Transgender Mungkin Disebabkan Kondisi Medis Langka

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Disforia gender (gender dysphoria), sebelumnya dikenal sebagai gangguan identitas gender, adalah suatu kondisi yang diderita orang-orang yang dikenal dengan sebutan transgender, di mana seseorang mengalami ketidaknyamanan atau rasa tertekan karena ada ketidakcocokan antara jenis kelamin biologis dengan identitas gender mereka.

Dikutip dari WebMD, jenis kelamin biologis didapatkan seseorang saat lahir tergantung dari penampilan atat genitalianya. Namun, identitas gender adalah jati diri jenis kelamin yang dipercaya dan diyakini oleh individu tersebut. Misalnya, seseorang yang memiliki penis dan karakteristik fisik lainnya yang mewakili laki-laki, pada umumnya akan mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pria.

Tetapi, walaupun jenis kelamin biologis dan identitas gender seseorang bisa selaras bagi kebanyakan orang, hal ini tidak berlaku pasti bagi sebagian lainnya. Beberapa orang mungkin memiliki ciri karakteristik fisik laki-laki, tapi merasa dan meyakini dirinya adalah seorang perempuan, sementara yang lainnya mungkin merasa mereka adalah keduanya atau tidak merasa bahwa mereka 100 persen wanita atau pria saja (terlepas dari penampilan fisiknya), alias genderqueer.

Apa yang menyebabkan gender dysphoria?

Gender dysphoria adalah suatu kondisi medis nyata yang diakui oleh American Psychiatric Assocation, dan pada kasus tertentu diperlukan pengobatan medis. Akan tetapi, gender dysphoria bukanlah penyakit kejiwaan.

Dilansir dari News Medical, sejumlah studi mengindikasikan bahwa kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh ketidakselarasan kerja otak, namun bisa diakibatkan oleh penyebab biologis yang terkait dengan perkembangan identitas gender sebelum kelahiran.

Gender dysphoria mungkin disebabkan oleh suatu kondisi medis langka, seperti hiperplasia adrenal bawaan (congenital adrenal hyperplasia/CAH), dan kondisi interseks (dikenal juga sebagai hermaphroditisme).

Pada CAH, janin perempuan memiliki kelenjar adrenalin yang meproduksi hormon seks pria dalam kadar tinggi yang membuat vagina membengkak, sehingga bisa terjadi kesalahpahaman terlihat sebagai bayi laki-laki.

Interseks atau hermaphroditisme adalah kondisi langka di mana bayi lahir dengan dua alat kelamin, vagina dan penis. Pada kasus ini, setelah pelarangan prosedur normalisasi kelamin tanpa persetujuan pemilik tubuh oleh PBB, anak akan dibolehkan untuk bertumbuh-kembang dengan dua alat kelamin hingga cukup dewasa untuk memilih salah satu, dan melakukan operasi pembedahan.

Walaupun begitu, diperlukan penelitian yang lebih banyak lagi untuk bisa memastikan penyebab dari gender dysphoria.

Tanda dan gejala gender dysphoria

Menurut buku panduan psikiatri Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), bagi seseorang untuk dapat didiagnosis dengan gender dysphoria, harus ada perbedaan yang nyata antara gender yang ia sendiri yakini dan gender yang dipersepsikan orang lain, dan harus berkelanjutan setidaknya selama enam bulan. Pada anak, keinginan untuk mengubah gender harus nyata dan tampak, serta diutarakan langsung dari individu tersebut.

Keinginan dan keyakinan nyata yang dimaksud di atas bukan hanya keinginan untuk mendapatkan keuntungan sosial dan budaya dari jenis kelamin yang berbeda, namun datang dari dalam diri atas dasar kepercayaan bahwa mereka tidak seharusnya berada dalam kelompok jenis kelamin tertentu, dan menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten dari gender yang berseberangan.

Gender dysphoria diwujudkan dalam banyak cara, termasuk keinginan gigih untuk hidup dan diperlakukan seperti gender yang ia yakini, menghilangkan dan/atau mengubah karakteristik seksual mereka, atau keyakinan yang kuat bahwa mereka memiliki perasaan, pola tingkah laku, dan reaksi umum dari gender yang berseberangan dari dirinya.

Beberapa transgender memilih untuk menjalankan terapi medis (hormon atau operasi) untuk membuat penampilan fisik mereka lebih konsisten dengan identitas gender mereka.

Menurut NHS Choices, tidak diketahui persis seberapa banyak pengidap gender dysphoria, karena banyak orang yang mengalami kondisi ini tidak pernah dan/atau bisa mencari bantuan. Sebuah survei dari 10 ribu orang yang dilakukan oleh Equality and Human Rights Commission tahun 2012, menemukan bahwa satu persen dari total populasi dunia termasuk dalam kelompok transgender dan genderqueer, hingga batasan tertentu.

Tidak jarang, orang-orang transgender mengidap depresi dan mengalami pengasingan

Gender dysphoria menyebabkan tekanan atau depresi klinis dalam aspek sosial, pekerjaan, atau bidang-bidang lainnya yang bisa menghambat kualitas hidup individu pengidapnya.

Dampak gangguan bisa menjadi sangat luas, sehingga kehidupan mental orang tersebut hanya berpusat pada sejumlah kegiatan tertentu yang bisa mengurangi tekanan akibat stigma gender yang mereka hadapi. Pengidap gender dysphoria sering disibukkan dengan penampilan, terutama di awal transisi ke hidup dengan gender “baru”-nya. Hubungan dengan orangtua juga mungkin akan sangat terganggu. Tidak jarang pula orang-orang transgender atau pengidap gender dysphoria menerima pengasingan dari keluarga dan teman.

Beberapa laki-laki pengidap gender dysphoria memilih untuk melakukan pengobatan ilegal dengan hormon atau mungkin, walaupun sangat jarang, melakukan pengebirian mandiri tanpa pengawasan dokter. Banyak pula transgender yang terlibat dalam usaha prostitusi, menempatkan mereka pada risiko tinggi terhadap infeksi HIV.

Ketidakcocokan antara jenis kelamin dan identitas gender yang dialami oleh seseorang pengidap gender dysphoria dapat menyebabkan stress, kegugupan, dan depresi berkepanjangan. Usaha bunuh diri dan penyalahgunaan zat dan obat terlarang adalah umum dialami oleh pengidap gender dysphoria dan/atau transgender.

Beberapa laki-laki dewasa memiliki riwayat fetisisme serta parafilia lainnya. Gangguan kepribadian terkait lebih umum dialami oleh laki-laki pengidap gender dysphoria daripada wanita.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

    Memang ada orang yang pemalu. Tapi kalau sudah parah sampai takut untuk bergaul dengan orang lain, mungkin ia mengidap avoidant personality disorder.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
    Gangguan Mental Lainnya 3 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

    7 Keuntungan Jadi Jomblo dari Sisi Psikologis

    Tak perlu galau jika Anda belum juga menemukan kekasih. Berikut keuntungan jadi jomblo dari sisi psikologis, menurut para peneliti.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Hubungan Harmonis 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

    7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

    Beragam masalah dapat membuat Anda merasa terhimpit, sehingga timbul pikiran buruk. Apa yang perlu dilakukan jika timbul rasa ingin bunuh diri?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
    Kesehatan Mental, Cegah Bunuh Diri 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

    Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

    Toxic people merupakan salah satu jenis orang negatif yang harus Anda jauhi. Bagaimanakah ciri-cirinya? Simak jawabannya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hubungan Harmonis 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    psikolog dan psikiater konseling pandemi

    Apa Bedanya Psikolog dan Psikiater?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 8 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
    Mengenal Misophonia

    Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
    sensory processing disorder

    Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
    Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
    apakah petting bisa hamil

    Mungkinkah Hamil Akibat Saling Menggesekkan Alat Kelamin (Petting)?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit