejang demam biasanya menghilang dengan sendirinya saat anak berusia 5 tahun. Kejadian epilepsi terjadi pada  kurang dari 5 persen anak dengan step dan umumnya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain, seperti:

  • Adanya kelainan perkembangan atau kecerdasan yang jelas sebelum terjadinya step pertama
  • Step kompleks
  • Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Setiap faktor risiko di atas meningkatkan kemungkinan terjadinya epilepsi sebesar 4-6 persen. Apabila ditemukan semuanya, kemungkinan epilepsi meningkat sampai 10-49 persen.

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah step.

Apabila kejang terjadi di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, atau setelah kejang anak tetap tidak sadar, maka dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab lain kejang seperti meningitis, ensefalitis, atau epilepsi.

Bagaimana cara menangani step?

cara mengatasi anak demam

Step merupakan kondisi yang umumnya tidak berbahaya, sehingga orangtua tidak perlu khawatir berlebihan apabila terjadi kejang.

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan saat anak kejang:

  • Tetap tenang dan tidak panik.
  • Pindahkan anak ke tempat aman, jauhkan dari barang berbahaya seperti barang pecah belah, benda tajam, atau sumber listrik.
  • Longgarkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher.
  • Ukur suhu anak saat kejang, amati seberapa lama kejang dan apa yang terjadi saat kejang untuk data dokter saat pemeriksaan.
  • Miringkan anak agar makanan atau minuman dalam mulut keluar sehingga tidak tersedak.
  • Hindari memasukkan apapun ke dalam mulut anak.
  • Hindari menahan kaki atau tangan anak dengan paksa saat kejang karena dapat menimbulkan patah tulang.
  • Tetap bersama anak saat kejang.

Bila sebelumnya pernah kejang, dokter biasanya membekali orangtua dengan obat diazepam yang dimasukan lewat pantat. Berikan jika anak masih kejang dan jangan diberikan bila kejang sudah berhenti.

Bagaimana cara mencegah step?

Anak sakit

Prinsip pencegahan kejang demam adalah dengan menurunkan panas saat anak demam dengan pemberian obat pereda demam, seperti paracetamol.

Pilihlah bentuk sediaan obat cair (sirup) yang sesuai dan mudah dikonsumsi anak-anak. Bagi bayi yang belum bisa mengonsumsi oral (diminum atau ditelan) dapat diberikan sediaan enema atau penggunaan melalui rektal (dubur). 

Berikan anak kompres hangat, pada dahi, ketiak, atau lipatan siku. Berikan anak minum yang banyak untuk menurunkan suhu.

Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah agar dapat mengukur suhu anak dan dapat memberikan pencegahan seperti yang sudah disebutkan.

Kapan harus ke dokter?

dokter anak

Orangtua perlu membawa si kecil ke dokter bila mengalami hal ini, mengutip dari NHS:

  • Anak mengalami kejang demam untuk pertama kalinya.
  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit dan tidak ada tanda akan berhenti.
  • Anak kejang dengan penyakit serius lainnya, seperti meningitis.
  • Anak kesulitan bernapas.

Ketika melihat tanda di atas, segera bawa si kecil ke dokter. Petugas medis akan mendiagnosis step berdasarkan kondisi yang terjadi saat itu.

Kemungkinan dokter akan melakukan pemeriksaan darah atau tes urine bila step disertai dengan penyakit serius lain.

Observasi untuk diagnosis kondisi ini dilakukan di rumah sakit bila anak mengalami kejang demam yang kompleks. Terutama jika si kecil berusia di bawah 12 bulan (1 tahun).

Beberapa tes yang akan dilakukan. Pertama electroencephalogram (EEG) untuk mengukur aktivitas kelistrikan otak anak. Bila ada pola yang tidak biasa, kemungkinan mengalami epilepsi.

Kedua, prosedur lumbar puncture atau lumbal pungsi. Ini adalah pengambilan cairan tulang belakang dan otak (serebrospinal).

Serebrospinal (CSF) adalah cairan bening yang mengelilingi dan melindungi otak dan sumsum tilang belakang. Prosedur lumbar puncture bisa digunakan untuk menentukan apakan anak mengalami infeksi pada otak atau sistem sarafnya.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Suhu Tubuh Normal dan Penyebab Suhu Tubuh Naik-Turun

Suhu tubuh orang yang sehat bisa naik-turun selama seharian ia beraktivitas. Lantas, berapa suhu tubuh normal yang seharusnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan, Informasi Kesehatan 11 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Penting! Ini 5 Manfaat Baca Buku untuk Tumbuh Kembang Anak

Membaca merupakan kegiatan posistif bagi siapa pun, termasuk anak-anak. Apa saja manfaat baca buku untuk anak? Cari tahu jawabannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Pilek

Pilek adalah salah satu kondisi yang umum menyerang. Namun, penyakit ini nyatanya beda dengan flu. Lantas, apa itu pilek? Apa bedanya dengan flu?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Flu, Kesehatan Pernapasan 1 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kanker penyebab BAB berdarah

BAB Sering Berdarah? Hati-hati, Bisa Jadi Tanda Kanker pada Saluran Cerna

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
demam pada anak

Demam Anak Tidak Sembuh-Sembuh Meski Sudah Minum Obat, Harus Bagaimana?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit