Ankylosing Spondylitis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu ankylosing spondylitis?

Ankylosing spondylitis (AS) adalah bentuk radang sendi (arthritis) yang terutama menyerang area sendi tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan area punggung, tulang rusuk, dan leher Anda terasa kaku dan nyeri. 

Seiring waktu, peradangan tersebut menyebabkan  tulang-tulang kecil di tulang belakang menyatu,  sehingga tulang belakang Anda menjadi kurang fleksibel. Pada kasus yang serius, penggabungan tulang-tulang kecil tersebut menyebabkan postur tubuh Anda membungkuk ke depan. 

Ankylosing spondilitis adalah salah satu penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. Namun, pengobatan yang diberikan dapat mengurangi gejala serta memperlambat perkembangan penyakit.

Seberapa umum ankylosing spondylitis?

Ankylosing spondylitis adalah bentuk penyakit arthritis yang lebih jarang terjadi. Sementara jenis arthritis lainnya yang lebih umum, seperti osteoarthritis, rheumatoid arthritis, atau gout (asam urat). 

Penyakit ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita. Dari segi usia, ankylosing spondilitis lebih sering terjadi pada usia di bawah 45 tahun. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala ankylosing spondylitis?

Tanda-tanda dan gejala ankylosing spondylitis dapat beragam pada setiap orang. Namun, pada awal kemunculannya, beberapa gejala ankylosing spondylitis yang biasa muncul adalah:

  • Nyeri atau sakit di bagian punggung bawah dan pinggul, yang biasanya terjadi pada pagi hari selama 30 menit dan mereda sepanjang hari atau dengan aktivitas, serta pada malam hari hingga kerap membuat Anda terbangun dari tidur. 
  • Punggung bagian bawah terasa kaku, yang sering terjadi pada pagi hari atau setelah beristirahat terlalu lama. 
  • Merasa sangat lelah. 

Gejala tersebut umumnya berkembang secara perlahan dalam beberapa minggu, bulan, atau tahun, serta mungkin dapat hilang-timbul. Seiring waktu, rasa nyeri di bagian bawah punggung dapat menjalar ke area sendi lainnya, seperti leher, bahu, atau paha.

Bahkan, beberapa orang mungkin mengalami nyeri, kaku, dan bengkak di bagian sendi lutut, pergelangan kaki, tulang rusuk, atau tulang belikat. Jika sebagian besar tulang tersebut terpengaruh, kondisi ini dapat menyebabkan Anda kesulitan menjalani aktivitas.

Selain tanda-tanda di atas, beberapa gejala lainnya pun mungkin timbul, terutama bila penyakit ini sudah berkembang. Gejala ankylosing spondylitis tersebut adalah:

  • Penurunan nafsu makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam.
  • Ruam kulit.
  • Sakit perut dan diare.
  • Perubahan penglihatan, sakit mata, atau kemerahan pada mata akibat peradangan di mata.
  • Nyeri dada atau sesak di sekitar dada, sehingga membuat Anda sulit menarik napas dalam.

Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum. Jika ada pertanyaan tentang tanda-tanda penyakit, konsultasi dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter bila merasakan adanya tanda atau gejala awal ankylosing spondilitis seperti yang tercantum di atas, terutama bila terjadi terus menerus dan tak kunjung sembuh. Penanganan dini dapat mengurangi risiko keparahan penyakit pada masa mendatang.

Tubuh masing-masing orang umumnya menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang berbeda. Oleh karena itu, selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan metode diagnosis dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda. 

Penyebab & faktor risiko

Apa penyebab ankylosing spondylitis?

Hingga saat ini, penyebab ankylosing spondylitis belum diketahui secara pasti. Namun para ahli berpendapat, penyakit ini mungkin disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan.

Gen utama yang terkait dengan risiko ankylosing spondilitis bernama HLA-B27. Pasalnya, beberapa orang dengan AS terdeteksi memiliki gen tersebut. Meski demikian, tidak semua orang yang memiliki gen ini akan mengalami ankylosing spondilitis.

Pasalnya, dilansir dari Spondylitis Association of America, gen HLA-B27 kemungkinan besar hanya berperan sekitar 30 persen dari keseluruhan risiko penyakit AS. Adapun sisanya diduga berasal dari kelainan gen lain yang dipicu dari faktor lingkungan, seperti infeksi bakteri.

Gen lain ini bekerja bersama dengan HLA-B27 yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya ankylosing spondilitis. Adapun para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 60 gen lain yang terkait dengan AS tersebut. Di antara gen yang telah diidentifikasi tersebut adalah ERAP1, IL-12, IL-17, dan IL-23.

Apa yang meningkatkan risiko seseorang terkena ankylosing spondylitis?

Meski penyebab utamanya belum diketahui, beberapa faktor disebut dapat meningkatkan risiko seseorang terkena ankylosing spondilitis. Berbagai faktor risiko yang menyebabkan ankylosing spondylitis adalah:

  • Jenis kelamin

Penyakit ini lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan dengan wanita. Oleh karena itu pria lebih berisiko terkena penyakit AS. 

  • Usia

Penyakit ini biasanya terjadi pada usia antara 20-40 tahun. Namun, AS juga mungkin dimulai pada pada usia di bawah 10 tahun. 

  • Riwayat keluarga dan genetik

Bila Anda memiliki saudara atau anggota keluarga dengan ankylosing spondilitis, Anda lebih berisiko mengalami penyakit yang sama. Pasalnya, gen HLA-B27 dapat diturunkan dari orangtua ke anak. Lima hingga dua puluh persen anak dengan gen ini pun diperkirakan akan mengembangkan AS pada suatu waktu.

  • Kondisi medis tertentu

Anda pun berisiko terkena penyakit AS bila memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif (peradangan pada usus), atau psoriasis.

Komplikasi

Apa komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari ankylosing spondylitis?

Pada kondisi yang parah, ankylosing spondilitis dapat menyebabkan terbentuknya tulang baru di bagian tulang belakang. Pembentukan tulang baru ini secara bertahap menutup celah di antara ruas tulang belakang sehingga menyatukan tulang-tulang kecil tersebut.

Adapun kondisi ini menyebabkan bagian tulang belakang menjadi kaku dan kehilangan kelenturannya. Selain itu, tulang-tulang kecil yang menyatu juga menyebabkan tulang rusuk menjadi kaku, sehingga mengganggu fungsi paru-paru Anda.

Selain kondisi tersebut, komplikasi dari ankylosing spondylitis yang mungkin terjadi adalah:

  • Radang mata atau iritis

Peradangan pada mata (iritis), atau disebut juga dengan uveitis, dapat terjadi pada penderita AS. Kondisi ini ditandai dengan mata yang memerah, sakit, sensitif terhadap cahaya, dan penglihatan yang buram.

  • Osteoporosis dan patah tulang

Ankylosing spondilitis dapat menimbulkan osteoporosis pada tulang belakang, yaitu kondisi di mana tulang menjadi rapuh. Adapun kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya patah tulang di tulang belakang.

  • Masalah jantung

Ankylosing spondilitis dapat menyebabkan peradangan pada aorta, yaitu pembuluh darah arteri besar di tubuh Anda. Aorta yang meradang dapat membesar, kemudian merusak katup aorta di jantung dan mengganggu fungsinya. Kondisi ini dapat menimbulkan penyakit jantung.

  • Sindrom Cauda equina

Sindrom Cauda equina adalah komplikasi ankylosing spondylitis yang jarang terjadi. Komplikasi ini dapat terjadi ketika saraf di bawah tulang belakang Anda tertekan. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti nyeri atau mati rasa di bagian punggung bawah dan bokong, kaki terasa lemah, inkontinensia urin, serta inkontinensia usus.

  • Amyloidosis

Komplikasi AS yang sangat jarang terjadi adalah amyloidosis, yaitu kondisi di mana amyloid (protein yang diproduksi sumsum tulang) menumpuk di organ, seperti jantung, ginjal, dan hati. Kondisi ini dapat menimbulkan beberapa gejala seperti, rasa lelah yang berlebihan, penurunan berat badan, retensi cairan, sesak napas, dan mati rasa atau kesemutan di tangan dan kaki.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ankylosing spondilitis?

Untuk mendiagnosis ankylosing spondylitis, dokter akan menanyakan gejala yang Anda alami, berapa lama gejala sudah dirasakan, kondisi medis yang mungkin Anda miliki, serta riwayat keluarga Anda. Setelah itu, dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikan diagnosisnya. Beberapa tes yang umumnya dilakukan untuk mendiagnosis ankylosing spondylitis adalah:

Pemeriksaan fisik

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan melihat tanda dan gejala, termasuk nyeri di sepanjang tulang punggung. Dokter mungkin menyuruh Anda bergerak dan membungkuk ke arah yang berbeda-beda serta bernapas dalam-dalam untuk memeriksa apakah Anda mengalami kesulitan dalam bernapas. 

Tes pencitraan

Rontgen atau sinar-X dan magnetic resonance imaging (MRI) umumnya dilakukan untuk membantu mendiagnosis AS, meski kedua tes ini punya keterbatasan.

Rontgen sinar-X mungkin bisa menunjukkan perubahan yang terjadi pada tulang punggung dan sendi, tetapi perlu waktu bertahun-tahun untuk tahu penyebabnya. Sementara dengan MRI, dokter dapat mengetahui diagnosis lebih cepat dan tepat, karena dapat menunjukkan kerusakan yang lebih detail, meski tes ini lebih mahal. 

Tes darah

Tes darah umumnya dilakukan untuk mencari adanya peradangan di tubuh Anda, yang merupakan tanda awal dari penyakit AS. Selain itu, tes darah juga dimungkinkan untuk memeriksa gen HLA-B27, meski tidak semua penderita penyakit AS akan memilikinya. 

Apa pilihan pengobatan untuk ankylosing spondylitis?

Tidak ada pengobatan yang sepenuhnya dapat menyembuhkan ankylosing spondilitis. Meski demikian, pengobatan tetap perlu dilakukan untuk meredakan gejala serta memperlambat perkembangan penyakit. Beberapa pengobatan untuk ankylosing spondylitis adalah: 

Obat-obatan

Beberapa obat yang umumnya diberikan dokter untuk mengobati penyakit ini, yaitu:

  • Obat antiradang nonstreoid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, atau indometachin, untuk meredakan nyeri dan peradangan.
  • Disease-modifying anti-rheumatic drugs (DMARDs), seperti sulfasalazine dan methotrexate, untuk mengurangi peradangan pada sendi.
  • Kortikosteroid yang disuntik di bagian sendi yang meradang.
  • Terapi biologis, seperti penghambat TNF (termasuk etanercept, adalimumab, infliximab, golimumab), untuk menghentikan peradangan. 

Terapi fisik

Terapi fisik dapat membantu Anda meredakan rasa nyeri, meningkatkan kekuatan otot, serta dan menjaga kelenturan sendi, sehingga Anda dapat lebih mudah bergerak dan menjalankan aktivitas. Selain itu, terapi ini juga dapat membantu mempertahankan postur tubuh Anda agar tetap tegak.

Operasi

Operasi mungkin diperlukan jika nyeri Anda bertambah parah, atau sudah terjadi kerusakan sendi sehingga perlu diganti. Namun, sebagian besar orang dengan ankylosing spondylitis tidak memerlukan prosedur pengobatan ini. 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat mengatasi ankylosing spondylitis?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi ankylosing spondylitis adalah: 

  • Rutin berolahraga ringan untuk membantu mengurangi rasa nyeri, meningkatkan kelenturan sendi, serta memperbaiki postur tubuh, seperti berenang, pilates, yoga, dan tai chi.
  • Menjaga berat badan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang rendah lemak.
  • Jangan merokok atau minum alkohol. 
  • Kompres dengan air hangat atau dingin pada sendi yang terkena untuk mengurangi nyeri, kekakuan, dan pembengkakan pada sendi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    11 Cara Mencegah Diabetes yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini

    Meski tak bisa disembuhkan, ada berbagai macam cara untuk mencegah diabetes. Tindakan pencegahan diabetes ini pun sangat sederhana. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Gejala Penyakit Urologi, Dari Nyeri Buang Air Kecil Hingga Impotensi

    Gejala penyakit urologi kerap berhubungan dengan proses kencing yang tidak normal seperti kesulitan atau malah terlalu sering. Apa gejala lainnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi 7 September 2020 . Waktu baca 10 menit

    8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

    Ada banyak hal yang menjadi penyebab sering buang air kecil, mulai dari kebiasaan minum, konsumsi obat, hingga penyakit. Apakah Anda memiliki salah satunya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ada yang bilang kita sudah tak boleh minum air yang disimpan dalam botol plastik hangat. Misalnya karena ditinggal di mobil seharian. Benarkah demikian?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 10 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    terapi urine minum air kencing

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    merawat kulit orang diabetes

    Berbagai Perawatan untuk Menjaga Kesehatan Kulit

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    transplantasi ginjal

    Transplantasi Ginjal

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit
    akantosis nigrikans

    Akantosis Nigrikans, Saat Kulit Menebal dan Menghitam Akibat Diabetes

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit