Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal 5 Penyebab dan Faktor Risiko Obesitas pada Anak

    Mengenal 5 Penyebab dan Faktor Risiko Obesitas pada Anak

    Anak terlihat gemuk memang menggemaskan. Namun, jangan senang dulu karena bisa jadi berat badan anak yang lebih dibanding rata-rata anak seusianya adalah pertanda obesitas. Sebenarnya, apa yang jadi penyebab obesitas pada anak?

    Kenali lebih dalam penyebab utama dan berbagai faktor yang bisa meningkatkan risikonya agar Anda jadi lebih waspada.

    Penyebab utama obesitas pada anak

    Obesitas tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga anak-anak.

    Penyebab utama dari obesitas adalah tidak seimbangnya antara kalori yang masuk dengan kalori yang dikeluarkan.

    Jadi begini, kalori didapatkan dari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Nah, kalori ini akan digunakan oleh tubuh sebagai energi untuk beraktivitas.

    Ketika kalori yang masuk lebih banyak daripada yang digunakan, tentu akan ada kalori yang tidak terpakai.

    Jika dalam jangka panjang, kondisi tersebut terus berlanjut akan terjadi penumpukan lemak di tubuh.

    Penumpukan lemak bisa terjadi di sekitar perut menyebabkan obesitas sentral. Lemak bisa juga menumpuk di bagian bawah tubuh, seperti paha atau bokong.

    Adanya penumpukan lemak inilah yang membuat berat badan anak di atas rata-rata berat badan anak seusianya.

    Faktor risiko yang jadi penyebab obesitas pada anak meningkat

    Menumpuknya lemak pada tubuh anak bisa terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor.

    Biasanya, tidak hanya berpusat pada satu faktor saja, melainkan banyak faktor yang saling berkontribusi menyebabkan penumpukan lemak di tubuh.

    Center for Disease Control dan Prevention (CDC) membagi faktor risiko obesitas pada anak terbagi menjadi empat seperti berikut ini.

    1. Pola makan tidak sehat

    kandungan fast food

    Asupan kalori anak yang berlebihan bisa saja didapatkan anak jika pola makannya buruk. Hal ini bisa jadi karena porsi makannya yang terlalu banyak.

    Bisa juga karena pilihan makanannya yang cenderung tinggi kalori tapi rendah vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya, seperti makanan manis dan makanan cepat saji.

    Seperti penjelasan sebelumnya, porsi makan yang terlalu banyak atau pilihan makanan yang tinggi kalori bisa menyebabkan kalori yang masuk ke tubuh tidak terpakai secara optimal.

    Akibatnya, kalori berlebih akan disimpan oleh tubuh menjadi lemak. Semakin lama kebiasaan ini dibiarkan, timbunan lemak pada tubuh pun semakin banyak.

    2. Kurang aktif bergerak

    Dampak dari pola makan tidak sehat bisa semakin diperburuk dengan gaya hidup sedenter alias kurang gerak.

    Anak-anak harusnya aktif bergerak, tapi sekarang ini sering kali malah duduk seharian menonton televisi atau bermain game.

    Kombinasi pola makan yang tidak sehat dan malas bergerak ini bisa menyebabkan adanya kalori ekstra yang nantinya membentuk penumpukan lemak di tubuh.

    Selain itu, kebiasaan menonton televisi atau bermain game tanpa kenal waktu sehingga membuatnya kualitas tidurnya buruk.

    Kurangnya tidur membuat nafsu makan anak lebih tinggi. Akibatnya, ia akan makan lebih banyak daripada porsi seharusnya.

    Dalam jangka waktu tertentu, penumpukan lemak yang berlebihan ini jadi penyebab obesitas pada anak.

    3. Genetik

    Obesitas menjadi salah satu kondisi yang diwariskan dalam keluarga. Itu artinya, ada peran genetik yang ikut meningkatkan risiko obesitas pada anak.

    Varian gen tertentu diketahui dapat menyebabkan obesitas. Gen obesitas ini bisa meningkatkan rasa lapar sehingga membuat seseorang cenderung kebanyakan makan.

    Penumpukan lemak di tubuh ini bisa terjadi ketika seorang anak memiliki orang tua atau saudara kandung dengan obesitas.

    Walaupun begitu, tidak semua anak dengan anggota keluarga yang mengidap obesitas akan mengalami obesitas genetik di kemudian hari.

    Perlu Anda Terapkan

    Jika anak memiliki berat badan berlebihan, dan ada dalam keluarganya yang mengidap obesitas, baiknya konsultasikan kondisinya dengan dokter. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui seberapa besar risiko anak mengalami obesitas.

    4. Lingkungan dan ekonomi

    bahaya jajanan, jajanan anak sekolah, penyebab obesitas pada anak

    Kondisi ekonomi orangtua atau lingkungan sekolah anak dapat memberikan efek langsung pada risiko terkena obesitas.

    Anak yang dibawakan bekal biasanya lebih terjamin kesehatan dan zat gizi makanannya. Berbeda dengan anak yang jajan atau membeli makanan di luar rumah.

    Bisa jadi makanan yang dibeli porsinya jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan, terlalu banyak minyak, atau memilih makanan cepat saji. ‘

    Begitu juga dengan kondisi ekonomi orangtua. Mereka yang sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk memasak makanan yang sehat sendiri, lebih mungkin membeli makanan di luar yang lebih praktis.

    Jika terus dibiarkan, ditambah dengan faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya, bisa jadi penyebab risiko obesitas pada anak akan semakin meningkat.

    Peran orangtua dan lingkungan ternyata bisa memberikan pengaruh tinggi rendahnya risiko obesitas tanpa Anda sadari.

    5. Masalah kesehatan dan penggunaan obat tertentu

    Terakhir, faktor yang bisa jadi penyebab tingginya risiko anak mengalami obesitas adalah masalah kesehatan yang si kecil miliki atau obat tertentu yang perlu anak konsumsi.

    Ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan, seperti sindrom Cushing, yakni tingginya hormon kortisol di dalam tubuh.

    Begitu juga dengan penggunaan obat tertentu, yang efek sampingnya bisa meningkatkan berat badan tanpa kendali. Berikut ini adalah contoh beberapa obat-obatannya.

    • Prednison
    • Lithium.
    • Mitriptyline.
    • Paroxetine.
    • Gabapentin.
    • Propranolol.

    Jika anak menggunakan obat-obatan ini, biasanya dokter sudah memberikan saran kepada orangtua untuk mengawasi gaya hidupnya agar obesitas bisa dicegah.

    Penting bagi orangtua untuk memahami upaya pencegahan obesitas pada anak. Ini karena anak yang masa kecilnya mengidap obesitas, kemungkinan besar juga memilikinya hingga dewasa.

    Tanpa perawatan obesitas yang tepat, kondisi ini bisa menempatkan anak pada risiko komplikasi obesitas yang membahayakan jiwa, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes di masa depan.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Obesity in children – causes. Obesity in children – causes – Better Health Channel. (n.d.). Retrieved June 2, 2022, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/obesity-in-children-causes

    Childhood obesity: Causes & prevention. Cleveland Clinic. (n.d.). Retrieved June 2, 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9467-obesity-in-children

    Mayo Foundation for Medical Education and Research. (2020, December 5). Childhood obesity. Mayo Clinic. Retrieved June 2, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/symptoms-causes/syc-20354827

    Centers for Disease Control and Prevention. (2022, March 21). Causes of obesity. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved June 2, 2022, from https://www.cdc.gov/obesity/basics/causes.html

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Jun 27
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro