Dermatitis Kontak Alergi (Eksim Alergi)

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dermatitis kontak alergi (eksim alergi)?

Dermatitis kontak alergi atau dermatitis alergi adalah penyakit kulit yang dipicu peradangan akibat kontak langsung antara kulit dengan suatu alergen. Jenis dermatitis kontak ini juga dengan sebutan eksim alergi.

Alergen itu sendiri adalah zat yang sebenarnya tidak berbahaya untuk kesehatan, tapi dianggap oleh sistem imun sebagai ancaman.

Anda dapat terekspos ribuan zat tiap harinya dan kebanyakan tidak akan menyebabkan sistem imun bereaksi. Akan tetapi, paparan atau kontak dengan beberapa zat jinak tersebut dapat membuat sistem imun dari beberapa orang jadi bereaksi negatif. Respons ini disebut sebagai reaksi alergi.

Alergi dapat memunculkan beragam gejala, mulai dari hidung berair, sesak napas, dan batuk. Namun, pada orang yang memiliki eksim alergi reaksinya cenderung berupa perubahan kondisi kulit, seperti penebalan yang disertai bengkak, ruam kemerahan, lenting, gatal-gatal, dan lainnya.

Seberapa umum kondisi ini?

Eksim alergi termasuk jenis dermatitis kontak yang cukup umum. Hampir semua orang sebetulnya dapat terkena dermatitis kontak, tapi tidak semua orang dapat terkena eksim alergi. 

Hal ini karena hampir setiap bahan yang menempel pada kulit bersifat iritan (mengiritasi kulit), tapi belum tentu menyebabkan alergi. Kerentanan alergi pada seseorang lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan dan sebaik apa kemampuan sistem imun mereka merespons suatu zat.

Menurut laporan yang dirilis oleh Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG), kurang lebih ada 8% orang dewasa di dunia yang memiliki eksim alergi. Laki-laki lebih rentan terjangkit penyakit kulit ini daripada perempuan.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dermatitis kontak alergi?

Gejala eksim alergi dapat berbeda bagi setiap orang. Gejala yang Anda alami juga bahkan bisa berubah-ubah seiring waktu.

Gejala biasanya terjadi dalam 24-48 jam setelah kulit mengalami kontak langsung dengan alergen (bersentuhan atau menempel). Pada beberapa orang, gejala eksim dapat baru muncul ketika paparan dengan alergen telah berlangsung berkali-kali.

Berikut ini adalah gejala alergi eksim secara umum:

  • Gatal-gatal.
  • Sakit, nyeri, atau perih pada bagian kulit yang terdampak.
  • Benjolan kemerahan yang bisa terlihat lembap, berair/bernanah, kering, atau berkerak (lenting).
  • Kulit terasa hangat atau panas; terasa seperti sensasi terbakar.
  • Kulit kering, kemerahan, menebal, dan kasar bersisik.
  • Sayatan pada kulit.

Pada kasus yang lebih parah, gejala bisa membuat kulit terasa kencang dan melepuh. Lenting lepuhan yang pecah akan mengeluarkan cairan, kemudian berubah menjadi borok dan mengelupas.

Gejala eksim alergi dapat hanya terfokus pada area kulit yang terkena paparan alergen. Area yang paling sering terdampak adalah bagian tangan (telapak tangan dan jari), wajah (bibir dan kelopak), leher, dan kaki. 

Namun pada kasus yang langka, gejala dapat menyebar ke area kulit lain yang tidak terpapar oleh alergen.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Dermatitis bukan penyakit yang berbahaya, meski menimbulkan rasa tidak nyaman.

Apabila gejala tidak kunjung membaik dengan pengobatan rumahan, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Umumnya dokter akan memberikan obat antiradang dalam bentuk obat oles atau obat minum, tergantung dari seberapa luas bagian kulit yang terdampak eksim.

Segera ke dokter pula jika luka pada kulit sudah mengacu pada tanda-tanda infeksi.

Penyebab

Apa penyebab dermatitis kontak alergi?

Eksim alergi terjadi saat Anda mengalami kontak langsung dengan alergen.

Tubuh biasanya sudah membuat antibodi untuk melawan alergen saat terpapar pertama kali. Antibodi pada tubuh lantas membuat kulit bereaksi lebih sensitif terhadap zat ketika kontak dengan alergen terjadi lagi.

Ada berbagai alergen yang dapat memicu kemunculan gejala  dermatitis kontak alergi. Berikut ini adalah zat pemicunya yang paling umum:

  • Logam (nikel dan kobalt)
  • Karet lateks
  • Perekat (zat lengket di plester)
  • Tumbuhan (chamomile dan arnica)
  • Parfum pada kosmetik, seperti lipstik dan sabun
  • Pewarna pakaian tertentu
  • Zat kimia pada produk rambut
  • Agen pembersih (deterjen) dan pelarut
  • Minyak esensial
  • Beberapa obat yang dioleskan ke kulit

Faktor lainnya di luar tubuh yang bisa menyebabkan alergi eksim meliputi bahan kimia (zat asam atau basa, oli, dan lain-lain), mikroorganisme (virus, jamur, bakteri), atau faktor fisik (sinar, suhu). 

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya mengalami eksim alergi?

Anda berisiko terkena eksim alergi jika terpapar langsung dengan zat pemicu atau alergen. Peluang kemunculan gejala akan lebih tinggi jika Anda sudah sebelumnya memiliki riwayat alergi

Gejala dermatitis alergi sering dikaitkan dengan alergi makanan, rhinitis alergi, dan asma alergi.

Akan tetapi, apabila tidak memiliki faktor risiko bukan berarti Anda tidak bisa mengalami alergi eksim. Selain karena alergen, eksim pada anak-anak juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri staph pada kulit.

Eksim alergi juga dapat terjadi saat kulit terekspos pada zat kimia dari cahaya matahari. Salah satu contoh adalah reaksi alergi yang terjadi setelah penggunaan tabir surya dan berada di paparan sinar matahari.

Diagnosis

Bagaimana cara dokter mendiagnosis eksim alergi?

Diagnosis eksim dan alergi akan didahului dengan pemeriksaan fisik mendasar.

Dokter pertama-tama akan menanyakan riwayat kontak pasien dengan hal-hal pemicu alergi yang umum, gejala yang muncul, serta apa pekerjaan pasien. Profesi dan pekerjaan sangat erat berhubungan dengan kemungkinan bahan yang berkontak dan riwayat alergi.

Gejala eksim alergi memiliki karakteristik yang mirip dengan beberapa penyakit kulit akibat peradangan. Maka dari itu, skan sangat sulit jika diagnosis untuk dermatitis kontak alergi hanya dilakukan lewat identifikasi gejala. 

Tetap diperlukan tes atau pengujian laboratorium lanjutan untuk memastikan.

Tes apa saja yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis eksim alergi?

Untuk lebih memastikan diagnosis, dokter bisa meminta pasien untuk melakukan uji tempel atau patch test supaya mengetahui bahan apa yang menyebabkan pasien sakit.

Bahan-bahan yang dicurigai menyebabkan dermatitis alergi ditempelkan di tubuh pasien, kemudian dilepas 48 jam setelahnya. Barulah dilakukan 2 kali pembacaan tes dermatitis kontak:

  • Pembacaan pertama dilakukan 15-30 menit setelah bahan dilepas, dinilai respon kulit di mana bahan ditempel. Semakin hebat respon yang timbul, semakin besar kemungkinan zat tersebut menyebabkan dermatitis kontak alergi.
  • Pembacaan kedua dilakukan pada 72-96 jam setelah bahan dilepas, dinilai bagaimana progresivitas respon kulit. Apabila respon bertambah jelas, maka disebabkan oleh alergi. Namun, apabila respon cenderung menurun, maka disebabkan oleh iritan.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati dermatitis kontak alergi?

Hal yang harus segera Anda lakukan jika mengalami gejala eksim kontak alergi adalah mencari tahu bahan apa yang kira-kira memicu masalah dan menghindarinya.

biasanya gejala akan membaik apabila Anda menjauh dari alergen atau peluang paparan ditiadakan, kecuali adanya penyakit lain yang menyertai.

Krim pelembap kulit sensitif atau pelembut bisa digunakan untuk mengurangi gejala yang ada. Pada kondisi akut, kompres dingin juga bisa dianjurkan.

Obat yang digunakan adalah krim atau salep steroid, pil kortikosteroid, dan pelembab khusus untuk kulit kering dan gatal yang perlu diaplikasikan secara rutin.

Lama waktu pengobatan dermatitis kontak alergi bergantung dari seberapa parah gejala yang berlangsung.

Tujuan dari pengobatan dermatitis kontak alergi adalah untuk mengendalikan gejala yang menyebabkan rasa gatal serta memulihkan kerusakan kulit sehingga kembali normal.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Setiap Jenis Cacar Berbeda Penyebabnya, Bagaimana Pengobatannya?

Berbeda jenis cacar, maka berbeda pula cara mengobati gejalanya. Pastikan Anda mengenali setiap jenis cacar sehingga tidak salah melakukan penanganan.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Penyebab utama penyakit cacar air adalah infeksi virus varicella-zoster. Bagaimana infeksi memengaruhi keparahan penyakit? Bisakah sembuh dengan sendirinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Waspadai Ciri Scabies Berdasarkan Jenis dan Parahnya Gejala Kudis

Scabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular. Penting bagi Anda mengenali ciri dan gejala scabies (kudis) untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Ciri-Ciri Cacar Api yang Wajib Dikenali, Jika Anda Sudah Pernah Kena Cacar Air

Ciri-ciri cacar api memiliki pola penyebaran lenting yang berbeda dengan cacar air. Gejala cacar api juga disertai nyeri pada kulit.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
Cacar api pada anak dan bayi

Cacar Api pada Anak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
ilustrasi wanita terkena infeksi jamur kulit yang dapat diatasi dengan obat oles atau salep jamur kulit

Kapan Harus Menggunakan Obat Anti Jamur Saat Muncul Gatal pada Kulit?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Obat kudis tradisional alami

6 Bahan Alami yang Bisa Dimanfaatkan untuk Obat Kudis Tradisional

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020