Waspada! Penyakit Seks Menular Sifilis Nyatanya Juga Mengintai Bayi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit seks menular seperti sifilis alias raja singa biasanya sangat rentan terjadi pada orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan aman atau gonta-ganti pasangan. Meski memang banyak dialami oleh orang dewasanya, nyatanya penyakit infeksi ini mungkin terjadi pada bayi. Bahkan, si kecil sudah bisa terinfeksi sejak ia masih di dalam kandungan. Hal ini terjadi karena sang ibu mengalami sifilis hingga menularkan pada janinnya. Kondisi ini disebut dengan sifilis kongenital. Lantas, seberapa bahaya sifilis kongenital bagi sang bayi? Apakah bisa disembuhkan?

Sifilis kongenital, infeksi yang mengancam nyawa bayi

Sifilis kongenital adalah suatu infeksi serius yang dapat berdampak kecacatan seumur hidup dan mematikan pada bayi baru lahir. Ibu hamil yang terinfeksi Treponema pallidum dapat menularkan bakteri tersebut ke janin melalui plasenta ke dalam tubuh janin.

Sifilis kongenital adalah infeksi yang mengancam jiwa karena dapat menyerang berbagai sistem organ di dalam tubuh sang janin yang sedang berkembang. Infeksi sifilis dapat berdampak ke berbagai organ tubuh termasuk otak, sistem limfatik hingga tulang.

Ibu hamil sangat mungkin menularkan infeksi pada sang janin, terutama jika penyakit ini tidak ditangani dan terjadi pada trimester kedua. Infeksi ini juga dapat meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, lahir prematur, keguguran, ataupun lahir mati.

Gejala yang dialami oleh bayi

Pada awalnya, bayi yang lahir hidup dari ibu yang sifilis mungkin tampak sehat dan baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu beberapa gejala dapat timbul. Biasanya bayi di bawah 2 tahun yang mengalami sifilis kongenital akan mengalami:

  • Gangguan tulang
  • Pembesaran liver
  • Tidak mengalami pertambahan berat badan secara signifikan dibanding berat saat baru lahir
  • Sering rewel
  • Meningitis
  • Anemia
  • Kulit pecah di sekitar mulut, genital dan anus
  • Nampak ruam pada kulit
  • Tidak dapat menggerakan lengan dan kaki
  • Sering keluar cairan dari hidung

Pada balita dan anak-anak, gejala sifilis kongenital dapat berupa:

  • Kelainan pertumbuhan gigi
  • Gangguan pada tulang
  • Kebutaan atau gangguan pada kornea
  • Gangguan pendengaran hingga tuli
  • Gangguan pertumbuhan tulang hidung
  • Pembengkakan persendian
  • Gangguan kulit pada sekitar mulut, genital dan anus.

Bagaimana sifilis kongenital dapat dikenali?

Deteksi penyakit sedini mungkin pada ibu hamil dapat dilakukan dengan melakukan berbagai pemeriksaan darah seperti Fluorescent treponemal antibody absorbed test (FTA-ABS), Rapid plasma reagin (RPR) dan Venereal disease research laboratory test (VDRL). Deteksi dan penanganan sedini mungkin akan sangat bermanfaat untuk mencegah penularan ke janin.

Pada bayi baru lahir, jika dicurigai adanya infeksi sifilis, pemeriksaan plasenta dapat dilakukan disertai dengan pemeriksaan fisik bayi terhadap adanya gejala pada organ tubuh. Pemeriksaan fisik bayi mencakup:

  • Sinar-x pada tulang
  • Pemeriksaan mata
  • Pemeriksaan mikroskopis terhadap bakteri sifilis
  • Tes darah (sama seperti pada ibu hamil).

Bagaimana menangani kasus sifilis kongenital pada bayi?

Pada ibu hamil, penanganan hanya akan efektif jika infeksi sifilis terjadi pada fase awal dengan pemberian antibiotik spesifik penisilin oleh dokter. Penanganan sifilis fase lanjut akan sangat berbahaya bagi janin sehingga dapat menimbulkan reaksi aborsi spontan.

Jika bayi telah dilahirkan, penanganan infeksi juga menggunakan antibiotik spesifik oleh dokter sedini mungkin pada 7 hari pertama setelah dilahirkan. Regimen pemberian obat antibiotik juga akan bergantung pada kondisi berat badan bayi serta riwayat infeksi dan pengobatan dari ibu hamil.

Gejala akhir pada bayi usia lanjut hingga anak-anak pemberian obat antibiotik kemungkinan juga masih diperlukan dengan pengurangan dosis antibiotik secara bertahap dan juga disertai dengan pengobatan spesifik pada organ tubuh lainnya yang mungkin terkena dampak infeksi seperti mata dan telinga.

Bisakah sifilis kongenital ini dicegah?

Infeksi sifilis kongenital sangat bergantung pada kondisi dan riwayat infeksi ibu hamil. Menerapkan perilaku seksual yang aman sebelum masa konsepsi dapat menghindarkan diri Anda dari infeksi dan risiko untuk menularkan sifilis. Jika merasa berisiko mengalami infeksi sifilis segera periksakan ke dokter. Penanganan sedini mungkin dapat menghindarkan infeksi sifilis pada fase lanjut.

Pemeriksaan pada ibu hamil juga harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama kehamilan. Pemeriksaan juga harus dilakukan kembali jika ibu hamil terdiagnosis oleh penyakit menular seksual lainnya selama masa kehamilan.

Peluang untuk sembuh bagi ibu dan bayi terhindar dari infeksi sangat besar jika sifilis terdeteksi dan diobati sejak dini. Dalam beberapa kasus, sifilis yang ditangani saat masa akhir kehamilan dapat menghilangkan infeksi pada ibu hamil namun gejala infeksi sifilis tetap dapat terlihat pada bayi baru lahir.

Sumber
Pantau Perkembangan Janin Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan janin dalam kandungan.
Error message goes here
Pantau Bayi Saya
Tak tahu kapan akan melahirkan? Hitung di sini! *Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anda hamil [num] minggu! Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Kapan hari pertama menstruasi terakhir Anda?
Hitung!
Error message goes here
Anda hamil [num] minggu! Perkiraan Melahirkan: [num] Dapatkan info setiap hari, sesuai dengan kebutuhan pribadi Anda dan bayi.
Error message goes here
Pantau sekarang!
Hitung ulang!
Yang juga perlu Anda baca