home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tips Menghadapi Lika-liku Hubungan Asmara Dengan Pasangan Bipolar

Tips Menghadapi Lika-liku Hubungan Asmara Dengan Pasangan Bipolar

Menjalin hubungan asmara bukanlah hal yang mudah. Terlebih dengan pasangan yang terdiagnosis gangguan bipolar. Gangguan bipolar ditandai dengan perubahaan mood ekstrim yang biasa kita kenal dengan istilah mood swings. Itu sebabnya Anda membutuhkan kesabaran serta keikhlasan hati yang maksimal untuk menghadapi segala lika-liku yang mungkin terjadi selama hidup berdua pasangan bipolar. Tak jarang, menghadapi kambuhnya gejala bipolar pasangan dapat menyebabkan stres, hingga bahkan depresi. Simak tips mengarungi hubungan asmara dengan pasangan bipolar di bawah ini, agar hubungan Anda berdua pun bisa semakin kuat dan tahan banting.

Apa itu gangguan bipolar?

Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan jiwa yang membuat seseorang mengalami perubahan suasana hati yang sangat ekstrem dan bertolak belakang.

Pada satu waktu, orang yang memiliki gangguan bipolar dapat tenggelam dalam euforia, yaitu perasaan gembira dan semangat yang berlebihan dan tak kunjung mereda. Fase kebahagiaan ekstrem ini disebut fase mania dan bisa berlangsung setidaknya selama tujuh hari. Di waktu lainnya, orang tersebut dapat terjebak dalam fase depresif yang ditandai dengan rasa nelangsa, tidak berdaya, hilang harapan, dan keputusasaan tiada tara yang dapat berlangsung paling tidak selama 2 minggu.

Gangguan jiwa ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan pribadi, rendahnya motivasi, dan produktivitas di tempat kerja. Yang lebih buruk lagi, gangguan bipolar dapat menimbulkan kecenderungan dan/atau perilaku bunuh diri.

Lika-liku hubungan asmara dengan pasangan bipolar

Menjalin asmara dan hidup berdua dengan pasangan bipolar dapat ikut memengaruhi kualitas hidup Anda sebagai pendampingnya. Dikutip dari Healthline, sebuah studi tahun 2005 meneliti sejumlah pasangan yang salah satunya mengidap bipolar menemukan bahwa gejala gangguan jiwa ini bisa berimbas pada keseharian dan rutinitas rumah tangga mereka.

Gangguan bipolar dapat membuat pasangan Anda tampak “berjarak” sehingga menimbulkan ketegangan pada hubungan Anda berdua. Anda mungkin kesepian dan terbebani oleh tumpukan pekerjaan rumah tangga karena si dia terlalu lesu untuk menyelesaikannya ketika sedang terjebak dalam fase depresif. Ia juga mungkin akan menutup diri dari lingkungan sekitar selama masa-masa ini.

Di sisi lain, Anda mungkin merasa kesal karena pasangan Anda tidak pernah bisa diam; bertingkah sembrono (misalnya belanja gila-gilaan atau malah mengundurkan diri dari kantornya); bicara sangat cepat tapi sulit dipahami; hingga selalu begadang semalaman ketika sedang dalam fase mania.

Perubahan mood akibat gangguan bipolar kadang tak terduga dan bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa harus dipicu oleh sesuatu hal tertentu. Gejolak mood ekstrem ini dapat terjadi beberapa kali dalam setahun. Namun di antara pergantian fase mania dan depresif, perubahan mood dan emosi bisa berjalan normal seperti layaknya orang-orang pada umumnya. Itu sebabnya menghadapi pasangan bipolar bisa benar-benar terasa melelahkan bagi fisik dan mental Anda.

Tips menjalin hubungan dengan pasangan bipolar

Pasangan bipolar bukan berarti hubungan Anda berdua adalah akar masalahnya. Jika gangguan bipolar menjadi duri dalam hubungan, ini saatnya Anda bertindak — demi pasangan dan diri Anda sendiri.

1. Cari tahu tentang penyakitnya

Sama seperti gangguan jiwa lainnya, gangguan bipolar dapat ditangani dan disembuhkan dengan pengobatan dan terapi. Untuk mendukung terapinya, Anda harus terlebih dulu mengerti dan memahami kondisi yang diidap oleh pasangan Anda.

Gangguan bipolar sering kali disahalahartikan sebagai bentuk kecacatan karakter seseorang. Pada kenyatannya, bipolar adalah gangguan mental yang disebabkan oleh faktor-faktor biologis yang berada di luar kendali orang tersebut. Beberapa faktor risiko gangguan bipolar antara lain genetik (keturunan) dan kelainan fungsi otak.

2. Cari tahu pemicu gejalanya dan coba hindari

Gejala gangguan bipolar dapat dipicu oleh suatu hal. Gejalanya pun bisa terjadi perlahan, hampir tak kentara. Oleh karena itu, cari tahu dan pelajari apa yang dapat membuatnya kambuh dan coba untuk menghindari hal tersebut. Pelajari juga situasi hati pasangan Anda untuk coba mencegah fase depresi yang bisa datang kapan saja.

Andalah yang paling mengenal pasangan Anda luar-dalam. Jika Anda memperhatikan bahwa tingkah laku, gejolak emosi/perasaan, atau pola pikir pasangan Anda tidak seperti biasanya, tanyakan pada diri Anda apakah ini bisa menjadi pola gejala bipolarnya. Dengan mengamati perilaku pasangan Anda, hal ini juga bisa menguatkan diri dan tidak terkejut saat suasana hatinya berubah dengan cepat.

3. Tunjukkan cinta dan kasih sayang tanpa pamrih

Terima kenyataan bahwa pasangan Anda sedang sakit. Pahami juga karena penyakitnya ini, ia mungkin tidak selalu bisa menjadi orang yang selalu penuh cinta dan kasih sayang.

Namun cinta tulus Anda memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Bila pasangan Anda sedang mengalami fase depresif, beri tahu mereka bahwa Anda peduli dengan menunjukkan lebih banyak cinta. Mungkin akan terasa lebih sulit untuk melakukan hal ini saat mereka sedang kambuh dan melampiaskan negativitasnya pada Anda, tapi justru di saat-saat inilah mereka sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang.

Membiarkan orang yang depresi tenggelam sebelum menawarkan bantuan adalah salah total. Depresi berat akan semakin sulit untuk ditangani, lebih mudah kambuh, dan akan semakin menebar duri dalam hubungan Anda berdua ke depannya. Menunggu juga meningkatkan kemungkinan bahwa hubungan Anda tidak akan bertahan; adanya depresi dalam suatu hubungan meningkatkan risiko perpisahan hingga sembilan kali lipat.

4. Jangan lupa cari dukungan untuk diri sendiri

Tinggal bersama pasangan bipolar akan membuat Anda terus menerus fokus pada kondisinya. Namun, jangan sampai Anda melupakan kondisi kesehatan diri sendiri. Anda bisa bergabung dengan kelompok pendukung anggota keluarga pasien bipolar yang mana dapat membantu dan menguatkan Anda menghadapi pasangan. Dukungan dan pengertian dari keluarga atau teman lainnya juga bisa membantu Anda tegar menghadapi dan melewati ini semua bersama pasangan.

5. Jaga diri Anda untuk tetap sehat

Bila Anda mempunyai pasangan bipolar, tanpa disadari akan membuat kesehatan Anda bisa terabaikan. Periset di Yale University School of Medicine juga menemukan bahwa hampir sepertiga orang yang hidup dengan orang bipolar amat rentan menderita depresi dan gangguan kecemasan.

Oleh karena itu waspadai juga gejala-gejala depresi pada diri sendiri, terutama kelelahan, sakit kepala, dan rasa mual yang terus berkelanjutan. Segera konsultasikan dengan dokter untuk menemukan perawatan dan obat yang tepat untuk diri Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How to cope and live with bipolar spouse http://www.health.com/health/condition-article/0,,20274387,00.html Diakses pada 6 November 2017.

Live with bipolar wife https://www.livestrong.com/article/59823-live-bipolar-wife/ Diakses pada 6 November 2017.

Ten tips for coping with bipolar spouse https://www.everydayhealth.com/bipolar-disorder/ten-tips-for-coping-with-a-bipolar-spouse.aspx Diakses pada 6 November 2017.

https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder/index.shtml

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 09/11/2017
x