Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apakah Kaldu Instan Organik dan Nonorganik Aman untuk MPASI Bayi?

Penambahan kaldu untuk MPASI dari tulang, daging, atau ayam dapat menambah kelezatannya. Namun, cara ini dianggap kurang praktis apalagi di tengah kesibukan ibu mengasuh si kecil. Itu sebabnya, banyak ibu yang beralih ke kaldu instan untuk bayi. Bahkan, kini sudah cukup banyak dijual kaldu instan untuk MPASI dengan klaim organik. Kaldu tersebut dianggap lebih sehat dan aman.

Benarkah demikian? Apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih kaldu instan untuk bayi, baik yang organik maupun bukan organik?

Mengenal perbedaan kaldu instan organik dan nonorganik

kaldu untuk mpasi

Sebelum memutuskan pemberian kaldu untuk MPASI bayi, sebaiknya pahami terlebih dahulu apa itu kaldu instan organik.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebuah produk baru bisa disebut sebagai pangan organik apabila terbuat dari 95% bahan organik.

Untuk membuat produk kaldu ayam instan organik, dibutuhkan sejumlah persyaratan khusus antara lain sebagai berikut.

  • Ayam yang digunakan sebagai bahan kaldu harus hidup dan dibiakkan di lingkungan yang alami dan sehat.
  • Ayam tersebut diberi makan dengan pakan organik
  • Ayam tidak diberikan hormon pertumbuhan dan antibiotik.
  • Proses pengolahannya kaldu instan harus menggunakan fasilitas yang sudah tersertifikasi Lembaga Sertifikasi Organik.
  • Pembuatannya tidak boleh menggunakan bahan tambahan makanan, seperti pewarna, pengawet, dan perasa buatan.

Namun, bukan berarti pangan olahan organik tidak menggunakan bahan tambahan sama sekali.

Ada sejumlah bahan tambahan seperti pemanis, pengawet, pengemulsi yang diizinkan oleh BPOM untuk ditambahkan pada makanan organik.

Sebaliknya, kaldu instan yang bukan organik tidak semua bahan-bahan pembuatannya berasal dari organik.

Jika ada bahan organik di dalam kaldu instan biasa, biasanya tetap dicampur dengan bahan-bahan lainnya.

Benarkah kaldu instan organik lebih sehat untuk bayi?

protein nabati untuk mpasi

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, bisa ibu ketahui bahwa proses pembuatan kaldu instan organik sangat cermat.

Proses tersebut mulai dari pemilihan bahan hingga masuk ke tahap akhirnya. Hal inilah yang membuat kaldu instan organik cukup aman sebagai penyedap rasa untuk MPASI bayi.

Namun, sebelum membeli, pastikan Anda memilih kaldu instan untuk bayi yang asli, yaitu berasal dari produk olahan organik yang bersertifikat resmi.

Pasalnya, produk organik belum tentu lebih sehat dibandingkan dengan nonorganik.

Jadi, ibu sebaiknya tetap memperhatikan komposisi kaldu instan organik maupun yang tidak organik.

Perhatikan hal ini saat memilih kaldu instan untuk bayi

Meskipun terbilang aman untuk bayi, bila Anda ingin menggunakan kaldu instan organik untuk bayi, pastikanlah hal-hal berikut.

1. Pastikan produk memiliki sertifikat organik

Baca dengan teliti label pangan saat memilih produk dan hindari langsung tergiur membeli semata karena embel-embel organik.

Banyak sekali produk makanan termasuk kaldu instan untuk bayi yang mencantumkan kata organik, tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan keamanannya.

Kaldu yang dijamin organik adalah yang sudah tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).

Tandanya, pada kemasannya terdapat label berbentuk lingkaran berwarna hijau dan putih bertuliskan “Organik Indonesia”.

2. Hindari kaldu instan yang mengandung garam dan gula yang tinggi

Tidak berhenti sampai memastikan keamanannya, hal berikutnya yang harus Anda perhatikan adalah kandungan gizi yang terdapat pada produk kaldu instan untuk bayi.

Perlu Anda pahami bahwa produk olahan organik belum tentu memiliki kandungan yang sesuai dengan kebutuhan si kecil.

Jangan sampai kaldu instan untuk MPASI yang Anda pilih terlalu banyak mengandung garam, gula, penyedap rasa, dan pengawet.

Meskipun semua bahan-bahan tersebut diizinkan oleh BPOM, Anda tetap harus menyesuaikan kadarnya.

Penyedap rasa organik untuk bayi memang membuat MPASI menjadi lebih enak.

Akan tetapi, jika kadar garamnya terlalu tinggi tentu tidak baik untuk kesehatan.

Menurut Dietary Guideline for Americans, kebutuhan garam untuk bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun hanya sebesar 370 mg/hari.

Pastikan Anda membaca label kemasannya dan menghitung jumlah yang tepat untuk ditambahkan ke makanan.

3. Teliti kembali kandungan gizi pada kaldu instan tersebut

Salah satu hal yang membedakan makanan bayi dengan makanan biasa adalah kandungan gizinya.

Idealnya, kaldu instan untuk MPASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan zat gizi makro dan mikro si kecil.

Saat menginjak usia 6 bulan, kandungan zat besi dan seng dalam ASI sudah tidak cukup memenuhi kebutuhan bayi.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih bahan MPASI yang mengandung zat besi dan seng yang tinggi.

Kedua zat ini dapat diperoleh dari makanan berprotein tinggi atau sereal yang sudah diperkaya protein.

4. Perkenalkan rasa kaldu secara bertahap

Hal yang perlu Anda perhatikan saat memberikan penyedap rasa untuk bayi, baik kaldu yang instan maupun yang alami, adalah memberikannya secara bertahap.

Ini karena rasa kaldu yang cukup tajam sehingga bayi sehingga lidah bayi butuh waktu untuk beradaptasi.

Selain itu, sebaiknya Anda tidak membiasakan si kecil makan makanan yang terlalu tajam rasanya.

Jika sudah terbiasa sejak bayi, ketika semakin besar ia mungkin hanya akan menyukai makanan serupa.

Padahal, makanan yang terlalu berbumbu belum tentu baik karena bisa jadi banyak mengandung natrium (garam) yang dapat memicu kenaikan tekanan darah.

5. Perhatikan cara penyimpanannya

Kaldu instan untuk bayi biasanya berbentuk bubuk yang larut saat dicampur dengan air.

Produk bubuk seperti ini perlu disimpan di tempat yang kering dan kedap udara.

Selain menyebabkan bubuknya mengeras, menaruhnya di tempat lembab juga dapat memicu pertumbuhan bakteri.

Simpanlah kaldu instan organik di suhu ruang, bukan di lemari pendingin.

Selain memastikan tempat penyimpanan, pastikan pula Anda menutup kemasannya serapat mungkin setelah digunakan.

Produk ini sangat mudah rusak jika terkena udara dalam waktu yang lama.

Bila memungkinkan, pilihlah produk kaldu instan untuk bayi dalam kemasan botol agar bisa ditutup dengan baik.

Jika Anda membeli kemasan saset, sebaiknya tuanglah isinya ke dalam botol kecil yang bisa ditutup rapat.

6. Kaldu instan untuk bayi adalah pilihan terakhir

Meskipun kaldu instan organik maupun bukan organik termasuk aman untuk si kecil, sebaiknya Anda tidak menjadikannya sebagai pilihan yang utama.

Sebisa mungkin buatlah kaldu dari bahan-bahan yang segar seperti dari hasil rebusan tulang, daging, ayam, atau ikan.

Bagaimanapun, produk instan sudah melalui sejumlah proses sampai berbentuk bubuk.

Akibatnya, kandungan gizinya lebih rendah daripada kaldu yang dibuat langsung dari bahan alami.

Sebaiknya, pakailah kaldu instan untuk MPASI bayi sesekali saja, misalnya pada kondisi darurat saat Anda benar-benar tidak sempat membuat kaldu alami.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Peraturan Kepala BPOM tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik. (2008). Retrieved 19 August 2021, from https://standarpangan.pom.go.id/dokumen/peraturan/2017/PerKa_BPOM_No_1_Tahun_2017_Pengawasan_Pangan_Olahan_Organik.pdf

Retrieved 19 August 2021, from https://wicworks.fns.usda.gov/wicworks/Topics/FG/Chapter5_ComplementaryFoods.pdf

Direktorat Registrasi Pangan Olahan. Retrieved 19 August 2021, from http://registrasipangan.pom.go.id/index.php/page/pangan_organik_label

Organic 101: What Organic Farming (and Processing) Doesn’t Allow. (2017). Retrieved 19 August 2021, from https://www.usda.gov/media/blog/2011/12/16/organic-101-what-organic-farming-and-processing-doesnt-allow

Your baby’s first solid foods. (2019). Retrieved 19 August 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/baby/weaning-and-feeding/babys-first-solid-foods/

Dietary Guideline for Americans (2020). Retrieved 19 August 2021, from https://www.dietaryguidelines.gov/sites/default/files/2020-12/Dietary_Guidelines_for_Americans_2020-2025.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 26/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita