Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

3 Kiat Cerdas Mengajarkan Toleransi pada Anak Sejak Dini

3 Kiat Cerdas Mengajarkan Toleransi pada Anak Sejak Dini

Usia prasekolah merupakan waktu yang tepat bagi orangtua untuk mengajarkan toleransi pada anak. Hal ini dilakukan sebagai bekal anak untuk berinteraksi di tengah keragaman masyarakat. Perbedaan etnis, agama, serta budaya akan banyak ditemukan di masyarakat termasuk di sekolah nantinya. Oleh karena itu, pemahaman akan toleransi yang ditanamkan sedari kecil sangat berguna sebagai persiapan anak untuk memahami, belajar, dan bergaul dengan lingkungannya. Dengan mengajarkan toleransi, Anda membantu si kecil untuk melihat bahwa dunia yang ia tinggali penuh dengan keberagaman yang perlu dihargai dan dihormati.

Cara mengajarkan toleransi pada anak

Toleransi adalah sikap tentang keterbukaan dan penghormatan terhadap perbedaan yang ada di masyarakat. Konsep toleransi bukan hanya membahas tentang keragaman suku, budaya, dan agama. Akan tetapi juga perlu diterapkan pada berbagai perbedaan lainnya seperti menghargai penyandang disabilitas.

Berarti toleransi bisa diartikan sebagai sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, dan menciptakan hubungan baik di tengah perbedaan yang ada.

Gampang-gampang susah mungkin mengajarkan hal ini pada anak. Berikut ini berbagai cara yang bisa Anda praktikkan untuk mengajarkan toleransi pada anak, yaitu:

1.Memberikan contoh yang baik

Anak adalah peniru yang baik, jadi cara terbaik untuk mengajarinya toleransi ialah dengan mempraktikkan sikap toleransi tersebut di depan anak. Anak anak belajar dengan mengamati interaksi Anda dengan orang lain. Maka jika Anda menghormati dan menghargai semua orang dalam keseharian maka anak pun akan mengikutinya.

Oleh karena itu, mulai sekarang cobalah untuk memikirkan ucapan dan tindakan sehari-hari Anda sebelum Anda mempraktikannya dalam keseharian. Jangan menjadikan perbedaan sebagai bahan lelucon Anda, karena dengan demikian anak bisa menirukan. Sikap toleransi yang Anda lakukan akan memberikan pesan yang kuat pada anak bahwa ia juga perlu memperlakukan orang seperti apa yang orangtuanya lakukan.

Memberikan contoh yang baik juga bisa dilakukan dengan menanggapi komentar negatif seputar toleransi. Misalnya saat salah seorang anggota keluarga atau tetangga sedang membuat lelucon yang menyinggung SARA (Suku, agama, ras, dan antargolongan) di depan anak, maka segera tanggapi lelucon tersebut dengan sikap tegas.

Dengan begitu anak akan belajar menggunakan frasa dan pemilihan kata yang Anda gunakan dan menentang hal tersebut jika suatu saat berada di kondisi tersebut. Sebaliknya, jika Anda hanya diam tidak menanggapi apapun bahwa hanya tersenyum maka ia akan berpikir Anda setuju dan tidak memiliki masalah dengan lelucon tersebut.

cara mendidik anak balita

2. Perkenalkan berbagai budaya

Untuk mengajarkan toleransi, Anda perlu menggunakan berbagai cara agar anak semakin mendalami apa itu toleransi dan bagaimana harus menyikapinya. Oleh karena itu, cobalah untuk mempertimbangkan anak untuk masuk ke sekolah yang berisi anak-anak dengan latar belakang budaya berbeda.

Selain itu Anda juga bisa memilihkan mainan, buku, serta genre musik yang beragam dan menunjukkan keberagaman. Hal ini dilakukan untuk menambah dan memperkuat ingatannya akan makna toleransi.

Berbagai buku cerita bergambar yang menampilkan toleransi akan dengan mudah menempel pada anak karena karakter dan permainan warna biasanya membuat pesan pada buku cerita semakin menarik dan mudah diingat. Selain itu, mengajak anak ke acara festival budaya juga bisa menjadi cara untuk mengajarkan keberagaman negeri.

3. Perlakukan anak dengan hormat

Jika Anda menginginkan si kecil bisa menghormati orang lain maka perlakukan ia dengan hormat. Anak yang merasa dirinya diterima, dihormati, dan dihargai cenderung akan memperlakukan orang lain sebagaimana keluarganya memperlakukannya.

Sebaliknya, anak yang merasa dirinya tidak dihargai dan dihormati cenderung akan melakukan hal yang ia rasakan pada orang lain. Anak yang diperlakukan dengan penuh cinta dan rasa hormat akan memiliki harga diri yang kuat dan penghargaan akan dirinya sendiri. Hal itu cukup menjadi bekal untuk ia memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ketika Anda mendorong sikap toleran pada buah hati dan mempraktikkan apa yang ingin mereka lihat dengan memperlakukan orang lain dengan penuh hormat, maka secara perlahan anak akan mencontoh jejak Anda dan menerapkannya dalam kesehariannya.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Raising a Child Who Respects Difference

https://www.parents.com/parenting/better-parenting/teaching-tolerance/raising-a-child-who-respects-difference/ accessed on March 29th 2018

Teaching Children Tolerance

https://www.psychologytoday.com/us/blog/how-raise-happy-cooperative-child/201603/teaching-children-tolerance accessed on March 29th 2018

Teaching Your Child Tolerance

https://kidshealth.org/en/parents/tolerance.html accessed on March 29th 2018

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 09/04/2018
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita