home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ini Akibatnya Jika Anak Tidak Diperbolehkan Menangis Semasa Kecil

Ini Akibatnya Jika Anak Tidak Diperbolehkan Menangis Semasa Kecil

Terkadang, tangisan anak yang tidak diketahui sebabnya membuat Anda tak nyaman. Oleh karena itu, Anda berusaha menghentikan tangisnya dengan berbagai cara. Mungkin Anda berpikir tindakan tersebut adalah hal yang benar dan sudah seharusnya dilakukan. Namun, terlalu sering melarang anak menangis ternyata tidak baik untuk perkembangan emosionalnya. Ada beberapa dampak yang akan muncul saat dewasa nanti jika anak tidak boleh menangis.

Mengapa anak terutama laki-laki tidak boleh menangis?

trauma ptsd pada anak

Ada beberapa saat di mana anak menangis bukan karena rasa sakit akibat terjatuh atau menabrak sesuatu. Anak bisa saja menangis ketika mereka merasa sedih dan frustrasi. Apalagi, mereka terkadang belum begitu mengerti tentang perasaannya sendiri, sehingga sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sayangnya, beberapa orang tua cenderung mengabaikan atau malah memarahi anak yang mulai menangis, terutama laki-laki. Sebagian orang tua masih menganggap bahwa anak laki-laki harus menjadi anak yang kuat dan tidak boleh cengeng. Ada juga orang tua yang menekankan bahwa menangis hanya akan buang-buang waktu.

Terkadang orang tua cenderung menyepelekan hal-hal yang dirasakan anak. Misalnya, anak merasa sedih karena teman terdekatnya pindah ke tempat yang jauh. Setelah mengetahui alasan dibalik tangisan si kecil, orang tua pun berkata, “Masa gitu doang nangis?”

Padahal, setiap emosi yang muncul di dalam diri anak sangat penting. Manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk lainnya dalam hal merasakan dan mengekspresikan emosi. Emosi atau luapan peasaan sudah menjadi salah satu bentuk bagi makhluk hidup untuk berkomunikasi. Memisahkannya dari kehidupan akan sangat mustahil.

Memang, manusia selalu dihadapkan pada penilaian akan baik atau buruknya sesuatu termasuk emosi. Emosi berupa kesenangan, antusiasme, dan cinta dianggap sebagai emosi yang baik. Sedangkan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan adalah emosi yang buruk.

Seringnya, orang tua terlalu berfokus pada emosi yang baik, sehingga ketika anak menyalurkan emosi buruknya lewat menangis orang tua akan cenderung mengabaikan atau malah menghentikannya.

Ketika anak terlalu sering dilarang menangis, ia akan merasa bahwa emosi yang dirasakannya merupakan sesuatu yang salah. Bisa juga anak merasa malu setelahnya. Kelamaan, anak jadi terbiasa memendam perasaan dan terus-terusan menunjukkan gelagat yang baik-baik saja. Tanpa sadar, anak menekan dirinya sendiri.

Melarang anak memengaruhi mental mereka saat dewasa

Pola didikan orang tua pada anak di masa kecilnya akan terbawa sampai dewasa. Termasuk bagaimana reaksi dan cara Anda memberitahu serta membimbing anak saat ia merasakan emosi-emosi tertentu.

Berbagai dampak ini mungkin akan muncul pada anak-anak yang semasa kecilnya tidak diperbolehkan menangis dan sering menahan perasaan sedihnya:

  • Tingkat kepercayaan yang rendah, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Anak merasa ragu untuk bergantung pada orang lain dan selalu menolak bantuan.
  • Sering menyalahkan diri dan mengabaikan hal-hal yang harus dilakukan untuk kebaikan mentalnya.
  • Menganggap tumpahan perasaan sebagai sesuatu yang menggelikan atau memalukan.
  • Sensitif terhadap penolakan dari orang lain.
  • Merasa kosong di dalam hatinya.
  • Menyalurkan rasa sedihnya dengan melakukan hal-hal yang negatif seperti marah, berteriak, atau memukul.
  • Sulit berempati dengan orang lain.

Tidak hanya berpengaruh pada perkembangan mental, terlalu sering menahan tangis juga akan menimbulkan dampak buruk pada kesehatan tubuh.

Sebenarnya, menangis memberikan banyak manfaat untuk tubuh. Saat menangis, tubuh akan mengeluarkan hormon stress dan zat-zat sisa lewat cairan air mata. Selain itu, air mata juga dapat membersihkan kotoran seperti debu dan serpihan sehingga mata terhindar dari infeksi.

Perlu diketahui, tubuh menghasilkan hormon kortisol dan adrenalin ketika seseorang sedang merasa sedih atau stres. Kedua zat tersebut dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Jika tangisan terus ditahan, akibatnya hormon ini membuat dada menjadi terasa sesak. Itulah sebabnya orang-orang yang menahan tangis sering merasa kesulitan saat bernafas.

Intinya, terlalu sering menahan tangis tidak akan membuat perasaan menjadi lebih baik, tapi justru akan menumpuk stres di dalam tubuh. Hormon stres yang menumpuk bisa memengaruhi nafsu makan. Jika seseorang melakukan pelampiasan stres dengan makan tanpa terkontrol, bukan tidak mungkin tindakan ini akan meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh.

Hal yang harus dilakukan saat anak menangis

obat maag untuk anak

Sebagai orang tua, Anda tentunya ingin memastikan bahwa anak merasa bahagia. Namun, bukan berarti Anda harus melarang setiap ia ingin menangis dan malah memaksa untuk melupakan masalahnya. Menangis adalah sebuah reaksi primitif manusia yang sangat wajar terjadi, berapa pun usianya. Berikut adalah hal yang bisa dilakukan saat menghadapi anak yang menangis.

Tanyakan kepada anak Anda tentang hal yang membuatnya menangis. Sekonyol apa pun alasannya, tetaplah mendengar sampai dia selesai bercerita. Anda juga bisa mengulang dengan pertanyaan seperti, “Jadi kamu sedih karena dia nggak mau minjemin mainan?” Hal ini penting agar anak merasa Anda benar-benar memperhatikannya.

Ketika tangisan anak sudah mulai mereda, Anda bisa memberikan solusi yang sekiranya bisa membantu si kecil keluar dari masalah tersebut. Jika si kecil frustrasi karena pekerjaan rumah yang sulit, tawarkan bantuan, atau jika si kecil kehilangan teman dekatnya, semangati dia untuk berkenalan dengan lebih banyak teman yang baru.

Yakinkan pada anak bahwa menangis adalah hal yang wajar, semua orang melakukannya. Menceritakan pengalaman masa kecil Anda sendiri juga akan membuat anak merasa lebih bisa terhubung dan dekat dengan Anda.

Pelukan pada anak dan usapan lembut di kepalanya pun dapat membuat suasana hati anak menjadi sedikit lebih baik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Childhood Emotional Neglect: What It Is and How to Heal. (2020). Retrieved 5 February 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/mindful-anger/202001/childhood-emotional-neglect-what-it-is-and-how-heal

How to Recognize and Overcome Childhood Emotional Neglect. (2020). Retrieved 5 February 2020, from https://www.goodtherapy.org/blog/how-to-recognize-overcome-childhood-emotional-neglect-0218165

Nzula, D. (2020). Why You Should Let Your Child Cry. Retrieved 5 February 2020, from http://drsazini.com/let-child-cry/

Is Holding Back Tears Bad for Your Health?. (2020). Retrieved 5 February 2020, from https://www.shape.com/lifestyle/mind-and-body/it-bad-your-health-try-not-cry

Crying: babies and children 0-8 years. (2020). Retrieved 5 February 2020, from https://raisingchildren.net.au/newborns/behaviour/crying-colic/crying-0-8-years

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal diperbarui 21/04/2020
x