Cara Menghadapi Orang dengan Kepribadian yang Toxic

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tidak jarang kita menjumpai orang-orang dengan sifat yang tidak menyenangkan, seperti manipulatif, penuh dengan drama, dan sering berpikiran negatif. Sifat-sifat tersebut acap kali ditemukan pada orang-orang toxic, dan pasti Anda pernah berhadapan dengan orang-orang tersebut setidaknya sekali seumur hidup dalam lingkungan Anda sehari-hari. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui kiat-kiat menghadapi orang dengan kepribadian yang toxic.

Bagaimana cara menghadapi orang toxic yang ada di sekitar kita?

Jika Anda memiliki seorang teman, rekan kerja, pasangan, atau mungkin anggota keluarga dengan karakteristik yang telah disebutkan di atas, hati-hati. Bisa jadi Anda sedang terperangkap dalam hubungan dengan orang-orang toxic.

Lalu, apakah ada cara untuk menghadapi lingkaran hubungan dengan orang-orang toxic? Tentu saja ada. Dengan mengikuti tips-tips di bawah, Anda akan terhindar dari drama serta menjalani kehidupan yang lebih tentram:

1. Tidak terlalu memedulikan orang tersebut

Sering kali, orang-orang dengan kepribadian yang toxic akan mencari perhatian orang lain dengan berbagai macam cara. Hal ini dapat terlihat dari kebiasaan memotong pembicaraan orang lain, bertindak berlebihan, atau sengaja berbicara terlalu keras.

Satu-satunya cara untuk menghadapi orang dengan kepribadian toxic dan ingin selalu menjadi pusat perhatian tentunya adalah dengan tidak mengacuhkannya.

Jika orang tersebut sudah mulai berulah, ada baiknya Anda dan orang-orang di sekitar Anda mulai mengambil tindakan dengan cara tidak terlalu memedulikannya.

2. Ikuti naluri dan kata hati

Apakah Anda sering memaklumi atau membiarkan perilaku seseorang yang tidak menyenangkan terhadap Anda?

Misalnya, setelah Anda menghadapi orang dengan kelakuan yang toxic, Anda berkata “Dia pasti tidak bermaksud berkata begitu, mungkin dia sedang emosi”, atau “Mungkin dia tidak sadar perbuatannya salah, kalau diingatkan pasti dia akan mengerti”.

Nah, jika Anda sadar bahwa Anda sering “membela”, padahal sebenarnya Anda tahu bahwa perbuatan orang tersebut salah, sudah waktunya Anda bangun dan mengikuti kata hati Anda.

Dengan terus menerus menyangkal kata hati Anda, itu berarti sama saja Anda membenarkan tindakan orang toxic tersebut.

3. Hati-hati dengan sunk cost fallacy

Trik lain dalam menghadapi orang toxic adalah buang jauh-jauh pikiran bahwa Anda akan rugi atau merasa kehilangan saat menjauhi orang toxic. Ketakutan tersebut, dilansir dari Psychology Today, disebut juga dengan sunk cost fallacy.

Apa itu sunk cost fallacy? Kondisi ini terjadi ketika Anda sudah “menginvestasikan” sesuatu pada seseorang. “Investasi” tersebut dapat berupa perasaan, emosi, waktu, pengorbanan, bahkan uang. Semakin besar “investasi” yang Anda berikan, semakin sulit Anda melepaskan diri dari orang tersebut.

Sunk cost fallacy banyak ditemukan pada orang-orang yang terjebak dalam hubungan toxic. Misalnya, Anda merasa tidak rela melepaskan diri dari pasangan Anda karena sudah menikah selama belasan tahun. Padahal, sebenarnya ia memiliki perangai yang buruk.

4. Hindari orang-orang yang sering mengasihani diri sendiri

Tips lain ketika sedang menghadapi orang toxic adalah kenali tanda-tanda mengasihani diri sendiri pada orang tersebut, lalu usahakan untuk menghindarinya.

Mungkin Anda sudah hafal betul bahwa salah satu karakteristik orang toxic adalah pandai bersandiwara dan manipulatif. Sering kali, mereka melepaskan diri dari tanggung jawab dengan mengasihani diri sendiri.

Contohnya, teman Anda pernah berutang kepada Anda. Ketika Anda akan menagih utang tersebut, teman Anda akan mencari-cari alasan yang memposisikan dirinya sebagai “korban”, seperti belum mendapat pekerjaan karena tidak ada dukungan dari orang-orang sekitar, dan sebagainya.

Orang-orang yang sering memposisikan diri sebagai “korban” dan mengasihani diri sendiri cenderung tidak melakukan perubahan apapun untuk memperbaiki hidupnya.

Menghadapi orang dengan karakteristik toxic seperti ini memang perlu dilakukan secara lebih tegas, salah satunya adalah dengan menghindari dan tidak mengindahkan “drama” orang tersebut.

Dengan demikian, Anda tidak akan terseret dalam aura negatif orang tersebut, serta lebih mudah menemukan kedamaian dalam hidup.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

Memang ada orang yang pemalu. Tapi kalau sudah parah sampai takut untuk bergaul dengan orang lain, mungkin ia mengidap avoidant personality disorder.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Gangguan Mental Lainnya 3 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

7 Keuntungan Jadi Jomblo dari Sisi Psikologis

Tak perlu galau jika Anda belum juga menemukan kekasih. Berikut keuntungan jadi jomblo dari sisi psikologis, menurut para peneliti.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hubungan Harmonis 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Cemas atau Takut Saat Tidak Memegang Ponsel? Bisa Jadi Pertanda Nomophobia

Kecanduan smartphone bisa menyebabkan gangguan kecemasan yang disebut nomophobia. Apa sih sebenarnya kondisi ini? Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Kecemasan 1 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

Beragam masalah dapat membuat Anda merasa terhimpit, sehingga timbul pikiran buruk. Apa yang perlu dilakukan jika timbul rasa ingin bunuh diri?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Mental, Cegah Bunuh Diri 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
stockholm syndrome adalah

Stockholm Syndrome: Ketika Sandera Justru Bersimpati Pada Penculiknya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
main boneka saat dewasa

Masih Suka Main Boneka Saat Dewasa, Apakah Normal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit