home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hati-hati, Minum Obat Opioid Sembarangan Berisiko Kecanduan dan Overdosis

Hati-hati, Minum Obat Opioid Sembarangan Berisiko Kecanduan dan Overdosis

Berbeda dengan obat penghilang rasa sakit lainnya, opioid termasuk jenis obat yang cukup berbahaya jika dikonsumsi tanpa resep dokter. Hal ini karena obat opioid termasuk golongan narkotika sehingga bisa menimbulkan kecanduan bagi pemakainya.

Opioid, obat penghilang rasa sakit yang masuk golongan narkotika

sakit setelah melahirkan

Opioid adalah obat pereda nyeri dengan dosis yang cukup kuat sehingga hanya diresepkan oleh dokter, tidak dijual bebas. Oxycodone, hydrocodone, fentanyl, tramadol, hingga heroin termasuk obat opioid yang biasanya cukup banyak digunakan dalam dunia medis.

Obat pereda nyeri yang satu ini tidak digunakan untuk mengatasi jenis nyeri ringan seperti sakit kepala. Akan tetapi, obat ini biasanya diresepkan untuk membantu mengurangi rasa sakit parah seperti pascaoperasi atau saat Anda mengidap kanker. Selain itu, opioid termasuk ke dalam salah satu obat bius kuat yang digunakan dalam prosedur operasi.

Efek menggunakan obat opioid sembarangan tanpa resep dokter

Saat meresepkan opioid, dokter sudah mengetahui takaran amannya. Dengan begitu, meski termasuk obat dengan efek yang cukup kuat, opioid tidak akan membahayakan kesehatan Anda. Namun, lain cerita jika Anda mengonsumsinya secara sembarangan tanpa resep dokter dan bahkan menyalahgunakannya. Anda berisiko mengalami berbagai masalah seperti kecanduan dan overdosis.

1. Kecanduan

bedanya ketergantungan dan kecanduan obat

Seiring berjalannya waktu, opioid bisa mengubah cara kerja otak. Ketika obat ini mengalir melalui darah dan menempel pada reseptor opioid di sel-sel otak, sumsum tulang belakang, dan bagian tubuh lainnya, otak akan melepaskan sinyal yang bisa menghambat rasa sakit dan meningkatkan sensasi gembira.

Nah, banyak orang yang menggunakan obat ini hanya untuk tujuan mendapatkan sensasi gembira tersebut. Orang-orang kemudian menggunakannya secara sembarangan. Akibatnya, akan sangat sulit untuk berhenti mengonsumsi obat yang satu ini. Dalam kondisi inilah seseorang sudah dikategorikan mengalami kecanduan.

Kecanduan obat membuat Anda sulit menahan keinginan untuk mengonsumsinya meski sudah tahu ini membahayakan. Jadi ketika efek opioid habis, Anda kalap dan menginginkan perasaan bahagia yang sangat tinggi ini kembali muncul dengan kembali mengonsumsi obat tersebut.

2. Overdosis

overdosis obat

Mengonsumsi opioid dengan dosis yang sama tak lagi membuat Anda dibanjiri oleh perasaan bahagia yang sangat kuat. Hal ini opioid bisa memicu produksi endorfin. Endorfin adalah senyawa kimia di dalam tubuh yang dapat meningkatkan perasaan senang.

Oleh karena itu, Anda perlu terus meningkatkan dosisnya hingga rasa bahagia ini kembali tercapai seperti awal pemakaian. Pada akhirnya, kondisi ini membuat Anda berisiko mengalami overdosis.

Selain dosis yang terlalu tinggi, overdosis opioid juga terjadi karena konsumsi terlalu sering atau mencampurkan opioid dengan obat-obatan terlarang dan alkohol.

Dikutip dari Medline Plus, orang yang mengalami overdosis opioid akan mengalami berbagai gejala seperti:

  • Wajah pucat
  • Tubuh lemas
  • Kuku atau bibir berwarna ungu atau biru
  • Muntah-muntah
  • Tidak sadarkan diri
  • Tidak bisa diajak berbicara
  • Napas dan detak jantung melambat, bahkan bisa berhenti. Kondisi ini bisa menyebabkan otak kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan permanen hingga kematian.

Jika orang di sekitar Anda mengalami satu atau lebih gejala ini, segera cari pertolongan atau bawa ke IGD terdekat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 22/11/2018
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x