3 Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan Tulang Anda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Obesitas bisa ditandai dengan nilai indeks massa tubuh lebih besar dari angka 27. Selain penyakit jantung dan pembuluh darah, dampak obesitas juga bisa merambat ke mana-mana. Obesitas bisa berdampak juga pada kondisi kesehatan tulang, lho. Bagaimana obesitas memengaruhi kondisi tulang? Apa saja bentuk dampak yang bisa terjadi? Ini dia ulasannya.

Obesitas bisa menurunkan kepadatan tulang

Penelitian menunjukan bahwa obesitas akan mengurangi kepadatan tulang serta meningkatkan risiko untuk mengalami patah tulang. Pada dasarnya, tulang memiliki kemampuan untuk selalu memperbarui diri. Caranya yaitu dengan menghancurkan jaringan tulang yang sudah rusak dengan sel osteoklas, dan membangun jaringan tulang baru dengan sel osteoblas. Jika kecepatan keduanya berjalan dengan seimbang, tulang Anda akan senantiasa padat dan kuat.

Namun, pada orang obesitas, biasanya kecepatan memperbarui jaringan tulang ini tidak seimbang.

Dilansir dari laman Healthline, kecepatan membangun jaringan baru tulang cenderung berkurang pada kelompok yang obesitas. Sementara itu, pada proses penghancuran jaringan tulang justru meningkat 3 kali lipat lebih cepat pada kelompok yang obesitas. Lebih banyaknya proses penghancuran dibandingkan pembentukan alhasil membuat kepadatan tulang semakin berkurang. Jika kepadatan tulang menurun, tentunya tulang lebih mudah cedera atau patah.

Seberapa besar dampak obesitas bagi tulang?

Obesitas osteosarcopenic adalah kondisi memburuknya kepadatan tulang dan massa otot sekaligus yang terkait dengan penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh. Umumnya ini terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia.

Menurut Dr. Michael Drey, M.Sc. seorang ahli osteosarcopenia, dari Medizinische Klinik und Poliklinik IV, di Klinikum der Universitat Munchen, obesitas osteosarcopenic diduga akan menjadi perhatian paling penting di masa depan, sebab ada tiga kondisi kesehatan yang menjadi satu sekaligus. Tiga kondisi tersebut adalah osteoporosis (kehilangan massa tulang), sarcopenia (kehilangan massa otot), dan obesitas. 

Menurut Jasminka Ilich-Ernst, seorang profesor bidang gizi di Florida State University, obesitas bukan hanya membuat tubuh orang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan jantung dan pembuluh darah, tapi juga menyebabkan masalah tulang. Memang kebanyakan penelitian melihat efek obesitas pada kasus metabolik dibandingkan kasus pada tulang. Akan tetapi, dampak obesitas pada tulang tak bisa disepelekan.

Ilich-Ernst mengatakan bahwa jaringan lemak memiliki dampak negatif terhadap kepadatan tulang, kekuatan otot, dan juga meningkatkan efek peradangan. Apalagi lemak di peru yang bersifat lebih beracun daripada di bagian lainnya.

Perubahan gaya hidup adalah salah satu cara yang bisa mencegah atau menunda terjadinya obesitas osteosarcopenic ini agar berat badan bisa terjaga keseimbangannya dan risiko mengalami masalah pada tulang dan otot lebih kecil. Tidak ada perawatan atau obat-obatan yang khusus dalam kasus ini, selain dengan menjaga asupan makanan dan olahraga.

Bukan hanya pada orang dewasa, obesitas berdampak pada kesehatan tulang anak

1. Lebih berisiko patah tulang dan bertubuh pendek

Sama seperti orang dewasa, anak yang obesitas juga memiliki peluang lebih besar mengalami patah tulang. Dilansir dalam News Medical Life Science, anak yang obesitas lebih cenderung mengalami patah tulang seringnya pada bagian growth plate mereka. Growth plate adalah area jaringan tumbuh di ujung tulang panjang. Area jaringan ini yang menghasilkan jaringan tulang-tulang baru sehingga tulang anak bisa semakin panjang, sehingga anak bisa semakin tinggi. Tulang panjang contohnya di bagian kaki dan lengan.

Patah tulang di bagian growth plate membuat fungsi jaringan ini tidak optimal. Kondisi ini tentunya mengganggu proses pemanjangan tulang yang dapat menghasilkan tinggi badan anak kurang secara permanen, tulang bengkok atau bahkan arthritis.

2. Telapak kaki datar

Dampak obesitas juga berpengaruh terhadap telapak kaki anak. Anak-anak yang obesitas seringnya memiliki telapak kaki datar. Kondisi ini membuat mereka menjadi lebih mudah lelah saat berjalan jauh. Anak dengan kaki datar sebaiknya melakukan latihan peregangan yang terfokus pada tendon di bagian tumit, menggunakan alas kaki sepatu khusus untuk memperbaiki bentuk kaki, dan pengaturan berat badan agar mengurangi beban yang semakin berat.

3. Gangguan perkembangan koordinasi

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, anak-anak yang mengalami obesitas seringkali mengalami kesulitan dalam gerakan mereka, contoh gejalanya seperti:

  • Anak mengalami masalah dengan gerakan motorik kasar seperti, gerakan melompat, berdiri dengan satu kaki
  • Masalah dengan motorik halus seperti menulis, menggunting, mengikat tali sepatu

Kondisi gangguan perkembangan koordinasi ini dapat mengganggu atau membatasi kemampuan anak berolahraga. Hal ini berpotensi membuat berat badan anak mengalami pertambahan berat badan lagi.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Perlukah Melakukan Medical Check Up secara Rutin?

    Medical check up dapat membantu Anda mengetahui kondisi kesehatan yang dimiliki. Tes pemeriksaan apa saja yang biasa dilakukan dalam medical check up?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Pilihan Obat yang Digunakan untuk Meredakan Nyeri Tulang

    Nyeri tulang dapat menggangu aktivitas Anda dan harus diobati dengan baik. Berikut adalah berbagai obat yang bisa digunakan untuk mengobati nyeri tulang.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 5 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

    Klaudikasio

    Kalkulator BMI Benarkah berat badan Anda sudah ideal? Ayo Cari Tahu! Your browser does not support iframes. ...

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Congestive Heart Failure (CHF)

    Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi jantung tidak mampu memompa darah. Apa penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara menghilangkan hitam di leher

    Leher Hitam? Atasi dengan Cara Mudah Ini

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    kaki lemas

    Kaki Terasa Lemas Tiba-Tiba? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
    mengetahui umur tulang manusia

    Bagaimana Cara Mengetahui Umur Tulang Anda?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit