backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Bagaimana Proses Metabolisme Obat dalam Tubuh?

Ditinjau secara medis oleh Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm. · Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany · Tanggal diperbarui 12/01/2023

Bagaimana Proses Metabolisme Obat dalam Tubuh?

Saat menggunakan obat, Anda mungkin penasaran bagaimana terjadinya metabolisme obat di dalam tubuh hingga dapat mengatasi keluhan yang dialami. Untuk mengetahui proses metabolismenya, jangan lewatkan pembahasan di bawah ini!

Metabolisme obat di dalam tubuh

Metabolisme obat adalah proses perubahan struktur kimia obat agar nantinya dapat diserap oleh tubuh dan memberikan efek obat, misalnya mengatasi keluhan kesehatan.

Tujuan utama proses metabolisme obat ini adalah untuk mengubah obat yang larut lemak menjadi larut air, sehingga nantinya dapat mudah diekskresikan dari tubuh melalui urine.

Proses metabolisme ini dipengaruhi oleh enzim dan terjadi terutama di organ hati, yang selanjutnya dikenal sebagai biotransformasi.

Dalam tahap ini, enzim P-450 yang terdiri dari asam amino (protein) berperan untuk memecah dan mengubah bentuk zat kimia tersebut agar bisa bekerja lebih efektif. 

Ketika enzim pencernaan yang diproduksi dalam hati ini tidak cukup, obat akan bekerja lebih lambat dan efek manfaat yang ditimbulkan juga tidak cepat.

Faktor yang memengaruhi metabolisme obat

Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi produksi enzim ini seperti di bawah ini.

  • Makanan atau obat-obatan lain yang dapat menimbulkan interaksi obat atau mengganggu efektivitasnya. 
  • Perbedaan laju metabolisme yang diwariskan lewat gen.
  • Kondisi medis yang menyerang liver seperti sirosis hati.
  • Faktor usia, misalnya anak-anak dan lansia.
  • Pada anak-anak, terutama bayi yang baru lahir, hati tidak bisa memproduksi enzim tersebut dengan sempurna.

    Sementara pada lansia, kemampuan hati semakin menurun untuk memproduksi enzim tersebut. 

    Sehingga anak-anak dan lansia biasanya diberikan dosis obat yang rendah untuk memudahkan kerja hati.

    Metabolisme obat merupakan bagian dari kinetika obat, yakni proses masuknya obat ke dalam tubuh, lalu diserap, hingga dikeluarkan zat sisanya. 

    Mengetahui metabolisme dan perjalanan obat di dalam tubuh akan membantu Anda memahami lama reaksi obat hingga bagaimana obat bekerja mengatasi keluhan sakit.

    Proses kinetika obat

    Seperti yang disebutkan sebelumnya, metabolisme obat merupakan salah satu tahapan kinetika obat.

    Proses ini memiliki 4 tahapan yang disebut dengan ADME, yaitu absorption, distribution, metabolism, dan excretion.

    1. Absorption atau penyerapan obat

    penyerapan obat dalam tubuh

    Tahap pertama kinetika obat adalah penyerapan obat ke dalam darah.

    Obat masuk ke dalam tubuh dalam berbagai cara, melalui oral (diminum), rektum (supositoria), atau dengan menyuntikkan ke dalam pembuluh darah.

    Obat yang disuntikkan akan masuk ke pembuluh darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

    Apabila obat masuk dengan cara oral atau diminum, obat tersebut akan masuk dulu ke dalam sistem pencernaan sebelum diserap di usus halus untuk dialirkan menuju pembuluh darah.

    Berikut faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan obat di dalam tubuh.

    • Kondisi medis yang mengganggu pencernaan dan aliran darah.
    • Jenis obat (obat hirup dan injeksi cenderung lebih cepat diserap).
    • Interaksi obat.

    Selain memengaruhi kecepatan penyerapan, faktor tersebut dapat mengurangi efektivitas atau menimbulkan efek samping obat.

    2. Distribusi obat

    Sesaat setelah obat dikonsumsi dan diserap oleh tubuh, obat tersebut akan disalurkan lewat sirkulasi darah.

    Selama berada dalam sirkulasi darah, obat akan masuk ke dalam jaringan-jaringan tubuh. 

    Obat menembus jaringan yang berbeda dengan kecepatan yang berbeda. Hal ini tergantung kemampuan obat untuk menembus membran sel tubuh. 

    Obat yang larut dalam lemak dapat menyeberangi dan memasuki membran sel tubuh lebih cepat dibandingkan dengan obat yang hanya larut dalam air. Hal ini akan menentukan juga seberapa cepat obat itu akan bereaksi di dalam tubuh.

    Sebagai contoh, obat antibiotik jenis rifampisin tergolong larut dalam lemak sehingga saat dikonsumsi oral dapat mudah didistribusikan ke dalam jaringan tubuh.

    Berbeda halnya dengan penisilin yang cenderung larut dalam air, antibiotik ini membutuhkan waktu lebih lama memasuki sel tubuh .

    Selain itu, proses distribusi obat tergantung pada kondisi tubuh. Tubuh yang menyimpan lemak lebih banyak memudahkan proses distribusi obat. 

    Namun, efek samping obat pun lebih cepat timbul pada orang dengan lemak berlebih daripada orang yang mempunyai lemak lebih sedikit.

    3. Metabolisme obat

    metabolisme obat

    Proses kinetika obat selanjutnya adalah metabolisme obat. Seperti yang telah dijelaskan di atas, proses metabolisme akan mengubah struktur kimia obat agar lebih mudah diserap tubuh.

    Setelah pendistribusian obat selesai, hati akan mengubah zat sisa obat menjadi larut air agar mudah dikeluarkan lewat urine.

    Menurut buku Drug Metabolism (2022), metabolisme setiap obat dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti:

    • kerja enzim, 
    • interaksi obat, 
    • dosis, dan 
    • jenis obat yang dikonsumsi.

    4. Excretion

    Ekskresi adalah tahapan kinetika obat yang terakhir, yaitu proses pembuangan sisa metabolisme secara alami.

    Proses pengeluaran zat kimia ini dilakukan oleh dua cara utama, yaitu oleh ginjal melalui urine dan kelenjar empedu melalui usus halus dalam bentuk feses.

    Sayangnya, proses ekskresi obat ini bisa terganggu apabila fungsi ginjal Anda menurun.

    Selain itu, zat kimia yang dihasilkan oleh obat tersebut juga akan dikeluarkan dalam jumlah kecil melalui air liur, keringat, udara yang diembuskan, serta ASI. 

    Untuk alasan inilah ibu menyusui harus waspada dengan obat yang diminum karena dikhawatirkan dapat terserap ke dalam ASI dan membahayakan bayinya.

    Dengan mengetahui proses metabolisme obat, Anda diharapkan lebih cermat dalam mengonsumsi obat-obatan.

    Sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter sebelum mengonsumsi obat dan patuhi aturan konsumsi pada label kemasan atau petunjuk dari apoteker Anda.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.

    Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


    Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany · Tanggal diperbarui 12/01/2023

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan