Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Sisi Baik dan Buruk Sleep Call untuk Pasangan LDR

Sisi Baik dan Buruk Sleep Call untuk Pasangan LDR

Tren sleep call kini tengah naik daun di antara banyak pasangan, terutama yang sedang menjalin hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Meski bisa mendekatkan Anda dengan orang terkasih, apakah kebiasaan saling bertelepon hingga tertidur ini punya dampak buruk bagi kesehatan? Simak ulasannya berikut ini.

Apa arti sleep call?

main hp saat tidur

Sederhananya, sleep call dapat diartikan sebagai kebiasaan saling melakukan panggilan suara atau video (video call) antara pasangan hingga keduanya tertidur pada malam hari.

Kebanyakan orang yang melakukan hal ini akan membiarkan panggilan telepon tetap menyala sepanjang malam hingga bangun keesokan paginya.

Telepon sampai ketiduran ini biasa dilakukan oleh dua orang yang berpacaran, mereka yang PDKT lewat telepon, atau pasangan suami-istri agar tetap terhubung selama LDR.

Tren ini juga kian meningkat di tengah ramainya penggunaan aplikasi kencan online, ditambah pandemi COVID-19 yang membatasi interaksi tatap muka.

Manfaat sleep call untuk pasangan LDR

Pada dasarnya, pasangan LDR akan merasakan kehilangan banyak interaksi secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Nah, sleep call dipercaya jadi jalan keluar yang bisa membuat pasangan LDR tetap awet.

Banyak pasangan menyatakan kebiasaan ini bermanfaat untuk memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kebersamaan saat menjalin hubungan jarak jauh.

Meningkatnya suasana hati juga membantu mengurangi kecemasan berlebih sehingga banyak orang merasa lebih mudah tidur dibandingkan tidak melakukan sleep call sama sekali.

Manfaat sleep call ini pun tidak dimungkiri oleh Jeff Hancock, seorang profesor komunikasi dari Stanford University, seperti dikutip dari The Atlantic.

Tidur sambil mengobrol melalui panggilan suara atau video menunjukkan komitmen seseorang. Ini menandakan bahwa saya akan menghabiskan waktu, energi, dan teknologi untuk bersama Anda.

Jeff Hancock

Meski layar tidak memberikan interaksi yang sama seperti saat bertemu tatap muka, hal ini juga dapat membantu mempertahankan suatu hubungan.

Hancock juga menjelaskan kebiasaan menelepon saat tidur adalah sebuah fenomena baru sebagai hasil dari kemajuan teknologi komunikasi saat ini.

Bahaya sleep call bagi kesehatan

bahaya sleep call

Kebiasaan sleep call ini tidak jarang membuat Anda tidur di dekat ponsel sepanjang malam. Nah, tentu ada berbagai bahaya tidur dekat ponsel yang perlu Anda waspadai. Berikut di antaranya.

1. Menurunkan kualitas tidur

Layar ponsel memancarkan cahaya biru yang panjang gelombangnya mirip dengan cahaya pada siang hari. Hal inilah yang berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Pancaran sinar biru dari ponsel bisa menghambat produksi melatonin atau hormon tidur. Ini disebabkan karena tubuh mengira situasi di sekitarnya masih siang hari.

Menurunnya kadar melatonin pada akhirnya membuat Anda lebih susah tidur. Seiring waktu, kondisi ini mungkin bisa menurunkan kualitas tidur Anda.

2. Meningkatkan risiko kebakaran

Sleep call terkadang membuat Anda akan meninggalkan ponsel dalam kondisi menyala dan melakukan panggilan sepanjang malam. Tak jarang juga ini dilakukan sambil mengisi daya (charge) ponsel di dekat tempat tidur.

Ponsel yang sedang digunakan sambil diisi dayanya tentu akan lebih cepat panas. Bantal, selimut, atau kasur yang menyerap panas juga membuat suhu ponsel makin tinggi.

Dalam kondisi berbahaya, ponsel kemungkinan bisa meledak. Inilah yang berisiko memicu kebakaran, terlebih karena tempat tidur terbuat dari bahan yang mudah terbakar.

3. Berpotensi memicu kanker

Medan elektromagnetik yang dihasilkan ponsel berpotensi menjadi karsinogen (zat pemicu kanker) bagi tubuh manusia menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) seperti dikutip dari laman WHO.

Menurut beberapa pakar, sifat karsinogenik ini terutama dapat meningkatkan risiko tumor dan kanker pada kepala, tempat biasa ponsel dipegang.

Walau belum ada studi yang benar-benar meneliti dampaknya, menghindari tidur dekat ponsel tentu bisa membantu mengurangi risiko penyakit serius ini.

Ikhtisar

Sleep call adalah panggilan telepon yang dilakukan sepanjang malam oleh pasangan hingga keduanya tertidur. Meski bermanfaat menjaga hubungan awet dan harmonis, hal ini bisa mengurangi kualitas tidur, meningkatkan risiko kanker, hingga memicu kebakaran.

Pada dasarnya, hal ini bermanfaat untuk pasangan yang menjalani LDR. Meski begitu, jangan sampai kebiasaan menelpon saat tidur ini berdampak buruk bagi tubuh.

Apabila mulai muncul gejala-gejala yang mengganggu kualitas tidur Anda, sebaiknya kurangi intensitas sleep call dan terapkan kembali pola tidur yang sehat.

Selalu berkomunikasi dengan pasangan Anda untuk mencari cara terbaik supaya hubungan tetap awet dan berjalan harmonis.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cray, K. (2020). The Couples Who Sleep ‘Together’ Over Videochat. The Atlantic. Retrieved 30 May 2022, from https://www.theatlantic.com/family/archive/2020/01/couples-who-share-bed-over-videochat/604348/

Pacheco, D. & Truong, K. (2022). How Electronics Affect Sleep. Sleep Foundation. Retrieved 30 May 2022, from https://www.sleepfoundation.org/how-sleep-works/how-electronics-affect-sleep

3 Reasons to Ditch Your Phone Before Bed. Cleveland Clinic. (2022). Retrieved 30 May 2022, from https://health.clevelandclinic.org/put-the-phone-away-3-reasons-why-looking-at-it-before-bed-is-a-bad-habit/

Electromagnetic fields and public health: mobile phones. WHO. (2014). Retrieved 30 May 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/electromagnetic-fields-and-public-health-mobile-phones

Shechter, A., Kim, E., St-Onge, M., & Westwood, A. (2018). Blocking nocturnal blue light for insomnia: A randomized controlled trial. Journal Of Psychiatric Research, 96, 196-202. https://doi.org/10.1016/j.jpsychires.2017.10.015

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 6 days ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.