Bahaya Kesehatan yang Mengintai di Balik Lezatnya Kol Goreng

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Makan seporsi ayam goreng atau pecel lele rasanya kurang lengkap tanpa adanya kol goreng. Jika dahulu kol hanya dihidangkan dalam bentuk lalapan bersama selada dan mentimun, kol yang digoreng kini menjadi favorit bagi banyak orang karena cita rasanya amat menggugah selera.

Namun, teman bersantap yang satu ini ternyata menyimpan beragam bahaya bila terlalu sering dikonsumsi. Apa saja bahaya tersebut?

Bahaya terlalu banyak makan kol goreng

Kol mentah mungkin tidak banyak disukai karena rasanya kurang sedap, baunya amat khas, dan teksturnya keras. Menggoreng kol membuat rasanya menjadi lebih gurih dan manis. Teksturnya pun lebih lembut sehingga Anda tak perlu susah mengunyahnya.

Walau demikian, proses pengolahan kol dengan cara digoreng ternyata turut menimbulkan dampak sebagai berikut:

1. Menambah jumlah kalori

Seperti jenis sayuran pada umumnya, kol sangat rendah kalori. Setengah bonggol kol mentah seberat 100 gram bahkan hanya mengandung 22 kalori. Hal ini disebabkan karena sekitar 92 persen dari seluruh bobot kol adalah air.

Kalori kol goreng lebih tinggi karena adanya kalori ekstra dari minyak. Saat digoreng, kol juga menyerap banyak minyak. Jika sesendok makan minyak goreng memberikan hampir 45 kalori, kini bayangkan jika Anda memakan banyak kol goreng dalam sekali waktu.

2. Merusak kandungan nutrisinya

makanan gorengan penyebab sakit kepala

Kol sangat kaya akan nutrisi. Seratus gram kol segar mengandung 2,1 gram protein, 0,5 gram lemak, dan 3,6 gram karbohidrat. Sayuran ini juga kaya akan serat, vitamin C, K, dan B kompleks, serta mineral seperti kalsium, fosfor, dan mangan.

Sayangnya, proses menggoreng dengan suhu tinggi bisa merusak nutrisi tersebut, seperti dilansir dari studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry. Mengukus, merebus, dan menumis adalah metode yang lebih baik untuk menjaga nutrisi sayuran.

3. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke

Meski lezat, kol goreng nyatanya tidak bersahabat dengan jantung. Saat dipanaskan melampaui titik asapnya, struktur kimia minyak akan berubah. Pengolahan berulang dengan minyak yang sama juga dapat mengubah minyak menjadi lemak trans.

Lemak trans adalah lemak jahat yang bisa meningkatkan kolesterol jahat dan memicu pembentukan plak pada pembuluh darah. Lambat laun, plak dapat menghambat aliran darah sehingga mengakibatkan stroke, penyakit jantung, dan serangan jantung.

4. Meningkatkan risiko kanker

sayur goreng

Kol memiliki senyawa antikanker yang disebut sulphoraphane. Sulphoraphane bekerja dengan menghambat enzim histone deacetylase. Enzim ini berperan dalam perkembangan berbagai jenis kanker, termasuk kanker kulit, pankreas, dan prostat.

Akan tetapi, proses pengolahan kol goreng justru menyebabkan pembentukan senyawa acrylamide yang bersifat karsinogenik (memicu kanker). Acrylamide diketahui berperan dalam perkembangan kanker rahim, ovarium, paru-paru, ginjal, dan kerongkongan.

Menggoreng kol memang akan meningkatkan cita rasanya, tapi manfaat dan nilai nutrisinya justru berkurang. Mengonsumsi kol yang digoreng bahkan bisa meningkatkan risiko sejumlah penyakit termasuk stroke, penyakit jantung, hingga beragam kanker.

Sekali waktu, Anda boleh saja melahap sayuran goreng termasuk kol sebagai pendamping menu makan. Namun, ingatlah untuk membatasi jumlahnya dan jangan mengonsumsinya terlalu sering guna mencegah berbagai risiko penyakit yang dapat timbul.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Kiat Jitu Mengurangi Kebiasaan Makan Gorengan

Kebanyakan makan gorengan tentu akan berdampak buruk bagi kesehatan. Lantas, bagaimana cara untuk mengurangi kebiasaan makan gorengan? Baca di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Tips Makan Sehat, Nutrisi 8 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Tubuh Mencerna Makanan Berlemak?

Meski sering dicap buruk, lemak sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Namun memang, cara tubuh mencerna makanan berlemak lebih rumit daripada makanan biasa.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Fakta Gizi, Nutrisi 25 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit

Apa Bahayanya Boraks Buat Tubuh? Plus, Cara Mengenali Makanan yang Mengandung Boraks

Anda salah satu penggemar bakso, mie, lontong, dan bahkan gorengan? Hati-hati, berbagai makanan tersebut rentan dicampur boraks.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Fakta Gizi, Nutrisi 27 November 2018 . Waktu baca 6 menit

Meski Lezat, Sayur Goreng Masih Sehat Apa Tidak, Sih?

Kol goreng, keripik bayam goreng, tempura sayur, terong goreng – segala jenis sayur goreng memang membangkitkan selera. Tapi sehatkah jika sayuran digoreng?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Fakta Gizi, Nutrisi 28 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sarapan tidak sehat

5 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sarapan

Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
cara mencegah kanker prostat

Cara Mencegah Kanker Prostat yang Penting untuk Pria Ketahui

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
bahaya membungkus makanan panas dengan plastik

Ini Bahaya Membungkus Makanan Panas dengan Plastik

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit