Kanker Kolorektal (Usus Besar dan Atau Rektum)

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 07/08/2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Pengertian penyakit kanker kolorektal menurut Kemenkes RI dalam Panduan Penatalaksanaan Kanker Kolorektal adalah kanker yang berasal dari usus besar (kolon/colon) dan atau rektum. Maksudnya, kanker bisa berawal dari usus besar saja atau menyebar hingga ke rektum, maupun sebaliknya.

Berdasarkan pengertian tersebut, jenis kanker ini sering disebut kanker usus besar (kolon) atau kanker rektum, tergantung bagian mana sel-selnya yang mengalami fungsi abnormal.

Kolon sendiri merupakan bagian terpanjang dari usus besar, yang berfungsi untuk menyerap cairan dan memproses limbah tubuh berupa feses. Sementara, rektum adalah bagian kecil paling akhir dari usus besar sebelum anus, bertugas sebagai tempat penyimpanan feses sementara.

Berdasarkan situs American Cancer Society, kanker kolorektal memiliki beberapa jenis, meliputi:

  • Adenokarsinoma. Hampir 96% kanker kolorektal yang paling umum menyerang adalah jenis ini. Kanker ini berasal dari sel yang menghasilkan lendir untuk melumasi bagian dalam kolon dan anus.
  • Tumor karsinoid. Jenis kanker yang menyerang sel-sel pembuat hormon di usus.
  • Tumor stroma gastrointestinal (GIST). Jenis kanker yang menyerang sel-sel khusus dinding kolon yang disebut interstitial Cajal.
  • Limfoma. Jenis kanker yang menyerang dari kelenjar getah bening di kolon maupun rektum.
  • Sarkoma. Jenis kanker yang berawal dari pembuluh darah, lapisan otot, maupun jaringan ikat di kolon maupun rektum.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Kanker kolorektal (usus besar dan atau rektum) adalah penyakit yang bisa menyerang usia muda dan tua, meskipun lebih sering terdeteksi pada orang yang berusia 50 tahun ke atas.

Menurut Kemenkes RI, data Riskesdas menunjukkan prevalensi kanker di Indonesia tahun 2018 menjadi 1,79 per 1000 penduduk, dengan kanker kolorektal sebagai jenis kanker terbanyak keenam, dikutip dari Globocan tahun 2018.

Pada tahun tersebut juga tercatat 15.245 dan 14.112 kasus baru dari kanker usus besar dan kanker rektum. Dengan angka kematian kanker usus besar mencapai 9.207 jiwa dan kanker rektum sebesar 6.827 jiwa.

Tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Pada tahap awal pertumbuhan kanker, orang yang memiliki kanker kolorektal biasanya tidak merasakan gejala apa pun. Gejala umumnya akan muncul ketika kanker sudah naik ke tahap lanjut.

Karena kanker ini bisa menyerang usus besar maupun rektum, sehingga memungkinkan seseorang merasakan gejala yang berbeda.

Dilansir dari Mayo Clinic, gejala kanker kolorektal yang menyerang usus besar (kolon) dan rektum adalah:

  • Mengalami diare atau sembelit terus-menerus atau keduanya secara bergantian namun persisten.
  • Terjadi perdarahan di anus sehingga ada darah di feses
  • Perut terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum
  • Perut selalu terasa penuh dan mudah kenyang
  • Tubuh lemah dan berat badan menurun tanpa alasan yang jelas

Tingkat keparahan gejala kanker juga berbeda-beda, tergantung seberapa luas sel kanker menyebar. Gejala parah mungkin dirasakan pada orang yang bagian kolon dan rektumnya telah terserang kanker.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Gejala kanker kolorektal memang hampir serupa dengan masalah kesehatan yang menyerang sistem pencernaan. Guna membedakannya, Anda bisa mengamati berapa lama gejala tersebut muncul.

Jika sudah lebih dari 2 minggu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Terutama gejala BAB berdarah. Pasalnya, gejala kanker tidak akan membaik dengan sendirinya atau dengan pengobatan rumahan.

Penyebab

Apa penyebab kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Penyebab kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum) tidak diketahui secara pasti. Namun secara umum, pertumbuhan kanker dimulai ketika sel-sel sehat di dalam usus mengalami perubahan mutasi dalam DNA.

Mutasi tersebut membuat sel yang seharusnya membelah secara teratur menjadi abnormal. Sel ini tidak mati, sekalipun sel tidak dibutuhkan. Seiring waktu, akan terjadi penumpukan yang membentuk tumor.

Kanker kolorektal juga bisa terbentuk dari polip (pertumbuhan abnormal) pada lapisan kolon atau rektum. Beberapa polip selama bertahun-tahun dapat berubah menjadi kanker, paling sering jenis polip adenomatosa, polip hiperplastik, dan polip inflamasi yang berukuran lebih dari 1 cm.

Polip yang berubah menjadi kanker kolorektal dapat menyebar (metastatis) dari lapisan paling dalam (mukosa), tumbuh keluar, dan akhirnya menyerang semua lapisan. Bila sel kanker berada di dinding usus, kanker dapat merembet ke pembuluh darah dan pembuluh getah bening.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Meski penyebab kanker yang menyerang kolon dan atau rektum ini tidak diketahui secara pasti, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko penyakit ini, di antaranya:

  • Usia. Jenis kanker ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi cenderung lebih sering terjadi pada orang yang berusia 50 tahun ke atas.
  • Keturunan. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit kanker usus maupun polip usus, berisiko mengembangkan penyakit serupa.
  • Ada peradangan di usus. Memiliki masalah kesehatan yang menyebabkan peradangan di usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulserativa meningkatkan risiko berkembangnya kanker.
  • Memiliki sindrom yang mempengaruhi usus besar. Sindrom Lynch atau poliposis adenomatosa familial (FAP) dapat menyebabkan masalah mutasi gen yang bisa memicu kanker.
  • Diet rendah serat, tapi tinggi lemak. Diet yang fokus pada daging merah dan olahan namun sedikit sayur atau buah ini bisa meningkatkan risiko kanker pada usus.
  • Obesitas dan diabetes. Berat badan berlebihan dan masalah pada insulin di dalam tubuh bisa meningkatkan risiko kanker kolon.
  • Gaya hidup buruk. Malas gerak, merokok, dan banyak minum alkohol bisa memicu kerja sel-sel tubuh tidak teratur, sehingga meningkatkan risiko kanker.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Komplikasi dapat terjadi pada semua penyakit, termasuk kanker kolorektal. Kondisi ini mungkin bisa terjadi akibat penderita kanker usus besar maupun rektum tidak mengikuti pengobatan dengan rutin atau masih melanggar pantangan.

Dilansir dari Medline Plus, komplikasi kolorektal yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Kanker kembali kambuh karena masih menyisakan sel-sel kanker tertentu yang tidak terangkat, mati, atau hilang sepenuhnya.
  • Adanya tumor yang terus membesar menyebabkan penyumbatan di usus.
  • Kanker menyerang jaringan atau organ di sekitarnya, seperti pankreas, empedu, kelenjar getah bening, ginjal, bahkan hati.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Bila Anda merasakan gejala yang dicurigai sebagai tanda kanker pada usus besar atau rektum, dokter akan merekomendasikan beberapa tes kesehatan, meliputi:

Kolonoskopi

Kolonoskopi merupakan tes untuk kanker di usus dengan menggunakan tabung panjang fleksibel yang dilengkapi kamera kecil. Nantinya, kamera tersebut akan mengirimkan gambar dan memperlihatkan kondisi usus.

Dari tes ini, dokter akan mengetahui letak dan kondisi tumor kanker pada usus. Kemudian, alat bedah akan dimasukkan untuk mengambil jaringan (biopsi) untuk memastikan apakah tumor tersebut adalah kanker atau bukan.

Tes darah

Pada tes darah, dokter akan mengamati adanya bahan kimia yang diproduksi tubuh ketika kanker usus besar terjadi, yakni CEA (antigen carcinoembryonic). Jika bahan kimia ini ada dalam tubuh, ini bisa membantu dokter menegakkan diagnosis.

Apa saja pilihan obat untuk kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Kanker usus besar harus diatasi segera agar tidak menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa. Beberapa pengobatan kanker yang biasanya direkomendasikan dokter, antara lain:

Operasi kanker berukuran kecil

Polip (benjolan) yang berukuran sangat kecil bisa diangkat sekaligus ketika kolonoskopi dilakukan. Prosedur ini disebut juga dengan polipektomi.

Ketika polip berukuran lebih besar, maka dokter akan menggunakan alat khusus yang disebut reseksi mukosa endoskopi. Prosedur ini juga bisa dilakukan ketika kolonoskopi sedang berlangsung.

Bila tidak dapat diangkat dengan kedua operasi di atas, dokter akan beralih ke pembedahan invasif minimal (pembedahan laparoskopi). Pada prosedur ini, dokter membuat sayatan kecil di dinding perut dan memasukkan alat khusus untuk mengangkat kanker.

Operasi kanker berukuran besar

Jika ukuran kanker usus besar jauh lebih besar, kolektomi parsial akan dilakukan. Selama prosedur ini, dokter bedah mengangkat bagian usus besar Anda yang mengandung kanker, bersama dengan jaringan normal di kedua sisi kanker.

Dokter akan menyambung kembali bagian sehat pada usus besar atau bagian yang lain. Jika prosedur ini tidak memungkinkan, ostomi akan dilakukan.

Prosedur ini dilakukan dengan membuat lubang di dinding perut dari bagian usus besar yang tersisa untuk menciptakan jalur bagi kotoran ke anus. Perawatan ini biasanya bersifat sementara.

Terapi

Selain operasi kanker usus besar, untuk mematikan sel kanker agar tidak kembali berkembang, terapi biasanya dijadikan perawatan lanjutan. Berbagai terapi yang dilakukan, meliputi:

  • Kemoterapi. Terapi obat penghancur sel kanker yang diberikan setelah operasi pada kanker yang ukurannya besar atau telah menyebar ke kelenjar getah bening.
  • Terapi radiasi. Terapi menggunakan sinar X dan proton ke area tubuh yang terkena kanker. Biasanya dilakukan untuk mengecilkan kanker sebelum operasi dilakukan atau dijadikan kombinasi kemoterapi.
  • Imunoterapi. Perawatan dengan obat yang bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel kanker.

Pengobatan di rumah

Apa saja pengobatan rumahan dan perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Penyakit kanker dapat disembuhkan, tapi juga bisa kembali kambuh. Oleh karena itu, selama atau setelah pengobatan, gaya hidup panderita kanker kolorektal yang sehat tetap harus diterapkan, seperti:

  • Mengikuti pengobatan kanker usus besar, seperti terapi sesuai anjuran dokter.
  • Menjaga gaya hidup tetap sehat, seperti pola makan, olahraga, dan istirahat yang cukup.
  • Rutin melakukan skrining untuk mengetahui adanya sel kanker jika kembali tumbuh.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit kanker kolorektal (usus besar/kolon dan atau rektum)?

Tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker kolorektal. Akan tetapi, Anda tetap bisa menurunkan risikonya dengan cara berikut ini:

  • Perbanyak konsumsi makanan yang kaya vitamin, mineral, serat, protein, dan antioksidan, seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Kurangi kebiasaan minum alkohol, yakni tidak lebih satu gelas kecil per hari bagi pria maupun wanita.
  • Lakukan olahraga secara rutin, setidaknya 30 menit per hari dan tingkat intensitasnya secara perlahan.
  • Berhenti merokok dan menerapkan kebiasaan makan yang sehat, seperti makan sesuai porsi dan tetap aktif agar berat badan tidak gampang naik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tes Kesehatan untuk Menegakkan Diagnosis Kanker Ovarium

Penegakkan diagnosis kanker ovarium harus melalui tes kesehatan yang sesuai. Lantas, tes apa saja yang digunakan sebagai cara mendeteksi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Kenali Perbedaan Kista Ovarium dan Kanker Ovarium

Kanker dan kista ovarium itu berbeda. Lantas, apa perbedaan kista ovarium dengan kanker ovarium? Apakah kista bisa menjadi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker 26/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Penyakit dan Pengobatan Kanker Ovarium

Komplikasi kanker ovarium bisa terjadi akibat penyakit maupun pengobatan yang dilakukan. Apa saja komplikasinya? Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Daftar Obat Herbal yang Berpotensi Mengobati Kanker Ovarium

Selain pengobatan dokter, periset terus meneliti berbagai obat herbal kanker ovarium. Apa saja obat tradisional untuk kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pencegahan cara mencegah kanker ovarium

Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
makanan buah dan sayur yang baik dan bagus untuk pasien kanker ovarium

Aturan dan Jenis Makanan yang Disarankan untuk Pasien Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 5 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
pembengkakan prostat jinak adalah

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 11 menit