backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Kelebihan Karbohidrat, Apa Saja Bahaya yang Mengintai?

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 23/11/2022

Kelebihan Karbohidrat, Apa Saja Bahaya yang Mengintai?

Kebanyakan orang Indonesia menganggap belum makan jika belum ada nasi di dalam piringnya. Namun, kebiasaan makan nasi dalam porsi besar  tanpa disadari membuat Anda kelebihan karbohidrat. Lantas, apa dampaknya?

Akibat kelebihan karbohidrat

Berikut efek dari kebanyakan karbohidrat.

1. Sulit menurunkan berat badan

Karbohidrat adalah salah satu zat gizi penyumbang kalori yang cukup besar, apalagi jika Anda konsumsi terlalu banyak.

Satu gram karbohidrat menyumbang kalori sebesar 4 kkal. Jadi, semakin banyak karbohidrat yang dikonsumsi, semakin banyak kalori yang masuk. 

Bila jarang melakukan aktivitas fisik, karbohidrat menumpuk dan akhirnya disimpan sebagai lemak tubuh dan membuat berat badan naik.

2. Meningkatkan risiko penyakit jantung

cek kolesterol harus puasa

Konsumsi banyak karbohidrat sederhana bisa meningkatkan kolesterol. 

Pasalnya, karbohidrat bisa membuat gula darah naik melonjak dan menyebabkan lemak darah trigliserida meningkat.

Sebuah jurnal Advances in Nutrition (2013) melaporkan bahwa orang-orang yang mengonsumsi karbohidrat berlebih, seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa, memiliki kadar trigliserida yang tinggi. 

Nah, kenaikan lemak darah inilah yang membuat kolesterol tinggi. Kondisi ini berkaitan erat dengan kemunculan penyakit jantung.

3. Sering merasa lapar

Sudah makan, tapi masih lapar lagi? Coba perhatikan apa yang Anda makan.

Asupan karbohidrat sederhana, seperti makanan tinggi gula, membuat kadar gula darah cepat naik dan cepat turun lagi. Anda pun cepat merasa lapar.

Saat Anda kelaparan, tubuh akan memproduksi hormon ghrelin, hormon yang meningkatkan nafsu makan

Ini membuat Anda bisa balas dendam alias makan berlebihan lagi pada waktu makan berikutnya. 

Tips sehat konsumsi karbohidrat

Agar kenyang lebih lama, pilihlah jenis karbohidrat yang tepat, yaitu serat. Serat tidak dipecah menjadi gula sehingga tidak melonjakkan kadar gula darah.

4. Meningkatkan risiko diabetes

penyebab penyakit diabetes

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang bisa muncul akibat kelebihan asupan karbohidrat.  

Tepung-tepungan dan gula merupakan jenis karbohidrat yang bisa meningkatkan kadar gula darah secara drastis. 

Hal ini membuat tubuh bekerja keras menghasilkan insulin agar gula masuk ke sel-sel tubuh.

Namun, asupan karbohidrat berlebih dalam jangka waktu panjang membuat sel-sel tubuh tidak bisa merespons insulin. 

Gula darah pun akhirnya meningkat drastis dan tak kunjung turun, lalu muncullah diabetes tipe 2.

5. Meningkatkan risiko depresi

Jika belakangan ini merasa sedih, murung, dan suasana hati tidak enak, mungkin ada yang salah dengan pola makan Anda.

Kelebihan asupan karbohidrat, seperti gula, bisa meningkatkan risiko depresi.

Studi terbitan Scientific Reports (2017) menemukan bahwa gula bisa menurunkan protein bernama brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Kekurangan BDNF di otak bisa meningkatkan risiko depresi.

Mengonsumsi gula juga meningkatkan hormon pemicu stres, yaitu hormon kortisol. Hal ini mengakibatkan Anda rentan mengalami kecemasan.

6. Gigi rusak

Akibat kelebihan karbohidrat, Anda rentan mengalami kerusakan gigi. Mengapa demikian?

Jenis karbohidrat sederhana seperti gula dan tepung bisa meningkatkan keasaman di mulut. Asam ini bisa merusak lapisan terluar gigi sehingga rapuh dan berlubang.

Selain itu, gula akan berinteraksi dengan bakteri di mulut sehingga menimbulkan plak gigi yang lengket. Jika dibiarkan, plak ini menimbulkan karang gigi.

Plak juga berisi dengan bakteri yang bisa menghasilkan asam di mulut dan membuat gigi berlubang.

7. Munculnya Jerawat

Kebanyakan karbohidrat ternyata bisa memicu jerawat. 

Karbohidrat sederhana seperti tepung dan gula bisa meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.

Kenaikan ini ternyata memicu peradangan di seluruh tubuh, tak terkecuali kulit.

Tak hanya itu, kenaikan gula darah drastis membuat kulit cenderung berminyak. Nah, minyak ini bisa menyumbat pori-pori dan memicu bakteri penyebab jerawat.

Peradangan dan minyak berlebih inilah yang memicu jerawat. Untuk itu, sebaiknya kurangi makanan pemicu jerawat yang tinggi tepung dan gula.

8. Membuat ketagihan

Berbagai studi menyebutkan bahwa karbohidrat berlebih bisa membuat Anda seperti kecanduan, terutama kecanduan gula

Hal ini disebabkan karbohidrat bisa merangsang bagian otak yang memunculkan rasa bahagia dan puas.

Itulah mengapa saat makan makanan manis Anda bisa terus menginginkannya. 

Bila makan makanan manis jadi kebiasaan, Anda pun bisa ketagihan dan sulit mengendalikannya.

9. Mengganggu kinerja otak

Akibat kelebihan karbohidrat, fungsi otak pun bisa bermasalah.

Mengonsumsi karbohidrat gula dan tepung berlebihan berkaitan dengan penurunan fungsi kecerdasan. 

Mengutip tinjauan terbitan Current Opinion in Clinical Nutrition & Metabolic Care (2018), kedua jenis karbohidrat ini bisa memicu peradangan pada bagian otak bernama hipokampus. 

Bagian otak ini berperan penting pada proses mengingat dan pembelajaran.

10. Kembung

Serat merupakan jenis karbohidrat yang baik untuk kesehatan. Namun, kelebihan asupan ini bisa menyebabkan perut begah dan kembung.

Serat menciptakan reaksi dengan bakteri di dalam usus. Nah, reaksi ini menghasilkan gas di dalam usus sehingga Anda pun mengalami kembung.

Tak hanya serat, ada beberapa jenis gula yang bisa sebabkan kembung bila dikonsumsi berlebih, seperti rafinosa, laktosa, fruktosa, dan sorbitol. 

Dalam kadar terlalu tinggi, jenis gula ini ini sulit dicerna oleh tubuh dan akan berinteraksi dengan bakteri di usus dan menghasilkan gas.

Kelebihan karbohidrat bisa menimbulkan berbagai penyakit kronis. Sebagian besar bahaya tersebut berasal dari jenis karbohidrat gula dan tepung.

Perlu diingat, bahaya di atas akan muncul hanya jika dikonsumsi secara berlebihan. Anda tetap membutuhkan asupan karbohidrat untuk mendukung aktivitas harian.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 23/11/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan