home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Meski Lezat, Kalori Tahu Goreng Ternyata Tak Bersahabat

Meski Lezat, Kalori Tahu Goreng Ternyata Tak Bersahabat

Dari sebungkus gorengan hingga menjadi lauk dalam makanan, Anda bisa menemukan tahu goreng di mana saja. Namun, di balik praktis dan lezatnya tahu goreng, sudah tahukah Anda berapa banyak kalori yang terkandung di dalamnya?

Jumlah kalori tahu goreng

Tahu sebenarnya termasuk dalam kelompok makanan rendah kalori. Makanan olahan dari kacang kedelai ini juga bebas kolesterol, tinggi protein, dan kaya mineral sehingga berguna bagi orang-orang yang sedang menurunkan berat badan.

Sebagai gambaran, tiga potong tahu mentah berukuran kecil (setara 100 gram) hanya mengandung 80 kalori. Kalori tersebut berasal dari kandungan protein sebanyak 10,9 gram, lemak 4,7 gram, dan karbohidrat yang tidak sampai 1 gram.

Cara memasak yang Anda pilih menentukan berapa banyak kalori yang bertambah. Bila Anda mengolah bahan makanan ini menjadi tahu goreng, jumlah kalori dan zat gizi per 100 gramnya akan menjadi sebagai berikut.

  • Energi: 115 kkal
  • Protein: 9,7 gram
  • Lemak: 8,5 gram
  • Karbohidrat: 2,5 gram

Dibandingkan tahu mentah, kandungan gizi tahu yang digoreng proteinnya justru lebih rendah. Lemak pun melejit hampir dua kali lipat akibat minyak. Karbohidrat pun meningkat karena adanya bahan tambahan seperti tepung terigu dan gula.

Kalori tahu goreng sekilas tampak tidak berbeda jauh dengan tahu mentah. Namun, coba perhatikan dari mana asal kalori tersebut. Beda dengan tahu mentah, sebagian besar kalori pada tahu yang digoreng justru berasal dari lemak.

Lemak sebanyak 1 gram menyumbangkan 9 kalori. Ini berarti dari 115 kalori yang ada pada tahu goreng, sebanyak 76,5 kkal bersumber dari lemak. Sementara itu, sisanya berasal dari protein dan karbohidrat.

Akibat terlalu banyak makan tahu goreng

Artikel Kesehatan Seputar Masalah Obesitas

Pengolahan makanan dengan teknik deep frying memang sangat umum digunakan, termasuk untuk membuat tahu goreng. Cara masak ini dapat menghasilkan makanan yang renyah dalam waktu cepat sehingga Anda dapat menghemat minyak.

Makanan yang digoreng biasanya juga terasa gurih sehingga menjadi favorit banyak orang. Akan tetapi, Anda mungkin sudah tahu bahwa terlalu sering makan gorengan dapat merugikan kesehatan. Di bawah ini beberapa dampak yang bisa terjadi.

1. Berat badan naik

Tidak ada yang salah dari kenaikan berat badan, kecuali bila penyebabnya yaitu konsumsi gorengan yang berlebihan. Berat badan bertambah karena saat Anda makan banyak gorengan, Anda juga mengonsumsi banyak minyak.

Makanan yang digoreng menyerap banyak minyak, apalagi tahu yang basah dan berpori. Semakin tinggi kandungan air suatu makanan, semakin banyak pula jumlah minyak yang diserap. Inilah mengapa kalori tahu goreng menjadi sangat tinggi.

2. Meningkatkan risiko obesitas

Terlalu sering makan tahu goreng bisa meningkatkan risiko obesitas. Selain karena kalorinya yang tinggi, makanan yang digoreng juga dapat memengaruhi fungsi hormon yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak.

Suhu panas selama menggoreng tahu juga dapat mengubah minyak menjadi lemak trans. Makanan yang tinggi lemak trans bisa menambah lemak perut dan merupakan salah satu penyebab utama obesitas.

3. Meningkatkan risiko penyakit kronis

Konsumsi tahu goreng yang berlebihan tidak hanya menambah asupan kalori, tapi juga meningkatkan tekanan darah dan kolesterol. Sebuah studi menunjukkan semakin sering seseorang makan gorengan, semakin tinggi risikonya terkena penyakit jantung.

Kebiasaan makan gorengan juga bisa meningkatkan risiko diabetes. Ini karena lemak berlebih dapat menumpuk dalam sel otot, lalu terurai menjadi produk buangan yang menghalangi kerja insulin. Akibatnya, gula darah menjadi sulit dikontrol.

Haruskah Anda berhenti makan tahu goreng?

Langkah terbaik untuk menghindari dampak buruk gorengan yakni dengan berhenti mengonsumsinya. Namun, cara ini mungkin tidak mudah, mengingat banyak makanan sehari-hari diolah dengan cara digoreng atau bahkan deep frying.

Sebagai solusinya, Anda cukup mengurangi konsumsi gorengan dengan membatasi porsinya. Sebisa mungkin, perhatikan dan ikuti batas asupan lemak, gula, dan garam per hari yang disarankan oleh pemerintah.

Meskipun rasanya gurih dan lezat, tahu goreng mengandung banyak kalori dan lemak. Lemak sejatinya bukanlah musuh bagi tubuh, tapi lemak trans yang ada pada gorengan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

Jika Anda senang mengonsumsi tahu, cobalah berbagai resep masakan tahu atau cara masak yang tidak banyak menggunakan minyak. Anda bisa mengolahnya menjadi sup, tumis tahu, atau tahu panggang yang lebih menyehatkan.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Data Komposisi Pangan Indonesia (Tahu, mentah). (2018). Retrieved 22 March 2021, from https://www.panganku.org/id-ID/view

Data Komposisi Pangan Indonesia (Tahu goreng). (2018). Retrieved 22 March 2021, from https://www.panganku.org/id-ID/view

Do Cooking Oils Present a Health Risk?. (2018). Retrieved 22 March 2021, from https://www.ift.org/news-and-publications/food-technology-magazine/issues/2018/may/features/do-cooking-oils-present-a-health-risk

Fat is the Cause of Type 2 Diabetes. (2016). Retrieved 22 March 2021, from https://nutritionfacts.org/2016/11/17/fat-is-the-cause-of-type-2-diabetes/

Fried foods linked to earlier death. (2019). Retrieved 22 March 2021, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/fried-foods-linked-to-earlier-death

Cahill, L. E., Pan, A., Chiuve, S. E., Sun, Q., Willett, W. C., Hu, F. B., & Rimm, E. B. (2014). Fried-food consumption and risk of type 2 diabetes and coronary artery disease: a prospective study in 2 cohorts of US women and men. The American journal of clinical nutrition, 100(2), 667–675. https://doi.org/10.3945/ajcn.114.084129

Thompson, A. K., Minihane, A. M., & Williams, C. M. (2011). Trans fatty acids and weight gain. International journal of obesity (2005), 35(3), 315–324. https://doi.org/10.1038/ijo.2010.141

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 06/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro