home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Altruisme, Sikap Mendahulukan Kepentingan Orang Lain dan Beragam Manfaatnya

Altruisme, Sikap Mendahulukan Kepentingan Orang Lain dan Beragam Manfaatnya

Altruisme adalah sikap yang mungkin sering Anda temui sehari-hari. Bahkan, Anda mungkin melakukan sikap altruistik tapi tidak menyadarinya. Ya, sikap ini adalah perilaku naluriah saat Anda ingin menolong orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri. Namun, apakah altruisme baik untuk diri sendiri? Simak penjelasan mengenai altruisme berikut ini, yuk!

Apa yang dimaksud dengan altruisme?

Altruisme adalah sikap ingin menolong orang lain, khususnya yang sedang dalam kesusahan, dengan mengorbankan diri sendiri. Sebagai contoh, memberikan bekal makan siang kepada orang lain yang sedang lapar, sementara Anda mengorbankan diri kelaparan. Ini adalah adalah sikap yang altruistik.

Sikap altruistik dipercaya sebagai kebaikan yang tulus dan tidak disertai motif tersembunyi dari orang yang melakukannya. Artinya, saat membantu orang lain, niat Anda murni untuk membantunya terlepas dari kesusahan, bukan karena mengharap imbalan, atau tujuan lain yang sebenarnya menguntungkan diri sendiri.

Bahkan, tidak sedikit yang justru mempersulit diri sendiri demi membantu orang lain. Hal ini tentu sangat berkebalikan dengan sikap egois yang mungkin ada di dalam diri sebagian orang. Jika memiliki sikap altruisme, Anda disebut sebagai seorang altruis.

Namun, pada dasarnya, setiap manusia dianggap mempunyai altruisme sebagai bagian yang sudah ada secara alami di dalam dirinya. Hanya saja, altruisme yang dimiliki oleh masing-masing individu tidak selalu sama.

Jenis-jenis altruisme

Meski begitu, altruisme terbagi ke dalam beberapa jenis, seperti berikut:

1. Genetic altruism

Sesuai dengan namanya, sikap altruistik ditunjukkan dengan kebaikan yang dilakukan kepada anggota keluarga. Artinya, Anda rela berkorban untuk membantu memenuhi kebutuhan anggota keluarga.

Oleh sebab itu, seorang kepala keluarga yang rela bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan orangtua, anak, dan pasangan bisa disebut sebagai seorang altruis. Begitu pula orangtua yang berusaha menyekolahkan anak, memberinya makan, dan memenuhi kebutuhan lainnya tanpa meminta imbalan.

2. Reciprocal altruism

Sementara itu, ada pula altruisme yang ditunjukkan dengan hubungan simbiosis mutualisme atau sama-sama saling membutuhkan. Itu tandanya, saat mengorbankan diri untuk orang lain, Anda tahu atau memiliki keyakinan bahwa orang tersebut akan balas memberikan bantuan di kesempatan lainnya.

3. Group-selected altruism

Pada jenis altruisme ini, Anda cenderung menolong orang atau menunjukkan sikap altruistik kepada orang tertentu saja. Sebagai contoh, Anda rela menolong teman depresi, stres, atau mengalami kesulitan hingga mengorbankan diri sendiri. Namun, belum tentu Anda rela melakukan hal yang sama kepada orang lain.

4. Pure altruism

Altruisme yang satu ini dianggap yang paling tulus, karena Anda rela menolong orang yang sedang dalam kesulitan tanpa meminta imbalan apapun. Bahkan, Anda mungkin rela mengorbankan atau membahayakan diri sendiri demi memberikan pertolongan. Biasanya, hal ini didukung oleh nilai moral dan prinsip yang Anda miliki.

    Apa manfaat dari memiliki sikap altruistik?

    Sebenarnya, altruisme dapat memberikan manfaat dari berbagai aspek untuk diri Anda sendiri. Artinya, kebaikan yang dilakukan kepada orang lain sebenarnya memberikan dampak positif tidak hanya kepada orang yang mendapatkan bantuan saja. Akan tetapi, Anda sebagai orang yang melakukan kebaikan juga akan merasakannya.

    Berikut adalah beberapa manfaat yang mungkin bisa Anda dapatkan jika memiliki sikap altruistik:

    1. Membuat Anda lebih bahagia

    Percaya atau tidak, kebaikan yang Anda lakukan kepada orang lain dapat memunculkan rasa bahagia. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Science menunjukkan bahwa memberi uang kepada orang lain membuat orang lebih merasa bahagia daripada membelanjakan uang tersebut untuk diri sendiri.

    Sementara itu, penelitian lain yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America membuktikan, rasa senang karena berbuat baik untuk orang lain juga tercermin dari faktor biologis yang ada di dalam tubuh.

    Mengikuti kegiatan amal dan memberikan donasi kepada orang yang membutuhkan ternyata dapat mengaktivasi bagian otak yang berkaitan dengan perasaan senang dan puas. Tak hanya itu, altruisme dipercaya dapat meningkatkan pelepasan hormon endorfin pada otak.

    2. Meningkatkan kesehatan fisik

    Memberikan bantuan kepada orang lain ternyata tidak hanya baik untuk mencegah gangguan mental dan menjaga mental Anda tetap sehat saja, tapi juga baik untuk kesehatan fisik. Sebagai contoh, orang yang suka menjadi sukarelawan dan aktif membantu orang lain yang membutuhkan cenderung memiliki kesehatan fisik yang baik.

    Tak hanya itu, menurut sebuah penelitian yang dimuat pada American Journal of Public Health, efek rasa senang karena membantu orang lain yang membutuhkan dapat mengurangi risiko kematian, khususnya pada orang lanjut usia. Bahkan, aktif melakukan kebaikan juga dapat membantu mengatasi penyakit kronis seperti HIV dan multiple sclerosis.

    3. Meningkatkan kesehatan mental

    Melakukan kebaikan seperti memberikan pertolongan kepada orang yang sedang membutuhkannya mampu meningkatkan kesehatan mental Anda. Pasalnya, berbuat baik mampu mengubah pola pikir terhadap diri sendiri dan kepada dunia di sekitar Anda.

    Saat itu, Anda merasa menjadi sosok yang lebih baik, sehingga ada rasa bahagia dan puas yang Anda rasakan dari perbuatan baik tersebut.

    4. Meningkatkan kualitas hubungan

    Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain ternyata dapat meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan pasangan. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Personality menyatakan bahwa kebaikan adalah salah satu kualitas paling penting yang dicari-cari orang saat memilih pasangan.

    Oleh sebab itu, peduli dan berbuat baik kepada orang lain dapat meningkatkan ketertarikan lawan jenis kepada diri Anda. Namun, jangan sampai sengaja berbuat baik hanya untuk mencari pasangan, ya. Lakukan dengan tulus semata untuk memberikan bantuan kepada orang lain.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Altruism May Be Universally and Uniquely Human. Retrieved 4 February 2021, from https://www.apa.org/pubs/highlights/peeps/issue-48

    Altruism. Retrieved 4 February 2021, from https://www.philosophytalk.org/shows/altruism

    Altruism – Why Practice It? Retrieved 4 February 2021, from https://greatergood.berkeley.edu/topic/altruism/definition#why-practice-altruism

    Post, S.G. Altruism, happiness, and health: it’s good to be good. Int. J. Behav. Med. 12, 66–77 (2005). https://doi.org/10.1207/s15327558ijbm1202_4

    Poulin, M. J., Brown, S. L., Dillard, A. J., & Smith, D. M. (2013). Giving to others and the association between stress and mortality. American journal of public health103(9), 1649–1655. https://doi.org/10.2105/AJPH.2012.300876

    Altruism. Retrieved 4 February 2021, from https://ethicsunwrapped.utexas.edu/glossary/altruism

    Moll, J., Krueger, F., Zahn, R., Pardini, M., de Oliveira-Souza, R., & Grafman, J. (2006). Human fronto-mesolimbic networks guide decisions about charitable donation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America103(42), 15623–15628. https://doi.org/10.1073/pnas.0604475103
    Cortes Barragan, R., & Dweck, C. S. (2014). Rethinking natural altruism: simple reciprocal interactions trigger children’s benevolence. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America111(48), 17071–17074. https://doi.org/10.1073/pnas.1419408111
    Thomas, A. G., Jonason, P. K., Blackburn, J. D., Kennair, L., Lowe, R., Malouff, J., Stewart-Williams, S., Sulikowski, D., & Li, N. P. (2020). Mate preference priorities in the East and West: A cross-cultural test of the mate preference priority model. Journal of personality88(3), 606–620. https://doi.org/10.1111/jopy.12514
    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 11/02/2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri