home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kapan Waktu Terbaik untuk Makan Buah?

Kapan Waktu Terbaik untuk Makan Buah?

Buah dan sayur semestinya wajib masuk dalam menu harian Anda. Orang dewasa disarankan untuk mengonsumsi 400 – 600 gram buah dan sayur setiap hari. Namun, kapankah waktu terbaik untuk makan buah agar Anda dapat memenuhinya?

Waktu terbaik untuk makan buah

makan buah dan sayur setiap hari

Sebagian besar buah-buahan mengandung karbohidrat berupa fruktosa. Sejak gigitan pertama, mulut akan menghasilkan enzim yang memecah karbohidrat ini menjadi zat yang lebih mudah dicerna.

Kerja enzim pemecah karbohidrat berhenti begitu buah yang sudah lumat memasuki lambung yang asam. Proses pemecahan karbohidrat akan berlangsung lagi dalam organ usus halus hingga menghasilkan glukosa yang lebih mudah diserap oleh tubuh.

Fruktosa dalam buah sebenarnya merupakan karbohidrat sederhana seperti glukosa. Namun, bukan berarti tubuh bisa mencerna buah lebih cepat dibandingkan makanan lain. Pasalnya, masih ada serat dalam buah yang bisa memperlambat proses pencernaan.

Lantas, kapankah waktu terbaik makan buah? Jawabannya yaitu kapan saja. Anda mungkin terbiasa makan sayur pada waktu sarapan, makan siang, atau makan malam. Hal ini sah-sah saja selama dapat memenuhi kebutuhan asupan buah-buahan setiap hari.

Kapankah waktu yang kurang tepat untuk makan buah?

Jika melihat seperti apa proses pencernaan akan buah, ada beberapa kondisi yang mungkin perlu menjadi pertimbangan Anda sebelum makan buah-buahan. Berikut di antaranya.

1. Sebelum berolahraga

Anda mungkin ingin mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah terutama jika sedang menjalani program olahraga dan diet sehat. Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak mengonsumsi buah-buahan tinggi serat jika hendak berolahraga.

Tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna serat dalam buah. Jika Anda berolahraga dalam kondisi perut penuh oleh serat, hal ini justru bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Jadi, berikan jeda sekitar 2 – 3 jam sebelum Anda berolahraga.

2. Sebelum tidur

Jam-jam sebelum tidur bukanlah waktu terbaik untuk makan apa pun, termasuk buah. Kandungan gula dalam buah akan meningkatkan gula darah. Sebagai respons atas hal ini, pankreas lantas melepaskan insulin untuk menjaga kestabilan gula darah Anda.

Meningkatnya produksi insulin akan menurunkan jumlah melatonin, yakni hormon yang berperan dalam siklus tidur. Apabila Anda ingin makan buah sebelum tidur, berikan jeda sekitar tiga jam supaya tubuh dapat beristirahat dengan optimal.

3. Saat diare

Buah-buahan memang bisa membantu melancarkan pencernaan. Hal ini tentu menguntungkan jika Anda sedang dalam keadaan sehat, tapi mungkin Anda perlu menghindari hal tersebut ketika sedang menderita penyakit diare.

Pada sejumlah kondisi, asupan buah yang berlebihan justru bisa memperparah keluhan yang Anda alami selama diare. Apalagi bila Anda mengonsumsi buah rendah serat dan tinggi gula yang dapat meningkatkan frekuensi buang air besar (BAB).

Berbagai mitos tentang waktu yang tepat untuk makan buah

Di bawah ini berbagai mitos terkait waktu terbaik untuk mengonsumsi buah dan faktanya.

1. “Tidak boleh makan buah pada pagi hari saat perut kosong”

Sarapan ibarat “berbuka puasa” setelah Anda tidak makan apa pun selama delapan jam. Makan buah-buahan justru memberikan energi dengan cepat karena kandungan karbohidrat sederhana di dalamnya lebih mudah dicerna.

Namun, sarapan yang baik menurut anjuran Kementerian Kesehatan RI terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak dengan jumlah seimbang. Jadi, jika hanya mengonsumsi buah saja untuk sarapan, Anda mungkin akan cepat kembali merasa lapar.

2. “Jika hanya makan buah, tubuh akan fokus untuk mencerna zat gizinya”

Tubuh manusia bekerja dengan cara yang sangat unik, begitu pun sistem pencernaan. Ketika makanan memasuki sistem pencernaan Anda, tubuh akan melepaskan enzim pencernaan sesuai dengan jenis zat gizi yang hendak dicerna.

Dengan kata lain, sistem pencernaan Anda sudah dirancang untuk mencerna berbagai jenis zat gizi dalam waktu yang sama. Jadi, tidak ada satu jenis makanan yang hanya mengandung satu zat gizi saja.

3. “Makan buah bersamaan dengan makanan lain akan memicu kembung”

Makan buah terkadang dianggap sebagai penyebab perut kembung. Beberapa orang meyakini bahwa buah-buahan akan terurai lebih dulu dalam saluran pencernaan. Proses penguraian ini lantas memicu produksi gas yang menyebabkan perut kembung.

Anggapan tersebut sebenarnya keliru karena proses penguraian tidak berlangsung saat buah-buahan ada di dalam lambung. Perut Anda bisa saja kembung karena saluran pencernaan Anda sensitif terhadap makanan tinggi serat atau faktor lainnya.

Pada dasarnya, tidak ada istilah “waktu terbaik” untuk makan buah. Anda boleh makan buah kapan saja asalkan tidak menyebabkan gangguan pada tubuh seperti gangguan pencernaan atau naiknya gula darah.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sarapan Sehat, Aktivitas Lancar – Direktorat P2PTM. (2016). Retrieved 7 June 2021, from http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/sarapan-sehat-aktivitas-lancar

The Fruitarian Diet: Is It Good or Bad For You? – Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 7 June 2021, from https://health.clevelandclinic.org/fruitarian-diet-is-it-safe-or-really-healthy-for-you/

Yu, K., Ke, M. Y., Li, W. H., Zhang, S. Q., & Fang, X. C. (2014). The impact of soluble dietary fibre on gastric emptying, postprandial blood glucose and insulin in patients with type 2 diabetes. Asia Pacific journal of clinical nutrition, 23(2), 210–218. doi: 10.6133/apjcn.2014.23.2.01

Wanders, A., Mars, M., Borgonjen-van den Berg, K., de Graaf, C., & Feskens, E. (2013). Satiety and energy intake after single and repeated exposure to gel-forming dietary fiber: post-ingestive effects. International Journal Of Obesity, 38(6), 794-800. doi: 10.1038/ijo.2013.176

Hunt, R., Camilleri, M., Crowe, S., El-Omar, E., Fox, J., & Kuipers, E. et al. (2015). The stomach in health and disease. Gut, 64(10), 1650-1668. doi: 10.1136/gutjnl-2014-307595

Kristensen, M., & Jensen, M. (2011). Dietary fibres in the regulation of appetite and food intake. Importance of viscosity. Appetite, 56(1), 65-70. doi: 10.1016/j.appet.2010.11.147

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Monika Nanda Diperbarui 19/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x