home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mendeteksi Gejala Orthorexia, Obsesi Terhadap Makanan Sehat

Mendeteksi Gejala Orthorexia, Obsesi Terhadap Makanan Sehat

Mengonsumi makanan sehat adalah salah satu cara menerapkan pola hidup sehat. Tetapi tahukah Anda, jika Anda hanya mau makan makanan tertentu yang dianggap sehat, ini biasa dianggap sebagai suatu kelainan pola makan? Kelainan ini disebut orthorexia.

Berbeda dengan gangguan pola makan lainnya yang membatasi makanan dari segi kuantitas (misalnya mengurangi porsi, atau tidak makan sama sekali), pengidap orthorexia membatasi makanan dari segi kualitas atau jenis makanannya. Meski kedengarannya sehat, hal ini dapat mengurangi kualitas kecukupan nutrisi harian dan berdampak buruk bagi kesehatan.

Apa itu orthorexia?

Orthorexia adalah gangguan pola makan yang relatif baru dikenal dalam beberapa tahun terakhir, namun istilah ini sudah diperkenalkan sejak tahun 90-an. Istilah ini berasal dari gabungan kata “anorexia” dan “ortho” yang berarti benar. Pengidap orthorexia memiliki pemikiran sendiri untuk menciptakan pola makan yang sempurna dengan hanya mengkonsumsi makanan dianggap sehat, khususnya sayur dan buah, serta cenderung menghindari jenis makanan berikut ini:

  • Pewarna atau penambah rasa buatan
  • Pestisida dan rekayasa genetika
  • Mengandung lemak, gula, dan garam
  • Berbagai bahan makanan hewani
  • Berbagai jenis makanan yang dianggap tidak sehat

Meski secara teori kelihatannya sehat, pengidap orthorexia biasanya jadi terlalu membatasi diri dan hanya memakan variasi makanan yang amat terbatas dan sangat rendah kalori, sehingga ujung-ujungnya malah tidak sehat dan tidak dapat memenuhi kecukupan gizi seimbang.

Cara mengetahui jika seseorang mengalami orthorexia

Orthorexia tidak memiliki definisi diagnosis klinis seperti gangguan pola makan lainnya, namun istilah ini lebih mengacu pada kondisi psikologis seseorang. Beberapa gejala yang bisa menjadi tanda seseorang mengidap orthorexia adalah:

  • Obsesi berlebihan untuk menghindari jenis makanan tertentu dengan berbagai alasan kondisi kesehatan seperti alergi, masalah pencernaan, gangguan mood, dan sebagainya.
  • Menghindari jenis makanan tertentu tanpa ada saran medis yang jelas.
  • Lebih memilih konsumsi suplemen dan obat-obatan herbal dibandingkan makanan.
  • Memiliki daftar makanan yang menurut ia boleh dikonsumsi, biasanya variasinya sangat sedikit atau hanya sekitar 10 makanan saja.
  • Terlalu khawatir tanpa alasan yang jelas terhadap cara penyajian makanan, khususnya cara membersihkan makanan.

Sama seperti pengidap gangguan makan lainnya, pengidap orthorexia akan mengalami berbagai gejala yang menghambat aktivitas harian mereka akibat gangguan emosi dan kepanikan. Dalam waktu yang lama, ini dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan makanan yang lebih serius seperti bulimia dan anoreksia. Orthorexia yang sudah parah ditandai dengan beberapa hal berikut:

  • Merasa bersalah jika memakan makanan yang ia anggap tidak sehat.
  • Menghabiskan waktu yang lama untuk memikirkan makanan yang harus dimakan.
  • Terlalu khawatir akan apa yang akan ia makan nantinya.
  • Membuat perencanaan makanan apa yang ia harus makan dalam beberapa hari ke depan.
  • Merasakan kepuasan tersendiri karena memakan makanan yang ia anggap sehat.
  • Menjaga jarak pada teman dan keluarga yang tidak memiliki pemahaman yang sama tentang makanan sehat.
  • Tidak mau mengonsumsi makanan yang disajikan oleh orang lain.
  • Mengalami depresi dan mood swing akibat memikirkan makanan.

Apa dampak orthorexia jika dibiarkan?

Akibat jenis makanan yang sangat terbatas, penderita orthorexia dapat mengalami berbagai kondisi malnutrisi, sama seperti yang dialami penderita bulimia dan anoreksia. Kekurangan zat besi, kalsium, dan kekurangan energi kronik merupakan jenis malnutrisi yang sering dialami seseorang dengan gangguan pola makan seperti orthorexia. Dampak kesehatan yang lebih serius adalah masalah bagi kesehatan jantung dan osteoporosis.

Bagaimana cara memulihkan kelainan orthorexia?

Upaya pemulihan dapat menjadi lebih sulit apabila pengidap orthorexia masih memiliki keyakinan bahwa pola makan yang ia konsumsi merupakan pola makan yang paling baik untuk kesehatan. Untuk mengatasi permasalahan psikologis ini, kenalilah faktor apa yang menyebabkan seseorang tersebut memiliki pemikiran untuk membatasi jenis makanan. Memberikan pemahaman pola hidup sehat dan kecukupan nutrisi untuk hidup sehat adalah yang paling penting demi mendorong pengidap orthorexia untuk sembuh.

Dari segi status gizi, mencapai dan menjaga berat tubuh ideal adalah langkah utama yang dapat dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan nutrisi, kemudian dilanjutkan dengan rencana diet bertahap. Pemulihan perlu dilakukan secara bertahap agar menjadi lebih efektif dan meminimalisir penolakan oleh pengidap orthorexia.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Barclay, R.S., 2015. Orthorexia: The New Eating Disorder You’ve Never Heard Of. [Online] Available at: http://www.healthline.com/health-news/orthorexia-the-new-eating-disorder-youve-never-heard-of-022415#9 [Accessed June 2016].

Ekern, J., 2014. Orthorexia, Excessive Exercise & Nutrition. [Online] Available at: http://www.eatingdisorderhope.com/information/orthorexia-excessive-exercise [Accessed June 2016].

GoodTherapy.org, 2015. Orthorexia: an Obsessive Relationship with Healthy Eating. [Online] Available at: http://www.goodtherapy.org/blog/orthorexia-an-obsessive-relationship-with-healthy-eating-1223157 [Accessed June 2016].

Kratina, K., n.d. Orthorexia Nervosa. [Online] Available at: https://www.nationaleatingdisorders.org/orthorexia-nervosa [Accessed June 2016].

Timberline Knolls, 2016. Orthorexia Symptoms and Effects. [Online] Available at: http://www.timberlineknolls.com/eating-disorder/orthorexia/signs-effects/ [Accessed June 2016].

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Kemal Al Fajar Diperbarui 11/08/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x