home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa Saja Risiko Kesehatan yang Dihadapi Seorang Psikolog?

Apa Saja Risiko Kesehatan yang Dihadapi Seorang Psikolog?

Setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri, begitu pun tenaga kesehatan mental profesional seperti psikolog. Pasalnya, Anda berhadapan dengan pengalaman traumatis, keluhan pasien, hingga kasus gangguan kejiwaan berat yang mungkin jarang ditemukan. Lantas, apa saja risiko kesehatan yang perlu diantisipasi oleh seseorang saat menjadi psikolog?

Tantangan kesehatan saat menjadi psikolog

Psikolog tidak hanya harus fokus terhadap masalah yang dialami pasiennya. Mereka perlu memenuhi tuntutan kerja, membantu pasien menemukan solusi masalahnya, dan pada saat yang sama berupaya menjaga kesejahteraan mental diri sendiri.

Ini sebabnya seorang psikolog perlu mengantisipasi risiko kesehatan sebagai berikut:

1. Stres berkepanjangan

menghilangkan stres dan sakit kepala

Risiko kesehatan berupa stres sangat tinggi bagi orang yang menjadi psikolog. Hal ini disebabkan karena Anda menghadapi pasien yang mengalami tekanan dan stres berat. Situasi ini pun bisa bertambah sulit bila pasien sulit bersikap terbuka kepada Anda.

Pada saat yang sama, Anda harus tetap bersikap profesional dalam menjalankan pekerjaan. Anda harus memenuhi tuntutan kerja, menyelesaikan berbagai tugas, serta berusaha membangun hubungan dan kepercayaan dengan pasien.

2. Secondary traumatic stress

Dilansir dari The National Child Traumatic Stress Network, secondary traumatic stress adalah stres yang muncul setelah seseorang mendengar pengalaman traumatis orang lain. Kondisi ini dapat memengaruhi fisik maupun psikis orang yang mengalaminya.

Saat Anda menjadi psikolog, empati terhadap pasien bisa menimbulkan risiko tersendiri terhadap kesehatan Anda. Hal ini terjadi karena pengalaman traumatis pasien lambat laun membuat Anda ikut merasakan amarah, rasa bersalah, dan emosi negatif lainnya.

3. Munculnya emosi negatif saat menghadapi kasus pasien

pengaruh stres

Saat pasien berinteraksi dengan psikolog, ada potensi terjadinya countertransference. Ini adalah kondisi ketika psikolog merasakan emosi negatif atau masalah pribadinya bercampur aduk dengan kasus pasien.

Contohnya, Anda mungkin memiliki pengalaman buruk semasa kecil. Kemudian, Anda bertemu klien bertemperamen buruk yang mengingatkan Anda pada pengalaman tersebut. Hal ini dapat memicu emosi negatif yang akhirnya memengaruhi kinerja Anda.

4. Burnout

Risiko kesehatan lain bagi orang-orang yang menjadi psikolog adalah burnout. Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan. Kondisi ini bisa menguras energi serta menurunkan motivasi Anda dalam bekerja.

Lambat laun, produktivitas kerja dapat menurun dan Anda mungkin merasa tidak mampu menghasilkan apa pun. Jika Anda merasakan emosi negatif setiap menghadapi pasien, coba beristirahat sejenak hingga Anda merasa mampu bekerja kembali.

Cara mengantisipasi risiko kesehatan sebagai psikolog

Psikolog tidak berbeda dengan pasiennya yang berisiko mengalami masalah psikologis. Anda pun membutuhkan strategi untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri selama berhadapan dengan pasien dan beragam masalah yang mereka alami.

Bagi Anda yang menjadi psikolog, berikut adalah beberapa langkah mengantisipasi risiko kesehatan yang Anda hadapi:

  • Meminta saran dari rekan sesama psikolog.
  • Menyempatkan waktu bersama keluarga.
  • Pergi berlibur sendiri atau bersama orang-orang tersayang.
  • Ikut serta dalam komunitas yang Anda sukai.
  • Berbagi cerita dengan teman-teman.

Tanggung jawab menjadi seorang psikolog tidaklah mudah, dan Anda harus berhadapan dengan sejumlah risiko kesehatan. Tidak perlu khawatir, sebab ini adalah hal yang normal. Bagaimanapun, Anda adalah manusia yang memiliki batasan.

Ketika keadaan sedang berat-beratnya, berikan diri Anda kesempatan untuk beristirahat sejenak. Manfaatkan momen ini untuk mengingat kembali beragam hal yang membuat Anda merasa bahagia dan berharga.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Professional Health and Well-being for Psychologists. https://www.apaservices.org/practice/ce/self-care/well-being Diakses pada 15 November 2019.

Secondary Traumatic Stress. https://www.acf.hhs.gov/trauma-toolkit/secondary-traumatic-stress Diakses pada 15 November 2019.

Secondary Traumatic Stress. https://www.nctsn.org/trauma-informed-care/secondary-traumatic-stress Diakses pada 15 November 2019.

Burnout Prevention and Treatment. https://www.helpguide.org/articles/stress/burnout-prevention-and-recovery.htm Diakses pada 15 November 2019.

The Hazards of Being a Therapist. https://psychcentral.com/blog/the-hazards-of-being-a-therapist/ Diakses pada 15 November 2019.

Center for Substance Abuse Treatment. (2000). Substance Abuse Treatment for Persons with Child Abuse and Neglect Issues. Rockville: Substance Abuse and Mental Health Services Administration (US). Diakses pada 15 November 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 23/12/2019
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro