Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sebelum Memberikan Yoghurt untuk Bayi, Ini Panduan yang Perlu Dipahami

Sebelum Memberikan Yoghurt untuk Bayi, Ini Panduan yang Perlu Dipahami

Yoghurt termasuk makanan kaya protein dan bisa bantu melancarkan pencernaan. Yoghurt bukan hanya bermanfaat untuk orang dewasa, bayi dan anak pun ternyata juga membutuhkannya. Akan tetapi, kapan waktu yang tepat untuk memberikan yoghurt kepada bayi?

Di usia berapa orangtua boleh berikan yoghurt untuk bayi?

perkembangan bayi 11 minggu

Yoghurt bukan hanya susu yang berbentuk kental, melainkan hasil olahan dari susu yang difermentasikan.

Yoghurt sudah bisa Anda berikan untuk bayi sejak ia berusia 6 bulan.

Ini karena pada usia di atas 6 bulan, bayi sudah boleh memulai makan makanan yang bertekstur lebih padat dari sebelumnya yang hanya ASI.

Makanan dengan tekstur padat ini disebut dengan makanan pendamping ASI (MPASI).

Jika Anda masih merasa was-was saat ingin memberikan yoghurt untuk bayi, Anda bisa memberikannya di sekitar usia 9-10 bulan.

Pertimbangkan juga takaran saji yoghurt yang sesuai untuk usia bayi saat ini.

Takaran saji yoghurt untuk bayi usia dari 8-12 bulan yang dianjurkan biasanya sebanyak ¼ atau ½ cangkir.

Ketika buah hati Anda memasuki usia 12-24 bulan, Anda bisa memberikannya lebih dari ½ cangkir yoghurt.

Selain mempertimbangkan kapan pemberiannya, Anda juga harus berhati-hati dengan jenis yoghurt yang dibeli terutama bila bayi punya alergi susu sapi.

Biasanya, produk susu (dairy product) tidak dianjurkan untuk bayi sampai usianya minimal 12 bulan atau 1 tahun.

Hanya saja, pengecualian untuk yoghurt dan keju untuk bayi yang bisa dikonsumsi sebelum usia 12 bulan.

Namun kembali lagi, hal ini tentu sebaiknya dipertimbangkan sesuai kondisi tubuh dan kebutuhan bayi agar tetap dapat memberikan manfaat yang optimal.

Apa manfaat yoghurt untuk bayi?

yogurt untuk bayi

Yoghurt baik diberikan untuk bayi karena bermanfaat dan bergizi.

Asupan yoghurt dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi bayi agar tidak terjadi masalah gizi pada bayi.

Selain mudah dicari, yoghurt memiliki kandungan probiotik dan protein di dalamnya.

Kandungan probiotik ini dapat mendukung kerja sistem kekebalan tubuh untuk menjaga sistem pencernaan dari serangan bakteri jahat penyebab masalah pencernaan.

Bukan hanya itu, kandungan laktosa yang ada di dalam yoghurt juga lebih sedikit dibandingkan dengan susu murni.

Hanya saja, bila bayi telah didiagnosis punya intoleransi laktosa atau alergi susu sapi, sebaiknya perhatikan apakah ia menunjukkan gejala alergi, melansir dari New Kids Center.

Ini karena bayi yang alergi susu sapi berisiko untuk mengalami alergi yoghurt, terutama bila yoghurt tersebut diolah dari susu sapi.

Jadi, alangkah baiknya untuk memeriksakan kondisi bayi lebih lanjut dengan dokter anak bila ia terlihat mengalami gejala alergi.

Berhati-hatilah memilih yoghurt untuk bayi

Yoghurt memang bisa jadi camilan sehat untuk sang buah hati. Akan tetapi, yoghurt juga bisa jadi junk food untuk anak.

Sebab, beberapa merek yoghurt mengandung pemanis buatan sebagai tambahan, pewarna buatan, tinggi sirup jagung fruktosa, dan bahan pengental.

Yoghurt seperti ini sebaiknya dihindari dan tidak diberikan pada si kecil.

Selain itu, pilih yoghurt asli yang memang mengandung probiotik, yaitu bakteri baik yang bisa melancarkan pencernaan.

Sebaiknya, baca label makanan dulu sebelum membelinya utuk tahu apakah produk itu mengandung probiotik.

Jika terdapat label produk mengandung bakteri aktif, artinya bakteri baik di dalam yoghurt masih hidup dan belum hancur akibat proses pembuatan yoghurt.

Selain itu, pilihlah yoghurt plain untuk mengurangi kemungkinannya ada pemanis dan pewarna tambahan yang tidak perlu bagi anak.

Baca juga informasi nilai gizi yang tertera pada yoghurt kemasan apakah ada gula tambahannya.

Biasanya kandungan gula laktosa cukup aman untuk si kecil karena alami dari yoghurt, bukan pemanis tambahan.

Jika ada kata gula atau sebutan kristal tebu, pemanis gaung, sirup jagung, fruktosa, dekstrosa, maltosa, sirup malt, sukrosa, perhatikan seberapa banyak kandungannya.

Sebaiknya pilihlah yang tidak mengandung gula tambahan atau yang kandungan gula tambahannya paling sedikit.

Jika anak Anda masih di bawah 24 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan yoghurt dengan label rendah lemak

Bolehkah memberikan yoghurt bila bayi alergi susu sapi?

alergi anak

Jika si kecil memiliki alergi terhadap protein susu, sebaiknya hindari dahulu memberikan yoghurt untuk anak.

Seperti yang sudah disinggung di awal, bayi yang alergi susu sapi berisiko untuk mengalami alergi yoghurt.

Diskusikan dulu pada dokter apakah memungkinkan bila Anda memberikan yoghurt untuk bayi sebagai campuran makanan bayi maupun cemilan bayi sesuai jadwal MPASI.

Sebab, yoghurt juga mengandung laktosa seperti susu meskipun kandungan laktosa nya sedikit berbeda.

Bila Anda belum mengetahui kondisinya dengan pasti, coba berikan dan lihat efeknya.

Mengutip dari laman Sleep Baby, setelah Anda coba memberikan yoghurt untuk bayi, tunggulah setidaknya 3 hari ke depan dan lihat apakah ada reaksi alergi.

Selama 3 hari ke depan ini jangan berikan makanan baru lainnya agar bisa melihat efek sebab dan akibat dari yoghurt ke tubuh bayi.

Intoleransi laktosa sebenarnya jarang terjadi pada bayi, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Kadang, bayi yang punya intoleransi laktosa masih aman untuk diberikan yoghurt. Berbeda dengan produk susu lainnya, yoghurt biasanya lebih mudah ditoleransi oleh perut bayi.

Akan tetapi, agar lebih yakin, usahakan untuk segera memeriksakan kondisi si kecil ke dokter anak saat diketahui memiliki intoleransi laktosa terlebih mengalami gejala alergi susu sapi.

Gejala umum reaksi alergi seperti, bintik-bintik merah, gatal, bengkak di sekitar bibir atau mata, muntah dalam waktu dua jam setelah makan makanan baru.

Jika gejala ini terjadi, kemungkinan buah hati Anda mengalami alergi.

Cara mengolah yoghurt untuk si kecil

greek yogurt

Usai memilih dan membeli yoghurt jenis apa pun sesuai kemampuan bayi, Anda bisa langsung memberikannya.

Supaya tidak cepat bosan, Anda juga bisa mengolah yoghurt ke dalam berbagai menu MPASI di waktu makan utama maupun makan selingan (camilan).

Namun selain itu, berikut beberapa cara mudah mengolah yoghurt untuk bayi:

1. Mencampur yoghurt dengan buah-buahan

Yoghurt bisa dicampur dengan buah kesukaan si kecil.

Buah favorit si kecil tersebut bisa Anda potong-potong sesuai dengan ukuran yang mampu dimakannya.

2. Buat makanan lunak dari campuran buah

Selain itu, Anda juga bisa membuat makanan lunak dari campuran buah seperti mangga atau strawberry.

Supaya lebih mudah dimakan si kecil, coba hancurkan buah-buahan tersebut tapi tidak begitu halus baru dicampur dengan yoghurt.

Anda juga bisa menambahkan topping berupa madu untuk bayi maupun keju sesuai takaran.

3. Buat yoghurt dengan sereal

Campuran semangkuk yoghurt dengan sereal dapat menjadi pilihan menu sarapan untuk si kecil.

Sebagai variasi lainnya, Anda bisa menambahkan potongan buah untuk bayi agar semakin memperkaya kandungan nutrisinya, termasuk vitamin untuk bayi.

4. Smoothie yoghurt

Olahan minuman dengan campuran yoghurt juga bisa Anda berikan untuk bayi.

Anda bisa memblender satu atau beberapa jenis buah secara bersamaan. Setelah diblender, kemudian tambahkan yoghurt plain ini dan jadilah smoothie.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita