home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Anak menangis adalah hal yang wajar, tapi kalau terlalu sering bahkan pada hal-hal kecil, kadang membuat orangtua kesal. Apalagi ketika rengekannya berlangsung sepanjang hari tanpa sebab. Menghadapi anak cengeng memang butuh kesabaran dan cara tertentu. Berikut beberapa penyebab anak cengeng dan cara menghadapinya.

Penyebab anak cengeng

anak menangis

Tangisan anak sering membuat orangtua atau orang lain yang mendengarnya menjadi kesal. Kalau hanya sesekali, sangat wajar karena anak sedang belajar mengenal emosi. Namun bagaimana kalau terlalu sering hingga anak cenderung cengeng?

Mengutip dari Hand in Hand Parenting, tangisan, rengekan bahkan sampai anak tantrum adalah tanda yang diberikan bahwa ia merasa sendiri dan tidak punya kuasa atau kekuatan.

Sebagai contoh, Anda harus menyuapi adik sementara kakaknya ingin main bersama. Di saat itu, dia merasa sendirian dan tidak punya kekuatan untuk melawan sehingga penolakan yang dikeluarkan adalah tangisan dan rengekan.

Penyebab paling umum dari anak yang menangis terus menerus adalah caranya berkomunikasi bahwa ia merasa lelah, lapar, kecewa, sakit, tidak diperhatikan, atau menolak sesuatu.

Bagaimana cara menghadapi anak cengeng?

anak menangis

Emosi, perasaan, dan maksud tangisan anak memang sulit ditebak. Penting untuk orangtua mengambil langkah yang tepat, agar menangis dan merengek tidak menjadi kebiasaan saat anak meminta sesuatu.

Berikut berbagai hal yang bisa orangtua lakukan untuk menghadapi anak yang cenderung cengeng:

1. Mendekat dan beri kenyamanan saat anak menangis

Mengutip dari Zero to Three, anak usia 2-4 tahun masih belajar mengenai emosi yang ada di dalam dirinya. Kadang ia tidak tahu bagaimana cara mengatakan perasaan, lalu tangis meledak sebagai tameng.

Ketika anak menangis, dekati si kecil dan beri kenyamanan, seperti pelukan atau usapan di punggung.

Saat anak menangis, ia butuh kedekatan dengan orangtua atau pengasuhnya agar lebih tenang. Ini bukan berarti Anda setuju dengan tangisannya, tapi sebagai tanda bahwa Anda ada untuk anak.

2. MInta anak menjelaskan perasaannya

Setelah membuat anak tenang, secara perlahan minta anak untuk menjelaskan atau tanyakan tentang apa yang dirasakannya sehingga tidak dicap cengeng.

Sebagai contoh, Anda bisa mengatakan pada si kecil apa yang ia inginkan dengan nada yang tegas tanpa membentak anak.

“Kalau nangis, mama tidak bisa mengerti. Adik mau apa?” Di sini, anak akan belajar untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan tanpa tangisan.

Anda juga bisa bertanya, apakah anak merasa kesal, marah, atau sedih ketika sedang menangis.

“Kakak kesal mainannya rusak? Atau bosan sama mainannya?”

Di sini, anak belajar untuk mengenal dan mengelola emosinya agar lebih baik.

3. Hindari memberi reaksi berlebihan

Anak yang menangis di tempat umum pasti membuat orangtua panik dan menganggapnya cengeng. Terutama bila tangisannya sampai meraung hingga mengganggu orang lain.

Hindari bereaksi berlebihan, seperti memukul, berteriak memintanya diam, atau langsung mengalihkan perhatian dengan membelikan sesuatu yang anak inginkan.

Anak akan merasa bahwa menangis dan merengek adalah cara ampuh untuk menarik perhatian orangtua dan mendapatkan yang diinginkan.

Anda bisa membawa anak ke tempat sepi, lalu menenangkan dengan tegas bukan dengan amarah.

4. Berikan pilihan

Saat anak menangis dan menjadi cengeng karena menginginkan sesuatu yang tidak diperbolehkan, beri pilihan.

Sebagai contoh, Anda bisa menjelaskan bahwa tidak boleh makan es krim di malam hari, tetapi boleh makan puding.

“Tidak makan es krim ya, tapi ada puding cokelat sama stoberi. Mau yang mana?” ini bisa mengubah suasana hati si kecil. Bila masih merengek, beri pengertian pada anak secara perlahan.

5. Ajari anak meluapkan emosi

Tidak semua penyebab anak cengeng disebabkan karena karakter anak yang sensitif dan pemalu.

Bisa juga karena pola asuh orangtua dalam mengajari anak untuk lebih terbuka dengan dunia luar.

Agar anak tidak merengek dan menangis terus, Anda bisa mengajarkan anak untuk meluapkan emosi dengan melakukan aktivitas lain.

Sebagai contoh, menggambar dan menyanyi atau melakukan olahraga yang ia suka.

Penting juga untuk mengingat bahwa tidak semua anak itu sama, karakter setiap anak berbeda-beda. Maka, terus cari tahu kegiatan apa yang disukai anak untuk meluapkan emosinya.

6. Ajak anak bermain dengan temannya

Cengeng belum tentu selalu disebabkan karena anak manja. Ketika anak cengeng, bisa saja disebabkan karena kepercayaan dirinya saat bergaul atau bermain bersama temannya kurang.

Tidak jarang, mereka akan mencoba menangis atau merengek sebagai tanda “minta tolong” pada orangtua atau pengasuh, atas masalah yang sedang dihadapinya

Untuk mengatasinya, coba temani saat ia bermain bersama temannya. Tidak perlu sepanjang hari, cukup di saat-saat awal ia bermain.

Anda bisa mengenalkan anak dengan teman-temannya dan tetap bersama si kecil, sehingga tetap bisa menemaninya saat rasa tidak percaya diri muncul.

7. Beri pujian saat anak tidak menangis

Saat anak bisa mengatakan emosi dan perasaannya, beri pujian dan rasa syukur terhadap perkembangannya.

“Terima kasih, ya sudah bilang ke mama apa yang adik inginkan” atau “Terima kasih Kakak sudah tidak menangis sering-sering buat bilang apa yang Kakak inginkan”

Di sini, anak akan merasa usahanya untuk mengenali perasaan dan emosi dihargai oleh orangtua.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Your Child’s Checkup: 3 Years (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 2 December 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/checkup-3yrs.html

What’s the Cure for Whining? – Hand in Hand Parenting. (2020). Retrieved 2 December 2020, from https://www.handinhandparenting.org/2013/07/whats-the-cure-for-children-whining/

MacLaughlin, S., Parlakian, R., & THREE, Z. (2020). How to Cope (and Help!) When Your Child Whines. Retrieved 2 December 2020, from https://www.zerotothree.org/resources/2251-how-to-cope-and-help-when-your-child-whines

Top Tips for Surviving Tantrums. (2020). Retrieved 2 December 2020, from https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/communication-discipline/Pages/Temper-Tantrums.aspx

Emotional Development: 2 Year Olds. (2020). Retrieved 2 December 2020, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Emotional-Development-2-Year-Olds.aspx

(2020). Retrieved 2 December 2020, from https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/pdf/parents_pdfs/milestonemomentseng508.pdf

Foto Penulis
Ditulis oleh Riska Herliafifah pada 22/02/2021
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
x