Penyakit Degeneratif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Definisi penyakit degeneratif

Apa itu penyakit degeneratif?

Penyakit degeneratif adalah kondisi kesehatan di mana organ atau jaringan terkait keadaannya yang terus menurun seiring waktu. Penyakit ini terjadi karena adanya perubahan pada sel-sel tubuh yang akhirnya memengaruhi fungsi organ secara menyeluruh.

Proses penuaan adalah penyebab penyakit degeneratif yang paling umum. Ya, semakin bertambah usia, maka fungsi jaringan dan organ tubuh pun akan semakin mengalami penurunan.

Itu sebabnya, orang lanjut usia (lansia) lebih mungkin dan lebih umum mengalami berbagai jenis penyakit degeneratif ketimbang dengan orang yang lebih muda.

Meski begitu, penyakit ini juga bisa menyerang semua kalangan tanpa memandang usia. Beberapa faktor seperti gaya hidup, riwayat penyakit, dan genetik dapat memengaruhi seseorang untuk terkena penyakit ini.  

Seberapa umumkah kondisi ini?

Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang umum menyerang lansia. Akan tetapi, ada banyak jenis dari penyakit ini. Jadi, sangat mungkin jika lansia memiliki penyakit yang berbeda dengan lansia lainnya.

Lansia bisa saja memiliki satu, dua, atau lebih penyakit degeneratif karena beberapa jenis penyakit berkaitan satu sama lain.

Jenis-jenis penyakit degeneratif

Menurut Jurnal Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, ada sekitar 50 jenis penyakit degeneratif yang menyerang lansia, namun yang paling umum adalah:

Penyakit kardiovakuler

Penyakit kardiovakuler adalah penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah di sekitarnya. Bertambahnya usia dapat menempatkan seseorang pada risiko penyempitan pembuluh darah dan otot jantung yang melemah atau menebal.

Selain penyakit jantung itu sendiri, kondisi lain yang menjadi faktor juga ikut meningkat seiring menuanya seseorang, yakni hipertensi (tekanan darah tinggi) dan stroke.

Masalah pada endokrin

Sistem endokrin Anda mencakup delapan kelenjar utama di seluruh tubuh Anda, seperti kelenjar tiroid, kelenjar pituitari, kelenjar adrenal, dan pankreas. Sistem ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, fungsi seksual, dan suasana hati.

Jika kadar hormon Anda terlalu tinggi atau terlalu rendah, Anda mungkin menderita penyakit atau kelainan endokrin. Penyakit dan kelainan endokrin juga terjadi jika tubuh Anda tidak merespons hormon sebagaimana mestinya.

Beberapa contoh penyakit yang menyerang endokrin dan terkait dengan degenerasi adalah diabetes melitus dan kekurangan nutrisi.

Neoplasma

Neoplasma adalah sebutan lain untuk tumor, yakni massa atau benjolan yang tumbuh akibat sel-sel membelah dan tumbuh secara berlebihan di dalam tubuh.

Neoplasma (tumor) bisa bersifat jinak atau ganas. Tumpor jinak berarti bukan kanker, sedangkan kanker ganas dapat menjadi kanker karena perkembangan sel tidak bisa dikendalikan, menyebar, dan merusak jaringan sehat di sekitarnya.

Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit degeneratif yang menandakan pengeroposan tulang karena tulang semakin lemah dan rapuh. Kondisi ini umumnya membuat lansia bertubuh bungkuk atau rentan mengalami patah tulang pada tulang pinggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang.

Obesitas

Obesitas adalah kondisi yang menandakan berat badan berlebihan. Meski dapat menyerang segala usia, lansia yang paling rentan mengalaminya.

Seiring bertambahnya usia, perubahan hormonal dan gaya hidup yang kurang aktif meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, jumlah otot di tubuh Anda cenderung menurun seiring bertambahnya usia karena penurunan metabolisme. Kondisi ini membuat lansia kesulitan menjaga berat badan ideal.

Tanda & gejala penyakit degeneratif

Lansia yang memiliki penyakit degeneratif menunjukkan gejala yang berbeda-beda, tergantung jenis penyakit yang menyerang, seperti:

Gejala penyakit kardiovakuler pada lansia

  • Lansia dengan penyakit jantung sangat umum mengalami gejala nyeri dada, sesak napas, pusing, denyut jantung tidak beraturan, pembengkakan pada bagian tubuh, dan pingsan.
  • Lansi yang mengidap hipertensi biasanya tidak menunjukkan gejala. Kemungkinan sakit kepala, sesak napas, dan mimisan bisa saja terjadi jika hipertensi sudah bertambah parah.
  • Stroke yang menyerang lansia menimbulkan gejala sakit kepala dan kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, dan tungkai sehingga membuat mereka kesulitan berbicara dan berjalan.

Gejala masalah endokrin pada lansia

  • Diabetes melitus yang menyerang lansia menyebabkan gejala terus-menerus haus, sering buang air kecil, kelelahan, pandangan kabur, dan mudah infeksi tapi sulit untuk sembuh dari luka.
  • Malnutrisi pada lansia menimbulkan gejala badan kurus atau kegemukan, nafsu makan buruk, sering mengalami sembelit, dan tubuh kelelahan sepanjang hari.

Gejala neoplasma (tumor) pada lansia

Gejala tumor jinak pada lansia sama dengan usia lain, seperti menimbulkan benjolan padat yang bisa terlihat oleh mata atau tidak jika terjadi di dalam tubuh.

Pada kasus tumor ganas, ukurannya akan semakin membesar, bahkan bisa mengubah bentuk atau ukuran jaringan/organ di dekatnya. Selain itu, akan ada gejala lain yang menyertai seperti kelelahan, pembengkakan, perdarahan, perubahan kulit, dan gejala lainnya.

Gejala osteoporosis pada lansia

Gejala osteoporosis yang menyerang lansia umumnya berupa nyeri punggung, postur tubuh membungkuk, tinggi badan berkurang, dan rentan mengalami patah tulang.

Gejala obesitas pada lansia

Gejala khas dari obesitas adalah berat badan yang berlebihan. Cara mengetahui indeks massa tubuh adalah menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter (kg/m2).

Jika hasilnya 30 – 39,9 maka Anda mengalami obesitas, sedangkan > 40 menandakan obesitas sudah ekstrem. Untuk menghitung berapa indeks massa tubuh Anda, hitung dengan Kalkulator BMI ini atau melalui link berikut bit.ly/indeksmassatubuh

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala penyakit degeneratif, segera lakukan pemeriksaan dokter. Bila gejala-gejala tersebut Anda amati ada pada orangtua atau kerabat yang usianya sudah tua, bujuk mereka untuk memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab penyakit degeneratif

Penyebab penyakit degeneratif sangat bervariasi, bergantung dengan jenisnya. Bahkan, ada juga yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Akan tetapi, usia tetap menjadi faktor risiko yang turut menyumbang berkembangnya penyakit tersebut.

Umumnya, penyebab penyakit jantung pada lansia adalah penumpukan plak pada pembuluh darah, sedangkan obesitas dan hipertensi sangat berkaitan dengan pola hidup yang tidak sehat.

Penyebab diabetes adalah sel-sel di otot dan hati yang resisten terhadap insulin, yakni hormon yang mengatur kadar gula darah. Sementara penyebab osteoporosis adalah melambatnya proses pembuatan tulang baru oleh tubuh sehingga membuat tubuh kehilangan massa tulang sehingga jadi mudah rapuh.

Faktir-faktor risiko penyakit degeneratif

Penyakit degeneratif pada lansia semakin besar risikonya karena adanya beberapa faktor, di antaranya adalah:

Perubahan metabolisme tubuh

Perubahan metabolisme tubuh menyebabkan penurunan produksi hormon testosteron pada laki-laki dan estrogen untuk wanita biasanya mulai tampak di usia 65 tahun ke atas.

Kedua hormon ini tidak hanya berperan dalam pengaturan seks, tapi juga proses metabolisme tubuh, seperti mendistribusikan lemak ke seluruh tubuh.

Menurunkan kemampuan metabolisme tubuh pada lansia bisa menyebabkan penumpukan lemak di perut, pertanda obesitas. Selain obesitas, gumpalan lemak dapat mempersempit pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Pola makan dan pola hidup yang buruk

Kurangnya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran membuat tubuh kekurangan serat dan dapat berisiko meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Di samping itu, kebiasaan malas bergerak, jarang olahraga, dan merokok juga semakin memperburuk kesehatan tubuh.

Jika gaya hidup tidak berubah, risiko penyakit degeneratuf seperti jantung, diabetes, kanker, dan osteoporosis akan semakin meningkat.

Diagnosis & pengobatan penyakit degeneratif

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Selain mengamati gejala, dokter mungkin akan merujuk lansia untuk melakukan serangkaian tes kesehatan. Jenis tes kesehatan yang akan dokter rekomendasikan, meliputi:

  • Tes diagnosis untuk penyakit kardiovaskuler pada lansia umumnya berupa tes pencitraan pada jantung dan pembuluh darah di otak, ekokardiografi, elektrokardiografi, dan cek tekanan darah.
  • Tes diagnosis untuk osteoporosis pada lansia adalah dengan mengukur kepadatan tulang menggunakan sinar X tingkat rendah. Dokter biasanya akan memeriksa area tulang pinggul dan tulang belakang.
  • Tes diagnosis untuk diabetes adalah tes gula darah yang biasanya meliputi tes gula darah puasa, tes toleransi gula darah, dan tes gula darah sewaktu.
  • Tumor jinak atau tumor ganas, tes diagnosis yang lansia harus jalani adalah tes pencitraan, tes darah, dan tes biopsi.
  • Pada lansia yang obesitas atau kekurangan nutrisi, dokter akan melakukan diagnosis lewat pengukuran berat badan dan tes darah.

Apa saja cara mengobati penyakit degeneratif?

Penyakit degeneratif yang menyerang orang lanjut usia, ada yang bisa sembuh dan ada juga yang tidak. Meski begitu, pengobatan tetap harus lansia jalani untuk menekan gejala sekaligus mencegah komplikasi lebih lanjut.

Berikut ini berbagai pengobatan penyakit degeneratif, meliputi:

Pengobatan untuk penyakit kardiovaskuler

Minum obat merupakan pengobatan untuk menekan gejala penyakit sekaligus mengurangi keparahan gejala. Jenis obat antara penderita penyakit jantung, hipertensi, atau stroke mungkin saja sama karena ketiganya merupakan penyakit yang saling berkaitan satu sama lain.

Jenis obat penyakit jantung yang biasanya dokter resepkan adalah obat antikoagulan, obat diuretik, obat vasodilator, obat penurun tekanan darah, dan obat penurun kadar kolesterol.

Pada beberapa kasus, pasien penyakit jantung atau stroke perlu menjalani prosedur bedah, seperti pemasangan ring jantung, operasi bypass arteri koroner, atau operasi pengurangan darah yang memberi tekanan berlebihan di otak.

Pengobatan osteoporosis

Dokter akan meresepkan obat pembangun tulang dan pencegah patah tulang akibat sel-sel tulang yang mati untuk lansia dengan osteoporosis.

Obat osteoporosis yang paling sering diresepkan adalah biophosphonate. Terapi hormon esterogen juga mungkin lansia jalani dengan minum obat Raloxifene.

Pengobatan tumor

Tumor jinak bisa sembuh sepenuhnya dengan operasi pengangkatan jaringan. Begitu juga dengan tumor ganas. Akan tetapi, pengobatan untuk tumor ganas biasanya mencakup kemoterapi atau radioterapi untuk membunuh sel kanker agar tidak lagi berkembang.

Pengobatan obesitas dan malnutrisi

Tidak pengobatan khusus untuk obesitas. Dokter akan mengarahkan lansia untuk mengubah gaya hidup jadi lebih sehat untuk membantu menurunkan berat badan.

Sementara pada lansia dengan malnutrisi, dokter akan meresepkan suplemen mineral atau vitamin dan meminta lansia untuk menjalani perubahan gaya hidup yang mendukung lansia untuk mendapatkan berat badan ideal dan asupan gizi yang tercukupi.

Pengobatan penyakit degeneratif di rumah

Selain pengobatan dari dokter, perawatan di rumah juga perlu lansia jalani untuk mendukung efektivitas pengobatan. Berikut ini berbagai perubahan gaya hidup yang umumnya dokter rekomendasikan, meliputi:

  • Mengurangi asupan kalori pada makanan

Kebutuhan kalori pada lansia umumnya akan berkurang karena aktivitas mulai berkurang dan tubuh jadi tidak seaktif dulu. Bagi lansia dengan obesitas, langkah ini sangat penting untuk membantu menurunkan atau mengendalikan berat badan.

  • Menerapkan pola makan sehat

Kebiasaan makan yang tidak sehat bisa meningkatkan risiko obesitas dan malnutrisi pada lansia. Oleh karena itu, lansia tidak boleh makan berlebihan atau melewatkan waktu makan.

Bagi pendamping atau pengasuh, Anda harus bisa membujuk lansia untuk makan, terutama mereka yang nafsu makannya buruk.

  • Membatasi makanan yang bisa memicu penyakit degeneratif

Makanan tinggi lemak, gula, atau tinggi garam bisa memicu penyakit jantung, diabetes, dan penyakit kronis lainnya.

Oleh karena itu, makanan ini perlu dihindari atau dibatasi. Lansia bisa mengganti deretan makanan tersebut dengan meningkatkan asupan buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Kesemua makanan ini kaya antioksidan sehingga ampuh melawan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel-sel tubuh.

  • Olahraga rutin

Tidak perlu olahraga berat, cukup berjalan kaki mengitari taman bisa membantu lansia jadi tetap aktif. Selain itu, olahraga untuk lansia bisa memberikan manfaat pada kesehatan tulang dan memungkinkan lansia untuk mendapatkan sinar matahari pagi yang menyehatkan tubuh.

Pencegahan penyakit degeneratif

Penyakit degeneratif sangat mungkin menyerang lansia karena usianya yang semakin tua dan fungsi tubuh yang semakin menurun. Seperti contohnya hipertensi, yang sangat umum menyerang lansia.

Meski begitu, beberapa penyakit ini bisa berkurang risikonya dengan langkah-langkah pencegahan berikut ini.

  • Lebih banyak mengonsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, daging tanpa lemak, dan biji-bijian dan lengkapi dengan produk susu. Kemudian, lansia juga harus mengurangi konsumsi daging olahan atau makanan tinggi garam, makanan tinggi gula, dan makanan tinggi lemak.
  • Mengubah kebiasaan malas bergerak dan menjadi lebih rajin untuk berolahraga. Pastikan untuk mendapatkan sinar matahari di pagi hari dengan berjemur untuk mencegah osteoporosis di usia lanjut.
  • Jaga berat badan lansia tetap ideal dengan memperhatikan porsi makan dan camilan yang Anda konsumsi.
  • Lansia perlu menjalani cek kesehatan rutin, meliputi cek gula darah, cek tensi darah, cek berat badan, dan mungkin juga menjalani skrining kanker untuk deteksi dini.
  • Berhenti merokok dan minum alkohol karena kebiasaan ini bisa memengaruhi kesehatan tubuh lansia.
  • Pastikan lansia beristirahat dengan cukup. Jika memiliki gangguan tidur, maka konsultasikan lebih lanjut pada dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Awas, Ini Akibatnya Jika Gula Darah Anda Terlalu Tinggi

Bukan hanya diabetes, orang sehat juga wajib menjaga gula darah. Jangan sampai Anda mengalami 8 komplikasi akibat gula darah tinggi ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 19 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Batasan Kadar Gula Darah yang Normal dalam Tubuh

Untuk mengetahui apakah Anda kena diabetes atau tidak, Anda harus tahu dulu berapa kadar gula darah normal dalam tubuh. Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 17 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

Meski Tampak Sama, Ini Beda Oral Trush, Lidah Peta, dan Oral Hairy Leukoplakia (OHL)

Sekilas ketiganya tampak sama dan sulit dibedakan. Agar tak keliru, berikut beda oral thrush, lidah peta, dan OHL yang penting diketahui. 

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Daftar Makanan untuk Atasi Kekurangan Sel Darah Putih

Leukosit yang rendah bisa membuat Anda rentan kena infeksi. Makanan penambah sel darah putih bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan leukosit Anda.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Sel Darah Putih 16 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bahaya mie instan

Bahaya Mie Instan Jika Terlalu Sering Dikonsumsi

Ditinjau oleh: Hello Sehat Medical Review Team
Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
apakah diabetesi boleh makan mi instan

Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
kanker penyebab BAB berdarah

BAB Sering Berdarah? Hati-hati, Bisa Jadi Tanda Kanker pada Saluran Cerna

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
kelainan jantung langka

Kelainan Jantung Ada di Sebelah Kanan (Dekstrokardia), Apa Bahayanya?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit