home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

5 Efek Samping Teh Hijau yang Harus Anda Waspadai

5 Efek Samping Teh Hijau yang Harus Anda Waspadai

Anda tentu sudah tak asing lagi dengan teh hijau. Selain karena rasanya yang khas, teh hijau punya banyak manfaat serta nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh. Namun, Anda tetap harus berhati-hati karena konsumsi teh hijau secara berlebihan juga bisa berdampak buruk, lho! Kira-kira, apa saja efek samping dari minum teh hijau terus-menerus? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Kandungan serta manfaat teh hijau

manfaat kandungan khasiat teh hijau

Teh hijau adalah minuman yang berasal dari daun tanaman Camellia sinensis.

Salah satu dari beragam jenis teh yang paling banyak dikonsumsi di dunia ini sudah sering dijadikan obat tradisional sejak zaman dahulu, terutama di dataran Tiongkok dan India.

Tak heran, ini karena teh hijau punya kandungan berbagai nutrisi yang bermanfaat untuk kebaikan tubuh.

Teh hijau adalah salah satu jenis teh yang tidak melalui proses pengolahan yang panjang. Oleh karena itu, kandungan gizi di dalamnya bisa tetap dipertahankan, seperti antioksidan dan polifenol.

Kandungan di dalam teh ini diketahui sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, mulai dari memelihara kesehatan jantung, otak, hingga menurunkan risiko kanker.

Hal ini yang membuat teh hijau jadi salah satu minuman favorit banyak orang.

Apa risiko efek samping dari teh hijau?

minum teh hijau sebelum tidur

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa teh hijau menawarkan khasiat yang melimpah.

Namun, pada dasarnya, segala sesuatu tidak baik bila dikonsumsi secara berlebihan. Nah, hal ini juga berlaku pada teh hijau.

Ya, minuman yang sekilas mengandung banyak manfaat ini ternyata juga berisiko menimbulkan efek samping pada tubuh jika diminum terlalu sering.

Berikut adalah beberapa bahaya bila minum teh hijau terlampau banyak:

1. Ketergantungan kafein

Jika Anda sangat sering bahkan hobi minum teh hijau, kemungkinan Anda berisiko mengalami ketergantungan kafein sebagai efek sampingnya.

Jadi, ketika Anda tidak minum teh yang mengandung kafein, Anda akan mengalami gejala putus kafein.

Kondisi putus kafein biasanya ditandai dengan rasa kantuk, pusing, sakit kepala, dan mudah terpancing emosi.

Gejala-gejala dapat muncul 12-24 jam setelah Anda berhenti mengonsumsi kafein.

2. Menyebabkan susah tidur

Efek samping lain dari minum teh hijau adalah sulit tidur. Namun, kondisi ini hanya terjadi jika Anda minum teh hijau kurang dari 2 jam sebelum tidur.

Fenomena ini masih berkaitan dengan kandungan kafein yang tinggi dalam teh hijau. Kafein berpengaruh langsung pada sistem saraf pusat di otak.

Alhasil, otak dapat memasuki mode waspada serta mengurangi rasa lelah.

Akibatnya, rasa kantuk Anda pun berkurang. Bayangkan jika Anda minum teh hijau sebelum tidur, kualitas tidur Anda bisa saja terganggu.

3. Memperlambat penyerapan zat besi dalam tubuh

Meski kandungan antioksidan di dalam teh hijau memberi banyak manfaat, ada pula efek samping yang ditimbulkan jika tidak diminum di waktu yang tepat.

Flavonoid, salah satu antioksidan di teh hijau, dapat mengikat zat besi. Akibatnya, zat besi justru tidak bisa diserap oleh tubuh.

Minum teh hijau pada waktu makan atau setelahnya bisa mengurangi penyerapan zat besi hingga sekitar 70 persen.

Itulah mengapa Anda disarankan tidak minum teh hijau saat makan atau beberapa jam setelahnya.

4. Memperparah gangguan kecemasan

Bahaya lain yang perlu Anda waspadai dari teh hijau adalah memperburuk gejala gangguan kecemasan.

Orang dengan kondisi psikis tersebut sebaiknya tidak minum teh hijau terlalu banyak. Hal ini disebabkan oleh kandungan kafein di dalamnya.

Sebuah studi dari jurnal Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health membenarkan hal tersebut.

Sayangnya, belum ada penjelasan yang pasti terkait mengapa kafein dapat memicu gejala kecemasan.

5. Berisiko memperburuk anemia

Apabila Anda sering mengalami gejala anemia, hindari konsumsi teh hijau terlalu sering.

Pasalnya, teh hijau juga berisiko menyebabkan anemia semakin memburuk.

Hal ini berhubungan dengan sifat teh hijau yang menghambat penyerapan zat besi oleh tubuh.

Jika Anda memiliki kondisi medis tersebut, sebaiknya konsultasikan dengan dokter tentang batasan jumlah konsumsi teh hijau yang masih relatif aman untuk Anda.

Ingat, seseorang yang sehat sekali pun juga bisa saja terkena anemia di lain waktu apabila terlalu sering minum teh hijau.

Itulah beragam risiko efek samping dari teh hijau yang harus Anda waspadai. Sebenarnya, sah-sah saja jika Anda masih ingin minum teh hijau.

Akan tetapi, jangan jadikan teh hijau sebagai pengganti air putih. Agar tetap aman, Anda bisa minum di waktu yang tepat, misalnya pagi atau siang hari setelah makan.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Chacko, S., Thambi, P., Kuttan, R., & Nishigaki, I. (2010). Beneficial effects of green tea: A literature review. Chinese Medicine, 5(1), 13. https://dx.doi.org/10.1186%2F1749-8546-5-13

Sajadi-Ernazarova, KR., Anderson, J., Dhakal, A., Hamilton, RJ. (2020). Caffeine Withdrawal. StatPearls Publishing.

Santos, V., Hoirisch-Clapauch, S., Nardi, A., & Freire, R. (2019). Panic Disorder and Chronic Caffeine Use: A Case-control Study. Clinical Practice & Epidemiology In Mental Health, 15(1), 120-125. https://dx.doi.org/10.2174%2F1745017901915010120

Fan, F. (2016). Iron deficiency anemia due to excessive green tea drinking. Clinical Case Reports, 4(11), 1053-1056. https://dx.doi.org/10.1002%2Fccr3.707

Schönthal A. H. (2011). Adverse effects of concentrated green tea extracts. Molecular nutrition & food research, 55(6), 874–885. https://doi.org/10.1002/mnfr.201000644 

Green Tea – National Center for Complementary and Integrative Health. (2020). Retrieved March 19, 2021, from https://www.nccih.nih.gov/health/green-tea

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 22/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.