Memahami Bedanya Gangguan Stres Akut dan Stres Pasca Trauma (PTSD)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang setidaknya pernah satu kali merasa stres dalam hidupnya — entah itu karena masalah rumah tangga, keuangan di akhir bulan, atau karena terjebak di tengah macetnya jalanan. Akan tetapi, tidak semua orang pernah mengalami stres akut. Ya, stres akut sangatlah berbeda dengan stres harian yang biasa Anda alami. Stres akut umumnya terjadi mengikuti sebuah peristiwa traumatik yang Anda alami atau saksikan. Misalnya bencana alam, KDRT, kecelakaan lalu lintas, kekerasan seksual, hingga kembali dari perang.

Dilihat sekilas, pengertian stres akut sangat mirip dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Lantas kalau keduanya sama-sama dipicu oleh kejadian trauma berat, apa yang membedakan stres akut dan PTSD?

Apa bedanya stres akut dan PTSD?

Dari definisi

Stres akut, atau yang punya nama lengkap accute stress disorder (ASD) adalah syok psikologis yang timbul sebagai respons setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan atau traumatis, yang kemudian menimbulkan reaksi emosional negatif yang kuat. Stres akut juga bisa mewujudkan diri sebagai gangguan kecemasan.

Gangguan stres pasca trauma atau PTSD adalah gangguan mental yang dipicu oleh ingatan kilas balik setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan atau traumatis. Gejala stres akut dan PTSD adalah sama-sama menimbulkan reaksi emosional negatif. Namun PTSD dapat menyebabkan seseorang mengalami serangan panik dan serangan kecemasan begitu mengingat peristiwa traumatis tersebut.

Dari gejala yang dialami

Gejala stres akut dan PTSD pada dasarnya sama, yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok gejala:

  • Mengalami kembali: ingatan kilas balik, mimpi buruk, imajinasi-imajinasi mengerikan, mengingat-ingat kembali peristiwa tersebut, respons emosional kuat terhadap pengingat peristiwa traumatik.
  • Penghindaran: menghindari pikiran, percakapan, perasaan, tempat, dan orang-orang yang mengingatkan kita akan kejadian tersebut; kehilangan minat; disosiasi; mati rasa emosional.
  • Hyperarousal: masalah tidur, mudah tersinggung, ledakan kemarahan, sulit berkonsentrasi, serangan panik, serangan kecemasan, mudah kaget, gelisah

Yang membedakan adalah gejala PTSD pada umumnya termasuk perilaku kekerasan/berisiko/merusak. PTSD juga menyebabkan timbulnya pikiran dan asumsi yang terlalu negatif tentang diri sendiri atau dunia sekitar, pesimis terhadap masa depan, menyalahkan diri sendiri atau orang lain karena menyebabkan trauma, penurunan minat untuk beraktivitas, dan merasa terisolasi. Gejala stres akut tidak mencakup hal-hal ini.

Namun, stres akut menyebabkan efek disosiasi yang lebih kuat daripada PTSD. Disosiasi didefinisikan sebagai “lepasnya” kesadaran diri akan pikiran, memori, perasaan, hingga perbuatan yang bisa bersifat sebagian atau penuh. Gejala disosiatif ditandai dengan amnesia sementara (sulit mengingat bagian-bagian tertentu dari peristiwa traumatik tersebut) dan penolakan (merasa tidak terkait/merasa tidak mengalami peristiwa tersebut, atau melihat peristiwa tersebut dari pandangan orang ketiga).

Pada kebanyakan kasus, diagnosis PTSD tidak selalu membutuhkan kehadiran gejala disosiasi.

trauma dan gangguan mental akibat kekerasan seksual

Dari waktu berlangsungnya gejala

Gejala stres akut dan PTSD bisa tumpang tindih. Yang membedakan adalah lama durasi berlangsungnya gejala.

Gejala ASD akan segera terjadi setelah peristiwa traumatik tersebut dan terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Berdasarkan buku panduan DSM-5 keluaran tahun 2013, seseorang dikatakan mengalami stres akut jika gejalanya berlangsung dari tiga hari tapi kurang dari 4 minggu setelah terpapar kejadian traumatis. Gejala ASD berlangsung konstan selama jangka waktu ini, namun akan hilang setelah lewat dari 4 minggu.

Sementara itu, diagnosis PTSD baru bisa diresmikan ketika gejala stres akut terus berlanjut lebih dari satu bulan atau bahkan hingga tahunan setelah paparan awal, dan gejalanya bisa kambuhan sewaktu-waktu ketika dipicu.

Dengan kata lain, perbedaan antara stres akut dan PTSD adalah waktu. Jika seseorang mengalami gejala-gejala stres tersebut lebih dari sebulan, maka jelas bahwa itu bukan ASD tapi PTSD. Itulah perbedaan antara stres akut dan PTSD yang terbaik dan paling menonjol.

Banyak kasus stres akut berkembang menjadi PTSD. Namun tidak semua kasus PTSD demikian. Banyak dari kasus PTSD yang tidak memiliki riwayat stres akut sebelumnya.

Dari pengobatannya

Pengobatan untuk stress akut bisa dengan berkonsultasi psikolog dan mengonsumsi obat antidepresan yang diresepkan jangka pendek. Terapi tambahan seperti yoga, akupuntur, meditasi, atau aromaterapi juga bisa dilakukan untuk mengurangi stres. Rutin melakukan konsultasi kepada dokter atau psikolog atau profesional kesehatan mental untuk mengembangkan program perawatan.

Sementara itu, PTSD tidak memiliki obat penyembuh. Namun pengobatan PTSD biasanya meliputi kombinasi psikoterapi CBT dan konseling untuk membantu meminimalisir gejala yang dialami dan mengubah cara berpikir Anda mengenai trauma yang dialami.

Stres akut dan PTSD sama-sama harus cepat ditangani. Orang yang mengalaminya juga sama-sama harus mendapatkan dukungan dari keluarga serta orang-orang di sekitarnya agar lebih cepat pulih. Bila tidak segera mendapatkan perawatan, gangguan stres bisa akan terus berkembang menjadi depresi berat, gangguan makan, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, gangguan makan, hingga gangguan kecemasan kronis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Depresi bisa menyerang kapan saja. Tapi pada sebagian orang, depresi hanya muncul di pagi hari. Inilah yang dinamakan depresi pagi hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)

Pernahkah Anda mendengar tentang anxiety disorder atau gangguan kecemasan? Berikut informasi mengenai penyebab, tes gangguan kecemasan dan cara mengobati.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 12 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara melancarkan haid

Sederet Cara Melancarkan Jadwal Haid Agar Kembali Teratur

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
manfaat sering menangis

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit