home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pasangan Suka Marah-Marah dan Emosian? Mungkin 4 Hal Ini Penyebabnya

Pasangan Suka Marah-Marah dan Emosian? Mungkin 4 Hal Ini Penyebabnya

Punya pasangan yang suka marah-marah tentu bikin hati jadi jengkel bukan kepalang. Apalagi kalau pasangan mulai menyalahkan Anda terus-terusan, maka pertengkaran ini tentu sudah tidak sehat lagi dan harus segera dihentikan. Ketimbang balik emosi yang justru bisa memperparah keadaan, sebaiknya cari tahu dulu penyebab pasangan marah berikut ini.

Kenapa pasangan marah dan gampang emosi?

Hubungan yang sehat itu bukan berarti tidak pernah dibumbui dengan pertengkaran atau berselisih pendapat. Bertengkar dengan pasangan itu hal yang biasa, tapi sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut dan segera diselesaikan dengan kepala dingin.

Wajar saja kalau pasangan marah dan gampang emosi saat pikirannya sedang penat. Akan tetapi, jika ini terjadi berhari-hari, Anda mungkin jadi bingung dan mulai menebak-nebak penyebabnya.

Berikut ini berbagai penyebab pasangan marah dan gampang emosi, yaitu:

1. Stres

membantu pasangan depresi

Pikiran yang penat dan stres berkepanjangan adalah penyebab pasangan marah yang paling umum. Tanpa disadari, amarah memiliki efek yang mirip seperti amfetamin dan analgesik, dua zat yang dapat meningkatkan energi dan menghilangkan rasa sakit.

Saat sedang stres, Anda akan merasakan denyut jantung meningkat, pernapasan lebih cepat, otot menegang, dan tekanan darah Anda naik. Untuk mengatasinya, respon fisiologis tersebut akan mengeluarkan reaksi amarah untuk memunculkan efek amfetamin dan analgesik tadi.

Efek amfetamin dan analgesik ini akan memberikan lonjakan energi dan meningkatkan kepercayaan diri Anda. Itulah mengapa, beberapa orang yang stres lebih memilih untuk menumpahkannya lewat amarah supaya dirinya merasa lebih baik setelahnya.

2. Merasa kecewa

pasangan sedang sedih

Saat pasangan Anda jadi lebih sering marah dan gampang emosian, mungkin saja pasangan Anda sedang dilanda kekecewaan. Akan tetapi, jangan dulu buru-buru menyalahkan diri Anda, ya. Sebab, bisa jadi pasangan Anda sedang merasa kecewa dengan teman kantor, keluarga, atau orang lain di sekitarnya.

Dikutip dari Psychology Today, orang yang sering marah-marah cenderung mudah tersinggung, sensitif, dan bahkan menganggap dunia tidak adil kepadanya. Contohnya begini, pasangan Anda baru saja menerima proyek besar yang harus dikerjakan bersama rekan kerjanya. Saat proyek ini berhasil, atasannya justru memuja-muji rekan kerjanya ketimbang dirinya. Tak heran pasangan Anda merasa kecewa dan menganggap ini tidak adil baginya.

Semakin tinggi ekspektasi yang diharapkan, maka semakin besar pula kekecewaan yang dirasakan. Akibatnya, Anda yang menjadi bulan-bulanan saat pasangan marah.

3. Kurang komunikasi

pasangan ngambek

Coba ingat lagi, apakah komunikasi Anda dan pasangan kurang intens akhir-akhir ini? Jika iya, bisa jadi inilah penyebab pasangan marah dan gampang emosi kepada Anda.

Ingat, komunikasi dengan pasangan adalah kunci penting dalam suatu hubungan. Saat Anda atau pasangan tidak saling terbuka atau menutup-nutupi sesuatu, salah satunya tentu akan merasa dibohongi dan akhirnya menuduh satu sama lain. Lama-lama, reaksi negatif ini akan mengikis empati dalam diri pasangan dan memunculkan amarah.

Baik atau buruknya suasana hati Anda saat ini, tetap komunikasikan pada pasangan dan mintalah ia melakukan hal yang sama. Ingat, pasangan Anda juga ingin didengar, lho.

Tunjukkan minat dan perhatian Anda secara penuh, contohnya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang menenangkan, suara yang lembut, dan genggam tangannya erat-erat.

Setelah itu, utarakan keinginan satu sama lain dan cari jalan keluar bersama. Dengan begitu, masalah yang ada akan terselesaikan dengan mudah tanpa harus saling tarik urat.

4. Gangguan kepribadian narsistik

pasangan mengancam putus

Jika pasangan Anda suka marah-marah karena hal sepele atau bahkan tanpa sebab, bisa jadi pasangan Anda mengalami gangguan kepribadian narsistik. Hal ini disampaikan oleh Steven Stosny, Ph. D, seorang konsultan kekerasan keluarga sekaligus penulis How to Improve Your Marriage Without Talking About It and Love Without Hurt.

Menurut Steven Stosny, sudah ratusan klien yang mengeluhkan pasangannya marah karena mengidap gangguan kepribadian ini. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik menganggap dirinya jauh lebih penting dari orang lain, tapi cenderung cuek alias empatinya rendah terhadap orang lain. Ketika dirinya mendapatkan sedikit kritikan dari orang lain, kepercayaan dirinya akan mudah runtuh dan melampiaskannya dengan amarah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri pada 17/02/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x