home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspada Papilledema, Pembengkakan Saraf Mata yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Waspada Papilledema, Pembengkakan Saraf Mata yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Bukan hanya tangan atau kaki yang bisa mengalami pembengkakan, saraf di sekitar bola mata Anda pun bisa bengkak. Kondisi ini disebut dengan papilledema. Namun, kenapa bisa orang mengalami pembengkakan di saraf mata? Apa ada gejala yang menandakannya? Apakah saraf mata yang bengkak akan menimbulkan kebutaan? Nah, simak ulasan di bawah ini seputar papilledema.

Apa itu papilledema?

sakit kelenjar air mata

Papilledema adalah kondisi medis ketika terjadi pembengkakan saraf optik di area optic disc. Optic disc adalah area di mana saraf optik masuk ke dalam bagian belakang bola mata.

Saraf optik yang melalui area optic disc ini terdiri atas kumpulan serat-serat saraf yang membawa informasi visual, yang menghubungkan antara otak dengan retina mata.

Ketika penyakit mata ini terjadi, area optic disc yang berisi saraf-saraf optik ini mengalami pembengkakan. Itu sebabnya, papilledema tergolong kondisi medis yang serius dan membutuhkan penanganan dokter.

Apa penyebab papilledema?

penyebab sakit kepala sebelah

Pembengkakan ini muncul karena terjadi peningkatan tekanan di sekitar otak. Ketika tekanan di sekitar otak meningkat, area optic disc akan tertekan sehingga bagian ini membengkak. Tekanan ini bisa terjadi karena peningkatan cairan serebrospinal atau disingkat CSF.

Cairan serebrospinal ini pada dasarnya mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Fungsinya adalah melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari kerusakan.

Namun, peningkatan CSF dapat memenuhi bagian sekitar optic disc, sehingga saraf-saraf optik di bagian ini semakin tertekan dan membengkak.

Tekanan juga bisa timbul karena terjadi pembengkakan otak yang disebabkan oleh:

  • Cedera di kepala
  • Tidak memiliki cukup sel darah merah atau hemoglobin
  • Hidrosefalus
  • Perdarahan di dalam otak
  • Peradangan di dalam otak (ensefalitis)
  • Meningitis
  • Tekanan darah tinggi
  • Adanya nanah akibat infeksi di dalam otak (abses)
  • Tumor otak
  • Kadang, tekanan otak yang tinggi bisa terjadi tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini dikenal dengan sebutan hipertensi intrakranial idiopatik. Umumnya, ini lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas.

Apa gejala dari papilledema?

penyebab sakit kepala sampai ke mata

Gejala awal papilledema meliputi:

  • Pandangan mulai kabur
  • Penglihatan ganda
  • Mata seperti melihat kilatan cahaya
  • Penglihatan tiba-tiba hilang dalam beberapa detik

Jika tekanan otak terus berlanjut, gejala-gejala di atas bisa semakin terasa dan terjadi lebih lama. Dalam beberapa kasus, tanda-tanda yang muncul bahkan jadi semakin parah dan tidak hilang-hilang.

Gejala lainnya yang juga bisa terjadi adalah:

  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Seolah mendengar suara lain di telinga

Bagaimana kondisi ini didiagnosis?

yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan <a data-event-category=MRI” width=”640″ height=”427″ srcset=”https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/07/shutterstock_167379950.jpg 1000w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/07/shutterstock_167379950-300×200.jpg 300w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/07/shutterstock_167379950-90×60.jpg 90w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/07/shutterstock_167379950-45×30.jpg 45w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/07/shutterstock_167379950-700×467.jpg 700w” sizes=”(max-width: 640px) 100vw, 640px” />

Dokter mungkin akan memeriksa riwayat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter mungkin meminta Anda melakukan tes-tes tambahan, seperti:

  • Oftalmoskopi (funduskopi), yaitu pemeriksaan untuk melihat kondisi di balik bola mata dengan menggunakan sebuah alat bernama oftalmoskop.
  • MRI, yaitu pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran lebih detail, dan lebih mungkin menunjukan apa penyebab tekanan yang tinggi terjadi di sekitar otak. MRI juga yang selanjutnya digunakan untuk melihat perkembangan pengobatan papilledema dari waktu ke waktu.
  • Pungsi lumbar, yaitu prosedur penarikan cairan CSF untuk mengukur banyaknya CSF di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

Bagaimana cara mengobati papilledema?

penyebab mata kering

Penanganan yang dilakukan akan berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengatasi papilledema.

1. Pungsi lumbar

Pada dasarnya, untuk mengurangi tekanan akibat penumpukan cairan, dokter biasanya melakukan pungsi lumbar. Pungsi lumbar adalah prosedur medis dengan memasukkan jarum ke daerah tulang belakang untuk menarik atau menyedot cairan serebrospinal yang menumpuk. Dengan begitu, tekanan berkurang, pembengkakan juga berkurang.

Dokter juga biasanya memberikan resep berisi acetazolamide (Diamox) untuk menjaga tekanan sistem saraf Anda pada tingkat normal.

2. Obat-obatan

Obat lainnya yang akan diresepkan dalam kasus ini untuk meredakan pembengkakannya adalah pemberian kortikosteroid, seperti prednison (Deltasone), deksametason (Ozurdex), dan hidrokortison (Cortef). Obat-obatan ini bisa didapatkan dalam bentuk suntikan atau diminum.

Jika tekanan darah tinggi yang menjadi penyebab papilledema, dokter akan memberikan pengobatan untuk menjaga tekanan darah Anda. Pengobatan yang biasanya diberikan seperti:

  • Diuretik: bumetanide (Bumex) dan chlorothiazide (Diuril)
  • Beta blockers: atenolol (Tenormin dan esmilol (Brevibloc)
  • Penghambat ACE: captropil dan moexipril

Apa, Sih, Obat Diuretik Itu? Apa Saja Gunanya?

3. Antibiotik

Jika papiledema terjadi karena infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik. Pengobatan infeksi berbeda-beda tergantung apa jenis bakteri yang menimbulkan infeksi tersebut. Jika terdapat abses, dokter akan melakukan kombinasi penanganan, yakni dengan antibiotik dan pembuatan drainase untuk mengalirkan cairan dari otak.

4. Operasi

Jika tumor otak yang menyebabkan papilledema, dokter akan menganjurkan operasi pengambilan bagian tumor yang berbahaya. Operasi umumnya direkomendasikan untuk pasien yang tidak dapat menerima obat-obatan dengan baik.

Tindakan pembedahan juga direkomendasikan jika Anda mengalami papilledema akut dan telah mengalami kehilangan penglihatan. Dikutip dari artikel yang dipublikasikan US National Library of Medicine, ini dilakukan untuk mencegah kehilangan penglihatan yang tidak dapat disembuhkan.

5. Kemoterapi atau terapi radiasi

Kemoterapi atau terapi radiasi juga diberikan untuk membuat ukuran tumor bisa lebih mengecil dan mengurangi pembengkakan yang terjadi.

Jika papilledema terjadi akibat cedera kepala parah, dokter akan mencoba mengurangi tekanan dan pembengkakan dengan melakukan pengeringan CSF dari kepala dan melepaskan sepotong kecil bagian tengkorak untuk menghilangkan tekanan.

Apa komplikasi yang dapat terjadi akibat kondisi ini?

Laki-laki mengalami serangan stroke ringan

Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada papilledema, di antaranya adalah:

  • Menyebabkan kebutaan, jika peningkatan tekanan terjadi dalam waktu yang lama tanpa pengobatan
  • Kerusakan otak
  • Stroke
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Kematian

Bila Anda merasakan gejala-gejala seperti yang telah dipaparkan di atas, segera periksa ke dokter. Jangan anggap sepele kondisi ini karena komplikasinya bersifat serius.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Schirmer, C., & Hedges, T. (2007). Mechanisms of visual loss in papilledema. Neurosurgical Focus, 23(5), E5. doi: 10.3171/foc-07/11/e5

Papilledema | Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program . (2020). Retrieved 28 September 2020, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/7318/papilledema

Publishing, H. (2020). Optic Nerve Swelling (Papilledema) – Harvard Health. Retrieved 28 September 2020, from https://www.health.harvard.edu/a-to-z/optic-nerve-swelling-papilledema-a-to-z

Lee, M., McCafferty, B., & McClelland, C. (2017). The diagnostic challenge of evaluating papilledema in the pediatric patient. Taiwan Journal Of Ophthalmology, 7(1), 15. doi: 10.4103/tjo.tjo_17_17

Biousse, V., Rucker, J., Vignal, C., Crassard, I., Katz, B., & Newman, N. (2003). Anemia and papilledema. American Journal Of Ophthalmology, 135(4), 437-446. doi: 10.1016/s0002-9394(02)02062-7

Lee, A., Rigi, M., Almarzouqi, S., & Morgan, M. (2015). Papilledema: epidemiology, etiology, and clinical management. Eye And Brain, 47. doi: 10.2147/eb.s69174

Foto Penulis
Ditulis oleh Fajarina Nurin pada 21/12/2020
x