Beberapa orang dapat mengalami ketakutan berlebihan saat melihat atau memikirkan tentang cacing. Kondisi ini umum dikenal sebagai fobia cacing atau scoleciphobia. Kenali lebih lanjut mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya berikut ini.
Beberapa orang dapat mengalami ketakutan berlebihan saat melihat atau memikirkan tentang cacing. Kondisi ini umum dikenal sebagai fobia cacing atau scoleciphobia. Kenali lebih lanjut mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya berikut ini.

Scoleciphobia atau fobia cacing adalah ketakutan berlebihan dan tidak masuk akal pada cacing.
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari “scoleci” yang berarti cacing dan “phobos” yang berarti ketakutan.
Ketika seseorang dengan fobia cacing melihat atau memikirkan mengenai cacing, mereka akan merasakan kecemasan hebat yang tidak terkendali.
Meski demikian, mereka menyadari bahwa ketakutan yang dialaminya tersebut tidak beralasan.
Jenis fobia ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama saat pengidapnya harus sering berada di lingkungan yang terdapat cacing, misalnya kebun atau sawah.
Di samping itu, kondisi yang juga disebut vermiphobia atau helminthophobia ini sering dikaitkan dengan rasa takut berlebihan terhadap kuman alias mysophobia.
Scoleciphobia termasuk fobia spesifik. Menurut National Institute of Mental Health, kondisi ini merujuk pada rasa takut berlebih pada sesuatu yang tidak atau hanya menimbulkan sedikit bahaya.
Orang yang mengalami fobia cacing akan menunjukkan perilaku menghindar, seperti menolak berjalan di area berumput atau enggan keluar saat hujan karena takut melihat cacing.
Bahkan, pengidap scoleciphobia mungkin tidak dapat mengendalikan pikiran dan perilakunya ketika membayangkan cacing atau hal-hal yang berhubungan dengannya.
Terdapat pula beberapa tanda dan gejala fobia cacing secara fisik, antara lain:

Penyebab fobia cacing belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa kondisi berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk memiliki scoleciphobia.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, seperti pernah terkena cacingan atau melihat cacing dalam jumlah banyak, bisa menjadi penyebab scoleciphobia.
Pengaruh masyarakat di lingkungan sekitar yang menganggap bahwa cacing adalah binatang yang berbahaya dan menjijikan bisa memperkuat ketakutan seseorang terhadap cacing.
Seseorang dengan riwayat keluarga yang memiliki gangguan kecemasan atau fobia, termasuk fobia cacing, lebih berisiko untuk mengalami kondisi serupa.
Seseorang dengan sensitivitas sensorik atau kepekaan indera yang tinggi dapat merasa tidak nyaman dengan tekstur dan bentuk cacing sehingga lebih rentan memiliki scoleciphobia.
Jika Anda mengalami ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal terhadap cacing, dokter akan merujuk Anda untuk bertemu dengan psikolog atau psikiater.
Diagnosis fobia spesifik mencakup wawancara serta evaluasi gejala, salah satunya didasarkan pada kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Anda kemungkinan memiliki scoleciphobia bila memiliki beberapa kriteria seperti berikut ini.

Orang yang memiliki ketakutan berlebihan pada cacing tidak selalu memerlukan bantuan medis.
Umumnya, penanganan fobia secara medis baru disarankan bila Anda mengalami kondisi yang parah sehingga bisa mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari lainnya.
Apabila Anda atau orang terdekat Anda mengalami scoleciphobia, berikut ini adalah sejumlah metode pengobatan yang dapat dilakukan.
Terapi paparan atau exposure therapy berfokus untuk mengurangi ketakutan dengan menghadapkan pasien secara bertahap kepada cacing.
Terapis pada mulanya akan menunjukkan gambar atau video cacing. Jika pasien telah mampu menghadapi ketakutannya, ia mungkin akan dipertemukan langsung dengan cacing.
Dengan dukungan terapis dan paparan terhadap pemicu rasa takut secara bertahap ini, pasien diharapkan lebih mampu mengendalikan ketakutannya.
Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) adalah pendekatan terapi yang melibatkan identifikasi dan perubahan pola pikir negatif terhadap cacing.
Dengan CBT, pasien akan diajarkan cara mengenali dan mengubah pikiran atau perasaan tidak rasional yang memicu ketakutan mereka.
Terapis juga akan mengajarkan teknik untuk mengelola kecemasan sehingga pasien bisa memberikan respons yang lebih positif saat harus menghadapi cacing.
Apabila ketakutan yang dirasakan sangat ekstrem sampai mengganggu aktivitas harian, dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater mungkin akan meresepkan obat-obatan.
Obat antikecemasan dan antidepresan bisa membantu mengurangi gejala terkait fobia. Namun, umumnya penggunaan obat-obatan hanya bersifat sementara.
Terapi psikologi atau psikoterapi tetap diperlukan untuk mengatasi akar masalah dan membangun kemampuan untuk mengendalikan rasa takut.
Scoleciphobia bisa mengganggu berbagai aspek kehidupan. Namun, dengan penanganan yang tepat, ketakutan berlebihan terhadap cacing ini dapat dikelola dengan baik.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Wall, D. (2021). Scoleciphobia. Association for Behavioral and Cognitive Therapies. Retrieved November 7, 2024, from https://www.abct.org/featured-articles/scoleciphobia/
Specific phobias. (2023). Mayo Clinic. Retrieved November 7, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/specific-phobias/symptoms-causes/syc-20355156
Specific Phobias. (n.d.). Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania. Retrieved November 7, 2024, from https://www.med.upenn.edu/ctsa/phobias_symptoms.html
Specific Phobia. (n.d.). National Institute of Mental Health (NIMH). Retrieved November 7, 2024, from https://www.nimh.nih.gov/health/statistics/specific-phobia
Eaton, W. W., Bienvenu, O. J., & Miloyan, B. (2018). Specific phobias. The lancet. Psychiatry, 5(8), 678–686. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(18)30169-X
American Psychiatric Association. DSM-5 Task Force. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5.
Versi Terbaru
19/11/2024
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro