Tracheoesophageal Fistula

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu tracheoesophageal fistula?

Tracheoesophageal fistula atau fisula trakeoesofageal (TEF) adalah kondisi pertumbuhan jaringan abnormal yang menyambungkan esofagus (kerongkongan) dengan trakea (tenggorokan).

Dengan kata lain, tracheoesophageal fistula adalah cacat lahir pada bayi yang terjadi saat hubungan antara saluran kerongkongan dan tenggorokan tidak normal.

Kerongkongan atau esofagus adalah saluran atau tabung yang menghubungkan antara mulut dengan perut.

Sementara tenggorokan atau trakea adalah saluran atau tabung yang menghubungkan antara tenggorokan dengan paru-paru.

Pada kondisi normal, kedua saluran tersebut berada terpisah satu sama lain dan tidak saling terhubung.

Namun, adanya tracheoesophageal fistula membuat cairan yang ditelan oleh bayi yang baru lahir masuk ke jalur penghubung abnormal antara kerongkongan dan tenggorokan. 

Alhasil, cairan tersebut bukannya masuk ke dalam perut, malah berujung ada di paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan pneumonia dan masalah pernapasan lainnya. Tracheoesophageal fistula adalah kondisi yang biasanya muncul bersamaan dengan cacat lahir lainnya.

Terdapat beberapa tipe tracheoesophageal fistula (TEF). Tracheoesophageal fistula (TEF) tipe pertama adalah bagian atas dari kerongkongan berakhir buntu berbentuk kantung. Sementara bagian bawahnya tersambung masuk ke dalam tenggorokan.

TEF tipe kedua yang cukup sering berupa kerongkongan yang buntu tanpa sambungan ke tenggorokan.

Jenis tracheoesophageal fistula ketiga adalah tipe H. Pada TEF tipe H, kedua pipa trakea dan esofagus utuh, tetapi di antaranya terdapat “jembatan penyambung” persis seperti huruf H.

Tipe tracheoesophageal fistula ketiga adalah kondisi yang paling sulit untuk didiagnosis karena bayi tetap bisa makan, menyusu ASI eksklusif, dan bernapas seperti pada umumnya.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Tracheoesophageal fistula adalah kondisi yang terjadi pada 1 dari 3 ribu kelahiran hidup. Kondisi ini lebih umum pada anak laki-laki daripada wanita.

Beberapa kasus menemukan bahwa risiko TEF meningkat jika ibu hamil di usia tua. Silakan diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-Tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala tracheoesophageal fistula?

Menurut Boston Children’s Hospital, bayi yang mengalami kondisi ini kerap tidak menunjukkan gejala apa pun sat lahir. Berbagai gejala tracheoesophageal fistula adalah sebagai berikut:

Dalam beberapa kasus, bayi juga bisa mengalami tracheoesophageal fistula dan atresia esofagus secara bersamaan dengan gejala yang cukup jelas setelah kelahiran.

Atresia esofagus juga merupakan kondisi serupa saat ada bagian kerongkongan yang hilang.

Gejala umum dari gabungan kedua kondisi ini adalah adanya masalah pernapasan dan batuk atau tersedak saat bayi menelan cairan maupun makanan.

Bayi dengan gabungan kedua kondisi tersebut juga mungkin memiliki masalah kesehatan lainnya.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?

Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikan dengan dokter.

Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan si kecil.

Penyebab

Apa penyebab tracheoesophageal fistula?

Melansir dari University of Rochester Medical Center, selama bayi berada di dalam kandungan, organ tubuhnya sedang terbentuk.

Proses pembentukkan kerongkongan (esofagus) dan tenggorokan (trakea) dimulai dari satu tabung. Pada usia kehamilan minggu ke-4 sampai minggu ke-8, mulai terbentuk dinding pemisah antara kerongkongan dan trakea.

Dinding tersebut akan memisahkan kerongkongan dan tenggorokan menjadi dua bagian. Tracheoesophageal fistula dan atresia esofagus terjadi saat dinding pembatas tersebut tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Sama halnya seperti kondisi atresia esofagus, kondisi tracheoesophageal fistula pada bayi yang belum lahir jarang didiagnosis.

Tracheoesophageal fistula adalah kondisi yang lebih sering didagnosis setelah bayi lahir. Biasanya, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut ini untuk mendiagnosis tracheoesophageal fistula:

  • Foto rontgen atau x-ray, untuk mengetahui kondisi organ dalam tubuh bayi
  • Endoskopi atau bronkoskopi, untuk melihat kondisi bagian dalam saluran pernapasan bayi menggunakan tabung tipis yang dilengkapi dengan cahaya kecil dan kamera

Dokter dapat memasukkan sebuah selang khusus dari mulut hingga ke dalam perut bayi. Jenis dan lokasi fistula dapat dicari tahu lewat kateter radiopaque yang dapat mengambil gambar kerongkongan. Hasil rontgen akan menunjukkan penumpukan gas di usus.

Sementara endoskopi tidak dapat mendeteksi ukuran TEF  yang kecil. Gejala TEF kadang dapat muncul tetapi kadang juga bisa hilang. 

Inilah mengapa terkadang TEF cukup sulit untuk didiagnosis. Prosedur yang dijabarkan di atas biasanya akan menjadi langkah pertama dalam mendapatkan diagnosis TEF yang tepat untuk bayi.

Apa saja pilihan pengobatan untuk tracheoesophageal fistula?

Pengobatan untuk tracheoesophageal fistula pada bayi biasanya ditentukan dari gejala, usia, kesehatan umum tubuh si kecil, serta keparahan kondisinya.

Peluang bertahan hidup pada bayi yang terlahir dengan TEF tipe H termasuk kecil jika tidak segera dilakukan operasi untuk memisahkan trakea dan esofagusnya.

Ketika operasi sudah dilakukan, esofagus akan diperbaiki bentuknya agar tetap terpisah dari trakea.

Operasi atau pembedahan pada TEF akan membantu menutup atau memberi pembatas antara saluran kerongkongan dan tenggorokan bayi.

Namun kadang, operasi tidak dapat langsung dilakukan ketika bayi terlahir prematur, memiliki kondisi cacat lahir lainnya, atau mengalami komplikasi pneumonia aspirasi.

Operasi hanya bisa dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan gawat darurat neonatal. Untuk menghindari risiko pneumonia aspirasi dapat dilakukan tindak pencegahan sebagai berikut:

  • Menyangga bagian belakang kepala bayi untuk mencegah refluks asam lambung masuk ke paru-paru.
  • Menggunakan kateter pengisap untuk membuang cairan dan liur yang mungkin terhirup ke paru-paru.
  • Pemberian makanan lewat selang khusus jika dibutuhkan.

Jika bayi mengalami tracheoesophageal fistula  (TEF) tanpa dibarengi dengan atresia esofageal, operasi atau pembedahan bisa dilakukan sejak hari pertama atau kedua kelahiran bayi.

Prosedur ini disesuaikan dokter dan tim medis dengan kondisi si kecil untuk memastikan hasil yang lebih baik.

Sementara jika buah hati Anda mengalami TEF bersamaan dengan atresia esofageal, dokter juga akan melakukan prosedur operasi yang hampir sama.

Komplikasi

Apa komplikasi yang mungkin muncul dari tracheoesophageal fistula?

Ketika bayi yang mengalami TEF menelan, cairan yang ditelan tersebut dapat masuk melalui saluran di antara kerongkongan dan tenggorokan.

Kondisi ini dapat menyebabkan cairan masuk ke dalam paru-paru bayi sehingga mengakibatkan pneumonia dan masalah kesehatan lainnya.

Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Apa Benar Kena Air Hujan Bisa Bikin Sakit?

    Banyak orang yang jatuh sakit setelah hujan-hujanan. Benarkah terkena air hujan memengaruhi kesehatan kita? Bagaimana cara mengatasinya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Hidup Sehat, Fakta Unik 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

    Leptospirosis adalah salah satu penyakit yang sering bermunculan saat musim hujan. Saat gejala leptospirosis mulai terasa, segera atasi dengan cara ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

    Meski populer, mi instan sering dicap sebagai makanan tidak sehat. Lantas, apakah penderita diabetes boleh makan mi instan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

    Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

    Salah satu masalah orang thalasemia adalah masalah gizi. Apa saja pilihan makanan dan nutrisi yang tepat untuk penderita thalasemia?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
    Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    covid-19 vaksin yang terburu-buru

    Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
    cara mengobati sengatan lebah

    Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
    KDRT konflik rumah tangga

    Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    tips menghindari perceraian

    7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit